artikel kartun
G.M. Sudarta (kartunis oom pasikom) : Pengalaman Spiritual menghantar kepada Hidayah islam
Journey to Islam Oleh : Redaksi 18 Sep 2006 – 6:15 pm
Islam bagi saya adalah Agama yang memiliki toleransi tinggi
Nama saya Geradus Mayela Sudarta, biasa disingkat G.M. Sudarta. Saya lahir pada hari Rabu Kliwon di Desa Kauman, Klaten, Jawa Tengah tepatnya pada 20 February 1948. Saya putra bungsu dari pasangan Hardjowidjoyo dan Sumirah.
Keluarga besar saya, separo Katolik dan separo Islam. Ayah saya Islam Kejawen atau kebatinan, sedangkan ibu saya muslimah. Sejak kecil sebenarnya saya sudah bersyahadat, tapi dalam bahasa Jawa. Meski kemudian ketika menjelang remaja saya dipermandikan (dibaptis). Ini mungkin karena pengaruh adik-adik ayah (paman) yang beragama Katolik.
Saya sering ikut ke Gereja bersama mereka. Karena seringnya ke Gereja, saya pernah berujar, “Mendengarkan lagu Gregorian itu sama indahnya seperi mendengar Adzan.”
Walaupun saya sudah dibaptis dan sering diajak ke Gereja, namun saya seperti tidak beragama Kristen Katolik saja, saya juga merasa sudah begitu akrab dengan agama Islam. Ibu dan saudara-saudara ibu, juga berasal dari keluarga muslim, jadi dapat saya katakan saya sudah begitu akrab dengan Islam.
Ketika saya di SMP saya bahkan pernah menjadi Ketua Rating PII (Pelajar Islam Indonesia) di sekolah. Ketika SMA, saya terlbat dalam pendirian Teater Akbar bersama Deddy Soetomo. Kebetulan, anggotanya kebanyakan dari PII. Teater yang saya dirikan sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam).
Teater kami sering membawakan naskah-naskah karya ARifin C. Noer, salah satunya adalah naskah yang berjudul Amniah. Naskah ini sering kami pentaskan. Bahkan dalam Kongres PII, Teater Akbar menjadi juara pada festival seninya.
Akibat kemenangan ini, sebuah surat kabar terbitan Semarang menulis, tidak semua anggota Teater Akbar orang muslim. Posisi saya dalam teater ini menjadi serba salah. Padahal saya hanya penata panggung dan kadang-kadang figuran. Pernyataan surat kabar ini pastilah ditujukan kepada saya.
Bagi saya, ini bukan masalah, dalam hal ini saya beruntung dibela oleh sastrawan O’Galelano. Menurutnya yang penting adalah estetika nya. Muslim atau bukan, yang penting bagus.
Selain aktif di dunia teater, saya juga bergaul dengan teman-teman muslim. Dari sanalah saya mulai membaca buku tentang keagamaan. Selain itu, saya juga membaca buku-buku Tan Malaka dan sejenisnya, serta buku yang lebih bersifat eksistensialis. Saya selalu bertanya, sehingga saya makin berfikir untuk mencari sebab dan akibat kehidupan.
Saya hidup untuk apa ? apalagi anggota Pelukis Rakyat banyak mempengarushi saya, sehingga saya bersimpati pada perjuangan mereka, karena ada sebagian anggota yang ikut menjawab pertanyaan saya. Tapi, itu tidak begitu lama. Akhirnya saya terus berfikir untuk mencari tahu. Saya pernah berfikir, Tuhan ada atau tidak ada, tidak menjadi soal.
Sering Ziarah
Untuk menjawab itu, saya sering pergi kebeberapa makan Sunan (Wali). Saya sering tidur di makam Syekh Maulana Yusuf di Banten, makam Sunan Kudus, bahkan sampai ke Gresik. Namun, pertanyaan itu makin gencar dalam hati saya, walaupun saya sadar tidak akan terjawab. Saya banyak mencari-cari terutama hal-hal yang musykil.
Perjalanan ziarah itu bukanlah untuk mencari apa-apa. Bahkan saya tidak tahu untuk apa. Pertanyaan itulah yang menuntun saya mengunjungi atau menziarahi makam para sunan, bahkan sampai tidur disana. Yang jelas saya mencari pertanyaan yang tidak pernah terjawab tentang Tuhan.
Dari perjalanan mengunjungi makam para wali itu, saya pernah mengalaim kejadian aneh. Di saat saya mengunjungi makan Syekh Maulana Yusuf di Banten, saya di datangi seorang Arab berbaju putih dan bersorban, dengan logat yang kaku ia berbicara tentang nabi Isa AS. Orangnya pintar sekali.
Selanjutnya orang itu menjabat tangan saya, anehnya bau wanginya selama satu minggu tidak hilang, walaupun sering saya cuci. Dari situ saya mencari orang itu sampai ke Kudus dan tempat lain. Saya mencari orang itu tapi tidak ketemu.
Walaupun saya bukan seorang muslim, namun mengunjungi makam para wali sangat berarti bagi saya. Selain mencari jawaban atas hakikat hidup, sekaligus juga untuk mencari inspirasi dalam usaha kerja saya sebagai seorang kartunis (Aktif dalam Harian Kompas http://www.kompas.co.id , Red).
Dari perjalan ziarah inilah, saya menemukan kedamaian dan ketenangan. Banyak hal yang saya temukan. Yang jelas saya kini mendapatkan ketenangan. Walaupun saya masih dalam tahap mempelajari Islam, namun saya sudah mendapatkan karunia itu. Oleh Tuhan saya dititipi sepasang anak kembar.
Dari semua itu semakin menyadarkan saya, bahwa pegangan yang sederhana tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa adalah agama. dan doa kita itu pasti diterima dan dikabulkan Tuhan.
Agama, inilah jawaban yang saya terima dari perjalanan saya mengunjungi makam para wali untuk mencari hakikat hidup. Saya benar-benar disadarkan akan pentingnya sebuah pegangan hidup; Agama – yang menjadi pegangan mengarungi lautan kehidupan.
Masuk Islam
Dari apa yang telah dititipkan Tuhan pada saya — sepasang anak kembar — saya kembali disadarkan oleh rasa keberagamaan saya. Aryo Damar, anak saya yang laki-laki, sejak berusia tiga bulan sampai sekarang, bila ada azan Magrib di televisi, ia tidak mau melepaskan diri dari depan kaca televisi. Kalaupun sedang menangis, ia berhenti dahulu untuk mendengarkan adzan. Kejadian ini saya rekam dan saya abadikan dalam kaset video. Kelakuan anak saya ini semakin memperingatkan dan membuat saya yakin bahwa pegangan paling sederhana dan mempunyai kekuatan adalah Agama.
Akhirnya, saya putuskan untuk menerima apa yang terjadi pada diri saya. Saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslim, dengan kata lain menerima Islam. Perpindahan saya menjadi seorang muslim ini disambut baik oleh teman-teman saya dan mereka memberi beberapa buku agama, tafsir Al-Qur’an dan buku Fiqih Sunnah karya Saayid Sabiq lengka 12 jilid. Bahkan yang aneh ada teman saya yang memberikan AL-Qur’an jauh sebelum saya mengucapkan dua kalimah syahadat. Mungkin ia sudah mendapat firasat.
Selain itu, banyak pula teman-teman saya yang menyatakan penyesalannya atas keputusan saya itu. Mereka menyesali perubahan yang terjadi pada diri saya. Namun itu tidak membuat saya mundur. Saya tetap berkeyakinan untuk menjadi seorang muslim.
Islam bagi saya adalah agama yang memiliki toleransi paling tinggi. Dengan Islam saya menjadi lebih mantap memastikan pegangan hidup. Kini saya banyak belajar dari istri untuk mendalami agama terutama belajar Al-Qur’an. Selain kepada teman-teman saya juga sering mendiskusikan dengan para tokoh agama . Hal ini saya maksudkan untuk memantapkan keimanan saya. (Hamzah, mualaf.com)
Karikaturis GM Sudarta (kiri, duduk) melakukan acara tanya jawab mengenai buku terbarunya berjudul: Reformasi: Sejak Tumbangnya Orde Baru sampai Lahirnya Reformasi dalam Kartun, terbitan Penerbit Kompas, Selasa (29/8), dalam acara Pesta Buku Gramedia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat. Selain melakukan demo menggambar, berbagai pertanyaan dilontarkan oleh pengunjung pameran, mulai dari yang bersifat teknis sampai dengan pengalaman tentang suka dan duka saat gambar karikatur termuat di koran. Beberapa pengunjung juga terlihat meminta tanda tangan GM Sudarta untuk dibubuhkan ke dalam buku yang dibelinya.
Nyaris Dipecat gara-gara Mengkritik lewat Kartun
SRAGEN- Maestro kartunis Indonesia GM Sudarta punya standar sendiri dalam menimbang bobot kritik lewat kartun. Jika yang dikritik lewat karyanya ternyata marah, itu berarti misinya tidak berhasil. Sebab, kartun harus lucu, tidak sarkastis (kasar), dan mempunyai pesan tertentu untuk perbaikan.
”Kalau yang dikritik marah, berarti saya merasa tidak berhasil,” tutur GM Sudarta, saat menyampaikan ”Hidup Cara Jawa” di Pendapi Sukowati Jl Dr Wahidin No 9 Sragen, Sabtu (24/12) petang.
Saat tampil di Sragen, GM Sudarta kelahiran Klaten 55 tahun silam itu mengusung klenengan Laras Madya atas undangan sesepuh Komunitas Pendapi Sukowati Agus Fatchur Rahman SH.
GM Sudarta mengakui, setiap kali membuat kartun berisi kritik, dirinya selalu tidak pernah terus-terang, tetapi harus melingkar-lingkar dan baru bisa dipahami. ”Kartunis barat pun mengakui, kalau kartunis di Indonesia tidak pernah terus-terang dalam menuangkan kritik lewat kartun,” tutur kartunis harian Kompas tersebut.
Dengan cara tidak langsung itu pun, masih banyak pihak yang marah karena merasa dikritik.
Padahal, dia berharap penerima kritik (pengambil kebijakan) yang melihat kartunnya di harian nasional terkemuka itu bisa tersenyum, kemudian melakukan suatu perbaikan atau perubahan.
Agar Dipecat
Namun tidak semua yang dikritik tersenyum, ada juga yang malah marah. Salah satu kartun yang membuat heboh, ketika dia menorehkan kartun seorang dokter berkaca mata hitam mirip Zorro, berkata kepada pasiennya, pilih harta atau nyawa dengan menunjukkan peralatan suntiknya.
Kala itu, segala jenis obat-obatan naik tajam, sehingga biaya berobat ke dokter cukup tinggi. Tetapi dampak karya kartun itu sungguh luar biasa. Sebab, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat berkirim surat ke kantor meminta dia dipecat.
Kemudian, GM Sudarta menguraikan kisah kritikannya lewat kartun untuk para petinggi. Dia mengatakan, mantan Presiden BJ Habibie tidak marah terhadap kritiknya, tetapi juga tidak peduli. Mantan Presiden Megawati merasa sering dipojokkan lewat kritik pers. Pernah pula karena kartun itu, dia didatangi seseorang berambut cepak yang menemui di kantornya sambil menepuk-nepuk sesuatu di pinggang untuk mengitimidasi. ”Yang ditepuk-tepuk itu mungkin sejenis senjata,” katanya sambil tersenyum.
Pengalaman yang lain, ketika mengkritik Badan Pengelola dan Penyangga Cengkih (BPPC) yang dikelola Tommy Soeharto. Dalam kartunnya, GM menggambarkan orang setelah mengisap rokok kemudian muntah-muntah sampai nyaris mati, tetapi tetap menyebut kalau cengkih tetap nikmat dan harum baunya. Setelah kritik itu muncul, kemudian ada perubahan BPPC.
Ada pula seorang pejabat minta kopi kartun untuk dipakai membuat cendera mata dari piring keramik yang dibagikan kepada kolega pejabat itu. Tidak dipungkiri, karya kartun GM Sudarta bisa membuat orang marah, dongkol, mengernyitkan kerut kening, tersenyum bahkan tertawa terbahak.(nin-36s)
ANTARA TAWA DAN BAHAYA:
DUNIA PARA KARTUNIS
Tahun 2006 ini setidaknya dua kali berlangsung “peristiwa kartun” yang menimbulkan kebisingan. Pertama, kartun dalam sebuah tabloid di Denmark yang dianggap menghina agama, dan telah mengakibatkan gelombang protes di berbagai belahan bumi; kedua, kartun Presiden RI dalam sebuah tabloid di Australia, yang juga menimbulkan keberangan sejumlah pihak di Indonesia.
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Patut diperhatikan, perdebatan yang begitu panas dan gawat, tidak pernah berlanjut dengan perbincangan yang memadai perihal kartun itu sendiri. Berdebat tanpa pemahaman tentu saja sangat berbahaya, apalagi jika bahaya yang mengancam adalah hilangnya nyawa.
Sebegitu jauh, kesadaran mengenai peran dan jasa kartun bukannya tidak ada di Indonesia. Pada 13 Maret 2000 misalnya, telah diterbitkan seri prangko yang memuat lima tokoh kartun surat kabar dari berbagai tempat di Indonesia. Itulah Panji Koming karya Dwi Koendoro dalam Kompas di Jakarta; Pak Tuntung karya Basuki atau Hu Wie Tian dalam Analisa di Medan; Mang Ohle karya Didin D. Basoeni dalam Pikiran Rakyat di Bandung; Pak Bei karya Masdi Soenardi dalam Suara Merdeka di Semarang; dan I Brewok karya I Wayan Gunasta alias GunGun dalam Bali Post di Denpasar, Bali. Keberadaan prangko tokoh-tokoh kartun ini jelas merupakan suatu pengakuan yang penting terhadap eksistensi para kartunis dan karyanya, karena dengan ilustrasi “risiko pekerjaan” yang telah disebutkan, terbukti dunia para kartunis tidaklah hanya berhubungan dengan tawa -melainkan juga dengan bahaya, yang mau tidak mau harus dihadapi, tak lebih dan tak kurang demi terciptanya dunia yang lebih baik.
Bahaya, tentu, bukanlah keadaan yang dikehendaki para kartunis, tetapi tidak bisa disangkal bahwa pekerjaan “melucu sekaligus menyindir” ini betapapun adalah pekerjaan yang selalu berhadapan dengan kemungkinan terdapatnya ancaman bahaya. Suatu “kesalahan” bisa berakibat fatal. Ibarat badut, mereka melawak di atas seutas tali, dan itu bukanlah pekerjaan bagi sembarang manusia.
Nah, apakah masih bisa ditolak bahwa profesi kartunis itu sungguh unik dan menarik – terutama jika memperhitungkan risiko yang tidak selalu bisa diduga kapan datangnya? Dalam serial Dunia Para Kartunis ini, Intisari tidak hanya menemui para “kartunis prangko” yang telah disebutkan, melainkan juga sejumlah kartunis lain, agar terdapat pengenalan lebih baik atas wacana yang akrab, tetapi cukup jarang dipelajari ini.
Goresan Karikatur Banjir Non-O Buahkan Penghargaan
Oleh
Romauli
JAKARTA – Sudi Purwono (Non-O), karikatur Harian Umum Sore Sinar Harapan, untuk keempat kalinya kembali membawa harum media ini. Pria kelahiran Bandung 27 Mei 1954 ini meraih Juara 1 Karikatur Terbaik yang diselenggarakan Institut Anugerah Mohammad Hoesni Thamrin PWI Jaya tahun 2006-2007, Kamis (13/9).
Dalam penganugerahan itu, yang antara lain juga didukung oleh perusahaan Riaupulp, Sudi membawa pulang hadiah trofi dan sebuah sepeda motor. Sudi menang mengungguli nominator yang lain atas karyanya yang menggambarkan situasi banjir di Ibu Kota yang kemudian diperburuk dengan menculnya penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) dan leptospirosis.
Tapi, dengan rendah hati, Sudi mengatakan keberhasilannya itu bukan hasil karyanya sendiri, namun juga berkat dukungan redaksi dari Sinar Harapan.
“Keberhasilan saya ini tidak saya peroleh sendiri, tapi juga karena kepercayaan redaksi Sinar Harapan yang memberi saya tempat untuk menyumbangkan ide-ide dan pemikiran tanpa batas. Hubungan baik dengan wartawan juga menjadi motivasi saya,” katanya sesaat setelah bertemu dengan Pemimpin Redaksi Sinar Harapan, Kristanto Hartadi, Jumat (14/9) di redaksi SH.
Di dalam gambar karikaturnya, Sudi mengikuti perkembangan pemberitaan yang terjadi di Jakarta ataupun nasional. Ayah dari Satrio Sih Pinandhito (18) dan Cininta Kalyana (15) ini mengaku risih melihat sikap para aparat dan pejabat di pemerintahan Jakarta, dirinya ingin mengoreksi kebijakan pemerintah. Untuk itulah, lewat karikaturnya Purwono selalu menceritakan sekelumit persoalan di Ibu Kota. Seperti banjir, pengangguran, transportasi termasuk kebijakan pemerintah menaikkan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok.
Terinspirasi dari kematian tetangganya yang gantung diri karena tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup, Sudi menggambar karikatur bertuliskan kenaikan harga sembako di mana huruf O pada kata ”Sembako” dibentuk seperti borgol yang mencekik leher.
Dengan karya-karyanya Sudi berharap dapat membantu membawa perubahan lebih baik di negeri ini. Kendati diakuinya, mengubah Jakarta ke arah yang lebih baik tidaklah mudah. “Karikatur saya mungkin tidak bisa mengubah dunia. Tapi, saya berharap karya ini dapat mengingatkan pemerintah atau sebagai kontrol terhadap kebijakan yang ada,” katanya.
Ilustrasi Cemplon
Pengalaman berkarikatur dikatakan Sudi berawal dari ilustrasi rubrik Cemplon, di Sinar Harapan sebelum dibreibel yang diasuh Umar Nur Zein (almarhum). Pria yang juga mencantumkan nama Non-O dalam karyanya di sejumlah media cetak lain seperti sebagai kartunis lepas di Kompas Minggu ini adalah STSRI ASRI Yogyakarta Jurusan Seni Reklame (sekarang Desain Komunikasi).
Sudi memulai membuat ilustrasi di majalah lokal Djaka Lodang Yogyakarta yang kemudian menyebar ke hampir banyak media di Jakarta.
Tahun 1997 hingga 1998 dirinya pernah bekerja sebagai asisten animator di Perusahaan Animasi PT Anima Indah. Lewat perusahaan animasi pertama di Indonesia ini, dia pernah membuat animasi berupa iklan layanan masyarakat tentang tata cara pencoblosan yang kemudian ditayangkan di stasiun pemerintah TVRI.
Sebelum menjadi karikatur tetap di Sinar Harapan, pada 1979 Sudi memulainya sebagai kartunis lepas. Kariernya sempat ikut bergoyang saat Sinar Harapan diberedel. Setelah reformasi, kembalinya Sinar Harapan memberinya tempat kembali menuangkan idenya melalui gambar hingga saat ini.
Dia mengatakan, dalam sehari dirinya mampu menggambar satu hingga tiga karikatur. Jika dikumpulkan selama sebulan, tidak terhitung berapa karikatur yang berhasil dibuatnya.
Senior yang dikaguminya Pramono mengatakan sudah saatnya, Sudi membuat pameran karikatur sendiri. “Sayang, saya orangnya malas. Tidak mau mengumpulkan karya sendiri. Memang ada rencana untuk menyelenggarakan pameran karikatur sendiri, tapi entah kapan waktunya belum pas,” katanya.
Kendati belum mampu menyelenggarakan pameran sendiri, penghargaan dan kepercayan yang diberikan pada suami Usdekawati ini mempunyai arti tersendiri. Pria yang menghabiskan waktu kecilnya di Solo ini sangat bangga menceritakan kegiatannya pada Oktober 1994 silam. Sudi dipercaya mewakili Indonesia mengikuti Pameran Kartun ASEAN V di Jepang yang diadakan oleh The Japan Foundation wakil dari Indonesia.
Ada juga penghargaan yang diraih antara lain Karikatur Terbaik Lomba Lingkungan Hidup pada tahun 1986, Juara II Karikatur Pendidikan yang diselenggarakan Depdiknas pada tahun 1987, Juara I Karikatur terbaik yang diadakan Kejaksaan Jakarta pada tahun 1989.
Pada 1990, ia meraih Juara I Lomba Penulisan Humor yang diadakan majalah Kartini, tahun 1992, meraih Piala Adinegoro dari PWI Jaya.
Pada tahun 1994, ia meraih penghargaan sebagai karikatur terbaik Piala MH Thamrin dari PWI Jaya.
Pria yang pernah menjabat Ketua Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) periode 1994-2004 ini pernah meraih penghargaan serupa sebagai karikatur terbaik Piala MH Thamrin dari PWI Jaya pada tahun 1997-1998 dan tahun 2003 juga di Sinar Harapan. n
11 09 2007 KOMIK, karikatur dan Kartun (selanjutnya disebut K-3) merupakan salah satu bentuk imajinasi yang diaktualisasikan dalam rangka gambar. Proses pembuatan dari ketiganya secara sederhana: berupa bentuk khayalan baik itu mengenai manusia itu sendiri, hewan, tumbuhan, alam ataupun hal yang tidak terjangkau oleh akal seperti mahluk luar angkasa ataupun gaib sekalipun yang dimediasikan lewat tangan, pulpen/patlot, kertas, cat gambar–walaupun sekarang semuanya bisa dikerjakan langsung lewat media komputerisasi sehingga terbentuk sebuah coretan dalam rangka gambar.
Dengan segala atributnya, ketiga bentuk rangka itu menjadikan K-3 sebagai sebuah seni sastra yang paling ‘unik’ dan sejenis dibanding dengan seni sastra lain seperti lukisan, patung, drama dan berbagai jenis tulisan: novel, cerpen, puisi dsb.
Mengapa penulis memasukan ketiganya dalam bentuk katagori seni sastra, karena kriteria karya sastra meminjam Goldman (1981:55-74) dalam salah satu esainya, merupakan salah satu bentuk ekspresi pandangan dunia (apapun itu bentuk medianya) secara imajiner dan dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia itu, pengarang bisa menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi secara bebas. Dengan begitu bisa disebutkan bahwa K-3 merupakan salah satu genre seni sastra yang termodifikasikan lewat gambar, melalui bahasa non-verbal. Dan mereka para animator adalah penciptanya. Dia menuangkan ide-ide segarnya secara bebas, menarik, tentang sesuatu yang belum ada (cita-cita), kontradiktif, misterius, kadang serius dan sekaligus menggelitik tentang hal-hal yang ada di luar dugaan manusia saat itu.
Kadang karenanya (terutama dalam kartun) berbagai discovery bisa diwujudkan—-sekadar contoh, sekarang ini telah berhasil dibuat cairan plasma yang bisa merekat seperti digunakan Spiderman dalam kartunnya, serta berbagai macam alat teknologi seperti dalam film-film kartun yang bernuansa futuristik, di mana itu sekarang sedang diwujudkan.
Bukan itu saja, nilai-nilai tradisi dan budaya yang selama ini tidak dirasa cocok dan mengakar kuat dalam suatu masyarakat (seperti yang tergambar dalam komik ataupun kartun Jepang secara mayoritas), bisa disebutkan sebagai icon dari adanya caunter dalam bentuk gambar itu, terhadap kehidupan budaya yang dijalani. Serta gambar-gambar (coretan tangan) koran ataupun majalah yang sering terlihat dalam bentuk karikatur-karikatur lucu sekaligus kritis (biasanya di halalam atas opini-koran), menandakan masih perlunya eksistensi dari gambar moral ataupun politik terhadap kehidupan realitas yang begitu lemah dan tidak layak kita tiru. Secara keseluruhan, nilai-nilai itulah yang kiranya apabila ditafsirkan akan terus melekat pada setiap komik, karikatur dan kartun di Indonesia dewasa ini.
Namun terlepas dari itu, muncul pertanyaan besar apakah ketiganya mesti memiliki pesan? tentu saja tidak. Kadang K-3 tidak perlu dimaknai apa-apa: sebagai bentuk kreativitas, keterampilan, kesenangan dan luapan hati serta tanpa ‘rekayasa’ sang animator. K-3 pula hadir begitu saja dibenak para animator untuk diperlihatkan; tanpa dikaitkan dengan masalah teknologi, sosial, politik ataupun budaya–walaupun dibalik ceritanya pasti menggunakan aspek-aspek tadi.
Karena K-3 pertamanya diidentikkan cuma sebatas sebagai sebuah hiburan bagi si Upik. Ataupun cuma wujud kreativitas seseorang untuk memperlihatkan gerak hidup manusia, hewan, tumbuhan yang tergabung dalam alam jagad bumi ini dan Tuhan pada sebuah bentuk imaji: gambar.
Walaupun dalam perkembangannya, memang terasa arah perubahan tujuan dalam pembuatannya, yaitu komsumerisme. Bagaimana perkembangan arus media sekarang yang menyediakan ketiga bentuk gambar itu untuk bersaing dipublikasikan–bukan semata hasil bentuk hiburan diruang yang kosong belaka. Kadang sebagai tindak lanjutnya, bisa diwujudkan dalam bentuk aslinya: seperti mainan-mainan yang sekarang menggejala dikalangan anak-anak. Sebut saja kepanjangan tangan dari itu seperti maraknya film-film kartun Jepang yang mendominasi Indonesia: Bayblade dengan menghasilkan mainan gasingnya, Lets and Go dengan mobil mainan Tamiyanya, Crush Gear dengan mobil tarungnya ataupun sejenis mainan lainnya seperti boneka Pooh dari hasil film Winne and Pooh yang dahulu berhasil mendobrak market mainan dunia dengan mudahnya. Semua itu bisa disebut sebagai mediasi sosialisasi produk dengan menggunakan media kartun sebagai ‘nabi’nya.
Perkembangan Komik, Karikatur, Kartun di Indonesia
Sekedar mengantarkan sebuah peta ke hadapan pembaca, penulis melihat bahwa sebenarnya ‘bisnis’ gambar seperti yang diwadahi dalam tiga media di atas untuk di Indonesia sebenarnya tidak atau belum mengalami perkembangan yang cukup serius.
Dimulai dari Komik, sebenarnya tahun 60-an perkomikan di Indonesia pertamanya cukup menjanjkan. Ini terbukti dari hasil yang dibuat oleh komikus Indonesia, seperti oleh Ganes TH dengan “Si Buta dari Gua Hantunya”, Indri Sudono dangan “Petruk dan garengnya”, Jan Mintaraga dengan komik “percintaannya”, RA Kosasih dengan “Mahabrata dan Bharatayudhanya”, Wid NS dengan “Godam dan karakter wajah Indonesianya”, Djair dengan “Kutukan Sangkuriangnya” N.Mintardjar dengan “Naga Sastra dan Sabuk Intennya”, Herman Phatirto dengan “Bende Mataram” dll. merupakan sejumlah komikus perintis Indonesia yang patut dibangggakan hasilnya.
Isi ataupun kualitas cerita dan penyajian dari beberapa komik di atas tidak lah kalah dengan perkomikan dari luar saat ini. Namun karena perkembangan media sekarang ini, baik dari segi penyajian yang menggukan alat komputer, perkomikan Indonesia akhirnya tidak bisa menyaingi derasnya perkembangan zaman. Paling yang sekarang masih bertahan hanya beberapa perkomikan saja di Indonesia. Sebut saja “Legenda Sawung Kampret dan Panji Komeng” yang digawean oleh Dwi Koen, merupakan salah satu komik berkualitas terakhir–bisa dibilang begitu–di Indonesia saat ini. Komik tersebut menurut penulis tergolong serius apabila dibandingkan dengan komik lain (baca komik santai). Majalah Kumkom sebagai sarana sekaligus media komikus dalam negeri yang turut berkiprah menampilkan hasil karyanya merupakan salah satu media terbatas bagi karya-karya komik yang tidak mendapat ruang serius. Dengan munculnya berbagai media komik tersebut diharapkan bisa mewakili terus terpaan angin komikus dalam negri dari luar seperti Jepang.
Berbeda lagi dengan dunia Karikatur, perkembanganya di Indonesia bisa disebut bertimbal balik dengan situasi Komik saat ini. Walaupun kehadiran dunia Karikatur tidak begitu muncul dalam popularitas suatu roduk karya astra, namun dilihat dari segi kuantitas dan kualitas peminat dari Karikatur terutama di setiap Koran sangatlah besar.
G.M. Sudarta sebagai kartunis sekaligus karikaturis di suratkabar Kompas dengan “Oom Pasikomnya” merupakan salah seorang yang sampai sekarang ini masih kuat dengan gambar yang sarat oleh pesan, kritik, estetika dan kadar humornya. Dengan karakter tersebut Sudarta lebih familiar menyebut karikatur dengan sebuah doformasi berlebihan atas wajah seseorang, biasanya orang terkenal, dengan “mempercantiknya” melalui penggambaran ciri khas lahiriahnya untuk tujuan mengejek (Prisma, No.5, 1981: 49-53).
Namun sebagai sebuah karikatur, dalam pandangan Sudarta tidak selalu harus hadir dalam bentuk pesan atau kritik, apalagi dalam rangka yang berlebihan. Kalaupun ada, ia menamakannya dengan katagori editorial cartoon yang biasa disebutnya tajuk rencana dalam versi gambar humor. Ini bisa terlihat, menurutnya di tahun 1960-an karikatur T.Sutanto yang terbit di mingguan Mahasiswa Indonesia, Bandung dan di zaman Orba seperti hasil kartunis-kartunis besar (Sanento, Pramono, Priyanto, Tony Tantra, thomas Leonar, Dwi Koendoro, Yuliman, Mariadi S, Keulman, dll.) pernah juga menjadi sorotan: sebagai salah satu kritikan tajam dengan “membunuh” ’ala senyuman. Jangan dikira perbuatan tersebut tidak menyebabkan hal apa-apa bagi sipembuat karikatur. Tidak lama kita telah dikejutkan dengan penangkapan seorang Pemred Harian Rakyat Merdeka, hanya akibat membuat sebuah karikatur telanjangnya seorang pejabat (Akbar Tanjung) yang dipandang hal tersebut mencemarkan nama baik seseorang.
Oleh sebab itu, seringkali Sudarta memandang bahwa dalam pembuatan karikatur tersebut sang karikaturis jangan terlalu berlebihan yang akhirnya kurang kena sasaran. Sehingga dalam tampilannya bisa mmbuat orang, khususnya yang dikritik dalam gambar merasa terhina ataupun menaruh curiga yang berlebihan.
Etika (baca:kode etik) dalam melakukan kritikan, menurutnya diperlukan pada saat itu agar misi yang dilontarkan sampai dengan selamat dan sejahtra.
Seperti apa yang dalam perkembangannya, karikatur tersebut diperbaharui dengan gaya yang lebih bervariasi. “Doyok” contohnya tokoh yang dipakai Keliek Siswoyo, merupakan salah satu bentuk karikatur berjenis komik singkat (dalam satu strip atau panel) yang memiliki ciri khas tersendiri dibanding karikatur produk lama. Doyok ini hadir di harian Pos Kota, dalam kolom khusus “Lembergar” (Lembaran bergambar Untuk Keluarga) yang meraih ratingnya mencapai tiras tertinggi mencapai 74,9 persen pembaca (Bentara, Kompas 1/11/2002).
Bayangkan, dari sebagian banyak lembaran yang ada di Pos Kota, sebagai harian surat kabar yang bisa mencapai 500.000-600.000 eksemplar pembaca tiap harinya, sebagian besar tertuju pada kolom karikatur buatan Siswoyo ini.
Berbeda dengan Oom Pasikomnya G.M Sudarta, Karikatur Doyok buatan Siswoyo lebih bersipat dialogis yang mengambil setting kebudayaan masyarakat kampung. Dengan gayanya yang khas itu, dia melihat persepsi masyarakat bawah tentang berbagai problema, termasuk masalah politik di Indonesia ini. Dengan begitu ia bisa menetralisir apa yang diharapkan Sudarta dengan kritikan yang tepat guna.
Berbeda lagi dengan komik ataupun karikatur seperti yang dijelakan di atas, Kartun adalah persoalan baru bagi perindustrian film animasi di Indonesia. Perkembangan dunia teknologi informasi, membuat produksi Kartun di Indonesia ‘lesu’ total dibanding dengan negara lain, Jepang contohnya. Berjamurannya film kartun ‘asing’ di Indonesia bisa dilihat di TV-TV ataupun dalam bentuk VCD. Penayangannya pun memiliki jadwal tetap (seperti minggu sebagai hari libur keluarga). Sebut saja film Slam Dunk, Lats and Go, Doraemon, Sinchan, Dragon Ball, Inuyasa, Bayblade, Ditektif Conan, dll. merupakan sejumlah kartun Jepan yang mendominasi film animasi di Indonesia di berbagai stasion telivisi. Ini bisa dimengerti karena dengan keterbatasan keterampilan kartunis Indonesia masih pada relatif sederhana.
Ini bisa terlihat bahwa baru pada tahap tema-tema film kartun Indonesia yang baru bisa muncul, seperti dalam cerita-cerita rakyat ataupun legenda masyarakat Indonesia: Sangkuriang, Ketimun Mas, dll. Itu pun belum di dalam pembuatanya masih tetap memerlukan kepandaian edting pihak asing.
Kartun-kartun itu biasanya diangkat dari sketsa Karikatur ataupun Komik yang ditindaklanjuti pada bentuk animasi. Apalagi untuk sekarang, sesuai dengan perkembangan dunia komputerisasi, bentuk animasi kartun semakin komplek yaitu berupa tiga demensi: bentuk khayalan (dari hasil coretan) sekaligus terlihat nyata yang bisa tergabung dalam ruang dimensi manusia.
Tentu saja perkembangan teknologi itu sulit dijangkau pembiayaannya, selain mengadakan kerjasama dalam pembuatannya. Contohnya film animasi buatan Indonesia yang baru dirilis “Janus: Prajurit Terakhir”. Terinspirasi seperti dari film sejenisnya: Toy Story dan Bag’s Life, film Janus yang disutradarai oleh Chandra Endroputro ini diharapkan bisa menembus dunia kartun, hal ini dalam bentuk animasi di Indonesia. Dengan begitu tuntutan akan ide-ide pembuatan Kartun bisa terus dilakukan, walaupun dalam pembuatanya masih membutuhkan tangan-tangan luar.
DANI WARDANI,
Alumni Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati dan anggota Post Lembaga Pengkajian Ilmu Kesilaman [LPIK] Bandung, yang kini sedang menyelesaikan sebuah buku psikologi remaja
Spirit Berkesenian Eddy HermantoEDDY Hermanto (46), adalah perupa yang memiliki multiprofesi. Selain dikenal sebagai pelukis, ia adalah penulis, kartunis, karikaturis, ilustrator, kurator dan pendidik jebolan Pendidikan Seni Rupa IKIP (sekarang UPI) Bandung. Dalam dunia tulis-menulis ia mengawalinya pada 1980-an sampai pertengahan 1990-an, sebagai wartawan hiburan di koran Mandala. Di dunia hiburan, Eddy termasuk wartawan yang telah ikut membesarkan nama sejumlah penyanyi seperti, Inka Kristi, Merry Andani, dan Nafa Urbah. Selain itu, ia menulis pula sejumlah esai seni rupa di beberapa media massa yang terbit di Bandung dan Jakarta.
Sebagai karikaturis, kartunis dan ilustrator, karyanya juga sering nampang di berbagai media massa, termasuk di harian ini. Adapun sebagai co-kurator (Eddy tak mau disebut kurator), ia sering menguratori karya para perupa yang akan dipamerkan, baik di Bandung, Jakarta dan kota lainnya. Dalam kapasitasnya sebagai kurator, ia adalah kepercayaan kurator Mamannoor. Sebagai pendidik, ia cukup supel dan rendah hati. Dalam dunia pendidikan ia mengawalinya pada 1990-an s.d. 1999 sebagai guru Seni Rupa dan Bahasa Indonesia di SMA Negeri Cibeber, Cianjur. Dan pada 1999 s.d. sekarang ia juga masih dipercaya sebagai pengajar pelajaran Bahasa Indonesia dan Seni Rupa di SMA Negeri 17 Kota Bandung.
Sedangkan dunia kartun ditekuninya sejak 1979 sampai sekarang. Pada 1984 Eddy bersama Budi Riyanto, Rudi St Darma dan Ganda Sumpena, mendirikan kelompok Karung (Kerabat Kartunis Bandung), di Studio Bambang Sapto. Pada 1995 Eddy juga sempat mengetuai Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia). Sementara itu pada 1998 s.d. sekarang ia juga tercatat sebagai anggota Yayasan Jendela Seni Bandung, dan ketua Matra Mata Bandung (2003 s.d. sekarang).
Sebagai perupa, Eddy Hermanto sangat menghayati makna positif kegiatan berkesenian sebagai sumber penciptaan seni yang seakan tak pernah surut. Ia dengan sadar menghidupkan spirit berkesenian untuk mendorong gerak kreatif menuju terciptanya karya seni rupa, karikatur dan tulisan tentang itu. Bagi Eddy berkesenian adalah inspirasi, idiologi sekaligus metode dalam menyikapi hidup dan kehidupan. Karya seninya lahir dari kesenangan dan kebebasannya, mempermainkan persepsi pribadi, fantasi, imajinasi bahkan ilusi dan halusinasi sebagai alat ampuh bagi daya kreatifnya dalam memainkan dekonstruksi, pendistorsian, dan penyimpangan berbagai realitas kehidupan dalam kanvas lukisannya. Itulah rangkaian realitas yang hadir sebagai imaji atau penampakan ikon-ikon dalam narasi rupa karya Eddy Hermanto.
Eddy dalam berkarya juga mengolah distorsi sesosok figur yang diplesetkan secara kreatif, sehingga menghasilkan parodi, menjungkirbalikkan arah logikanya, mengubah fakta jadi fiksi atau sebaliknya. Lukisan-lukisan Eddy belakangan ini muncul dengan tata rupa figuratif realistik. Figuratif dalam arti menampilkan figur-figur yang teridentifikasi secara kasat mata (manusia, binatang, benda-benda atau makhluk campuran manusia binatang), dan realistik oleh kuatnya referensi terhadap struktur realitas tertentu meski dalam bentuk terpiuh, hiperbolis yang cenderung karikatural. Figur-figur tersebut disusun dalam suatu kontelasi yang menyiratkan laku tertentu.
Itulah kesan selintas tentang Eddy Hermanto dan karya-karyanya. Adapun ketika menanggapi keberadaan dunia seni rupa yang secara umum terkesan tak begitu bisa menjanjikan dalam menopang kehidupan, Eddy dengan optimisme tinggi menjawab, “Dalam hal ini kita harus memberi wawasan kepada masyarakat. Masyarakat sebagai bagian dari infrastruktur dituntut harus mampu memahami seni dan bisa mengapresiasi seni. Kita juga harus mampu membuang image “ortodok” dari sebagian masyarakat yang menilai bahwa seni rupa itu “madesu” (masa depannya suram). Apalagi kalau sebuah profesi (melukis) sudah dikait-kaitkan secara finansial. Di negara Barat justru pekerja seni lebih dihargai. Jadi, berusahalah terus meyakinkan masyarakat bahwa seni rupa itu pada prinsipnya sudah sejajar dengan ilmu-ilmu lain, ” ujar suami Siti Rahayu (39) dan ayah dari Intan Agustin (14) dan Raga Gumelar (10) ini.
Sepanjang kariernya sebagai pelukis, 1981 s.d. 2003 Eddy Hermanto telah 23 kali melakukan pameran bersama di dalam maupun luar negeri, dan melakukan satu kali pameran tunggal bertajuk Berkebun Di Atas Kepala di Galeri Bandung pada tahun 2000. Sedangkan pada Maret 2004 Eddy Hermanto telah melangsungkan pameran bersama bertajuk Art Clips menemani Edo Sahir dan Dodo Abdullah di Griya Seni Popo Iskandar (GSPI). Pada 27 Juni 2004 pameran bertajuk Art Clip garapan MatraMata ini kembali akan digelar di Museum Ronggowarsito Semarang. Dalam pamerannya kali ini, akan tampil pula karya Edo Sahir, Dodo Abullah, juga Syah Fadil yang ketika pameran Art Clips di GSPI Maret lalu, sempat jadi kurator bersama Mamannoor. Pameran karya empat perupa Bandung di Museum Ronggowarsito, akan digabung dengan sejumlah karya dari tiga atau empat perupa asal Semarang. (Suhendra Juhara)***
| Friday, 16 February 2007 | |
| oleh Hazmirullah Dipublikasikan di harian Pikiran Rakyat, 14 Mei 2005SEBENARNYA, Panji Koming itu bukan siapa-siapa, sekaligus bukan apa-apa. Di dalam pranata sosial, bisa jadi Panji Koming bukan sosok yang layak diperhitungkan. Ia rakyat jelata. Ya, rakyat jelata yang konon hidup di Kerajaan Majapahit, beberapa periode sesudah zaman keemasan saat Prabu Hayam Wuruk memerintah. Bersama sahabatnya, Pailul, Panji Koming dapat disejajarkan dengan para punakawan, sebuah karakter khas di dalam dunia perwayangan Indonesia. Sama seperti Panji Koming dan Pailul, para punakawan tersebut juga melambangkan orang kebanyakan. Hebatnya, di dalam setiap lakon, karakter mereka mampu mengindikasikan bermacam-macam peran. Terkadang, para punakawan itu dijadikan sebagai sumber kebenaran dan kebijakan yang justru melebihi para dewa.Tak jarang, mereka menjadi penasihat para kesatria. Di dalam lakon, para punakawan juga mampu menjadi sosok pengritik (politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya). Akan tetapi, tak jarang pula mereka cuma menjadi “badut” yang menghibur penonton wayang di dalam sesi “goro-goro”. Oleh karena itulah, para punakawan bukan (sekadar) siapa-siapa, sekaligus bukan (sekadar) apa-apa.Di dalam wayang Jawa karakter punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Di dalam wayang Sunda, karakter tersebut terdiri dari Semar, Gareng, Cepot, dan Dawala. Sementara itu, di dalam wayang Bali karakter punakawan terdiri atas Malen dan Merdah (abdi dari Pandawa) dan Delem dan Sangut (abdi dari Kurawa) Di dalam setiap cerita, secara zahir, para punakawan nyaris tak pernah menjadi pelaku utama. Mereka “sekadar” dimunculkan dalam “sesi” melucu. Padahal, jika dicermati, sebenarnya dalang menggunakan mereka untuk menyampaikan amanat dan filosofi cerita yang saat itu disajikan. Di dalam pranata sosial dunia perwayangan, Semar “hanyalah” pengasuh para Pendawa. Meski demikian, konon, ia merupakan penjelmaan seorang dewa yang Batara Ismaya. Semar divisualkan sebagai manusia jelek rupa, tetapi memiliki kesaktian yang sangat tinggi bahkan melebihi para dewa. Gareng adalah anak Semar yang berarti pujaan atau didapatkan dengan memuja. Nalagareng adalah seorang yang tak pandai bicara. Apa yang dikatakannya kadang- kadang serba salah. Tetapi ia sangat lucu dan menggelikan. Ia pernah menjadi raja di Paranggumiwang dan bernama Pandubergola. Ia diangkat sebagi raja atas nama Dewi Sumbadra. Ia sangat sakti dan hanya bisa dikalahkan oleh Petruk. Bagong (Cepot) berarti bayangan Semar. Alkisah, ketika diturunkan ke dunia, Dewa bersabda pada Semar bahwa bayangannyalah yang akan menjadi temannya. Seketika itu juga bayangannya berubah wujud menjadi Bagong. Bagong itu memiliki sifat lancang dan suka berlagak bodoh. Ia juga sangat lucu. Petruk (Dawala), anak Semar yang bermuka manis dengan senyuman yang menarik hati, pandai berbicara, dan juga sangat lucu. Ia suka menyindir ketidakbenaran dengan lawakan-lawakannya. Petruk pernah menjadi raja di negeri Ngrancang Kencana dan bernama Helgeduelbek. Dikisahkan ia melarikan ajimat Kalimasada. Tak ada yang dapat mengalahkannya selain Gareng. ** SYAHDAN, Panji Koming dan Pailul yang bukan siapa-siapa itu tiba-tiba menjadi siapa-siapa. Keduanya menjadi sosok yang serba serius. Satu hal lagi, di sini, Panji Koming dan Pailul didaulat menjadi tokoh utama di dalam cerita, sesuatu yang (mungkin) berada di luar “kelaziman”. Cerita itu disajikan oleh Studiklub Teater Bandung (STB) di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang Bandung, akhir pekan lalu. Suatu waktu, Panji Koming, Pailul, bersama puluhan penduduk desa berburu babi di pinggiran hutan. Soalnya, babi itu telah merusak tanaman, sumber penghidupan masyarakat desa. Setelah beberapa lama, babi itu pun berhasil ditangkap. Masyarakat pun lega. Panji Koming dan Pailul melepas lelah. Istri mereka datang membawa makanan. Di saat begitu, Panji Koming, Pailul, dan para istri menyaksikan iring-iringan rombongan Tumenggung Layang Kitiran, sang penguasa pada zaman itu. Mereka merampas hasil bumi dari masyarakat sekaligus membawa para gadis untuk “dinikmati” tumenggung. Agaknya, kejadian itu sengaja divisualkan untuk menjadi “pengantar”. Ya, kisah “Panji Koming” yang disajikan STB, malam itu, memang berkisah seputar pemerintahan yang kejam sekaligus korup Tumenggung Layang Kitiran. Sepenggal cerita, sebuah miniatur yang mungkin dapat dinisbatkan kepada Indonesia. Setelah iring-iringan itu berlalu, beberapa saat, kepala keamanan kerajaan, Denmas Aria Kendor, hadir dalam keadaan mabuk berat. Ia hadir bersama salah seorang staf. Ketika ditanya Panji Koming dan Pailul, kepala keamanan kerajaan itu mengaku stres akibat dimarahi Denmas Aria Kendor, sang penguasa pada zaman itu. “Denmas marah karena jumlah calon siswa angkatan pemrakarsa dari desa ini kurang. Dalam waktu singkat, saya disuruh mencari calon-calon siswa itu. Akan tetapi, dalam pandangan saya, tak banyak pria di desa ini yang memenuhi kriteria untuk dijadikan anggota angkatan pemrakarsa itu,” begitu kira-kira ucapan sang kepala keamanan. Tak henti-hentinya sang kepala keamanan menenggak tuak. Untuk apa angkatan pemrakarsa itu? Kata sang kepala keamanan, angkatan pemerakarsa itu diberikan tugas khusus untuk megembalikan kejayaan Kerajaan Majapahit seperti ketika Prabu Hayam Wuruk memerintah. “Mengembalikan masa lalu, mana mungkin!” ucap Panji Koming sekenanya. Sang kepala keamanan berang karena menganggap Panji Koming dan Pailul mengolok-oloknya. Bertambah pusing ia jadinya. Kepala keamanan itu hendak berlalu meninggalkan keduanya. Langkahnya terhenti. Kepada stafnya, sang kepala keamanan mengemukakan ide cemerlang yang seketika ditemukannya. Ya, Panji Koming dan Pailul dijadikan calon siswa angkatan pemrakarsa itu. Di ibu kota kerajaan, bersama sejumlah calon siswa lainnya, Panji Koming dan Pailul digembleng dalam latihan yang sangat berat. Ketika melakukan kesalahan, para instruktur memberi hukuman dengan memukul punggung dan dada calon siswa dengan palu yang sangat besar. Panji Koming dan Pailul tak luput dari hukuman tersebut. Layak Masyitoh di dalam kisah Nabi Musa. Sebagai akhir dari rangkaian latihan itu, para calon siswa angkatan pemrakarsa “dicelupkan” pada sebuah gentong yang berisi air mendidih. Akan tetapi, tak seperti Masyitoh, Panji Koming dkk. tak sampai meninggal. Singkat cerita, tibalah saatnya pengumuman kelulusan. Tumenggung Layang Kitiran secara khusus hadir untuk membacakan pengumuman tersebut. Sang tumenggung ternyata memiliki kebiasaan buruk, yakni pelor (nempel molor). Itulah yang terjadi saat itu. Para pembawa tandu harus membangunkan sang raja untuk memberi tahu bahwa mereka sudah sampai ke tempat dituju. Dengan antusias, tumenggung memerintahkan untuk segera merampas hasil bumi sekaligus memilih para gadis untuk dibawa ke kerajaan. Para pengawal memperingatkan tumenggung bahwa saat itu dirinya tidak sedang “berkunjung ke daerah”, tetapi sedang menghadiri upacara pelantikan angkatan pemrakarsa. Sang tumenggung tergagap-gagap untuk kemudian menyadari kealpaannya. Sepertinya, dengan karakter seperti itu, penulis cerita (Saini KM) dan sutradara (Ign. Arya Sanjaya) berusaha menyisipkan kelucuan pada sosok tumenggung. Sayangnya, gagal. Kelucuan lain (yang diharapkan menuai gelak tawa) juga berusaha disisipkan tatkala sang tumenggung memandu para calon angkatan pemrakarsa berikrar. Ia memenggal kalimat-kalimat ikrar secara aneh. Lakuan itu –sekali lagi– diharapkan menuai tawa. Lagi-lagi gagal. Ya, sudahlah. Setelah itu, cerita sebenarnya yang hendak dijadikan “pusat amanat” bermula. Anggota angkatan pemrakarsa yang baru lulus, termasuk Panji Koming dan Pailul, disuruh menghubungi seseorang yang dapat menyalurkan mereka menjadi “orang”. Terdapat sejumlah pilihan di sana. Ada jabatan birokrasi, pengusaha, dan tentara. Panji Koming yang pertama kali datang. Ia mendatangi orang dimaksud untuk mendapatkan pekerjaan. Ternyata, orang tersebut menetapkan sejumlah tarif kepada Panji Koming. Untuk menjadi bupati, harus menyediakan uang senilai 1000 keping emas, wedana 1500 keping emas. Pun demikian untuk menjadi tentara dan pengusaha. Panji Koming yang tak memiliki apa-apa tentu saja tercekat. Ia pun mengurungkan niat. Pada kesempatan selanjutnya, Pailul datang. Ia berkeinginan menjadi pengusaha. Dan, ia menyanggupi persyaratan. Akan tetapi, bulak-balik bekok. Pailul harus membayar 1.000 keping emas untuk menjadi pengusaha. Sang perantara pekerjaan menyarankan Pailul meminjam uang darinya. Lagi-lagi, Pailul mengiyakan. Pailul meminjam uang senilai 5.000 keping emas. Akan tetapi, jumlah “bersih” yang diterimanya hanya 2.500 keping emas. Ya, 1.000 untuk membayar persyaratan pekerjaan, 1.500 keping emas untuk biaya “ini-itu” kepada pejabat kerajaan. “Tapi, kwitansi yang harus ditandatangani dan akan saya laporkan ke bendahara kerajaan tetap 5.000 keping emas, ya,” kata orang itu. Pailul tetap mengiyakan. Selanjutnya, dalam waktu singkat, Pailul berhasil menjadi pengusaha sukses. Di lain pihak, Panji Koming yang menolak semua itu hanya bisa merenungi nasib. Di dalam kekalutan, ia kemudian menanggalkan semua atribut angkatan pemrakarsa yang ia kenakan. Ia memandang semua tak ada gunanya. Diinjak-injaknyalah atribut-atribut itu. Ternyata, kelakuan Panji Koming itu disaksikan sejumlah aktivis “gerakan bawah tanah”. Panji Koming diculik dan –singkat cerita– ia bergabung dengan gerakan tersebut yang bertujuan merebut kekuasaan. Cerita selanjutnya sudah dapat ditebak. Panji Koming kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Di saat-saat genting, Pailul kembali hadir dan kemudian membebaskan Panji Koming dari tiang gantungan. Tentu saja, keberhasilan Pailul melakukan semua itu bukan tanpa imbalan. Ia memberikan berkantong-kantong uang kepada sejumlah pengawal kerajaan. Kemudian, keduanya kembali ke desa dan memulai kehidupan baru yang jauh dari praktik-praktik korup. ** SEBENARNYA, cerita “Panji Koming” yang dipentaskan itu sarat mengandung satire. Ya, satire kepada sistem pemerintahan negeri ini yang tak kunjung berhasil membasmi praktik-praktik korup di seluruh jenjang. Dalam sebuah tulisannya, Darminto M. Sudarmo, sebuah satire termasuk ke dalam salah satu jenis humor. Melalui satire, amanat cerita disampaikan dengan cara-cara yang dianggap lucu oleh khalayak awam. Namun demikian, tujuan satire sebenarnya adalah menyindir atau mengkritik, dengan muatan ejekan yang lebih dominan. Pun demikian halnya dengan “Panji Koming”. Sayangnya, jalan cerita yang disampaikan terlalu ngayayay. Kata orang Melayu, “manjangi (memanjangkan- pen.) tali kelambu”. Akibatnya, cerita berjalan monoton dan cenderung membosankan. Agaknya, penulis cerita (mungkin juga sutradara) terfokus kepada kerunutan jalan cerita (dengan batasan-batasan waktu). Di dalam “Panji Koming” itu tak terdapat sama sekali “sesi goro-goro” sebagaimana di dalam wayang. Hal itu segera mendapat jawabab sebab pelaku “goro-goro” itu sendiri sudah didaulat menjadi pelaku utama di dalam cerita. Hal ini berbeda dengan pertunjukan wayang. Seperti kita lihat –misalnya– dalam wayang golek, setiap Sabtu malam. Dalang Ki Asep Sunandar Sunarya memerlukan “waktu khusus” (untuk melebarkan bagian-bagian cerita) dengan menampilkan sejumlah punakawan, Semar, Cepot, atau Dawala. Itu tadi, para punakawan “bertugas” menyampaikan amanat, filosofi, simbol-simbol dalam bungkusan humor. Satire itu tadi. Menyaksikan keseluruhan cerita “Panji Koming”, tak heran jika –di dalam tulisan tadi– Darminto menyatakan bahwa bila tak pandai-pandai memainkannya, “jurus” satire bisa sangat membebani dan sangat tidak mengenakkan. (Hazmirullah/ “PR”)*** |
|
|
|||
|
Jul 4, 2007 pukul 11:36:00 AM |
Jakarta Pria itu selalu bertopi ala pelukis Tino Sidin, juga pakai jas resmi layaknya pejabat tapi ada tambalan di kedua sikunya. Komentarnya sering jenaka atau pilon tetapi sesungguhnya pedas. Sosok dalam kartun itu ‘go public’ sejak 1967 lewat Harian Umum Kompas. Kini, sosok itu dikumpulkan dalam buku berjudul 40 Tahun Oom Pasikom, Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007. Oom Pasikom adalah sosok ciptaan GM Sudarta, kartunis Kompas. Berbagai masa pahit sudah dilewati. Nyaris di seluruh hidup Om Pasikom berasa getir. Maklum, tokoh karikatur yang selalu muncul di Kompas sejak 40 tahun lalu ini memang menjadi cermin ajaib bagi seluruh kehidupan sulit di negeri ini. Katanya, Sudarta layak jadi presiden karena namanya mirip Soekarno, Soeharto, dan Susilo. Tetapi, kalau pun tidak kesampaian, sekarang Sudarta juga sudah jadi presiden, Presiden Kartun Indonesia. “Sudarta itu juga cah ndeso (anak desa), katrok. Lha wong, cah Klaten,” kata Butet. Hadirin pun tertawa lepas, mulai dari pendiri Kompas Jakoeb Oetama, mantan Mensesneg Murdiono, sampai novelis Yapi Tambayong alias Remy Sylado. Hanya orang-orang seperti Dubes Jerman Paul Freiherr von Maltzahn atau Yoshiharu Kato dari Kedubes Jepang yang tidak ikut tertawa ngakak. Tetapi kehadiran pejabat dari negeri manca itu cukuplah menggambarkan reputasi Sudarta. Pria kelahiran 20 September 1945 itu tiap dua tahun sekali, sejak 1988, selalu ikut pameran kartun internasional di Jepang. Bahkan, pada 2008 nanti, dia berencana jadi dosen kartun di Universitas Seika, Kyoto. Sudarta di mata Remy Sylado adalah kartunis berani. “Semasa Orde Baru pun, kartun-kartunnya berani,” pujinya. Pada buku ini, misalnya, termuat kartun perdana Sudarta yang terbit 4 April 1967, menggambarkan Soeharto menyapu benteng Orde Lama, PKI, sisa Orde Lama dan vested interest. Hanya dalam tempo tiga bulan kemudian, Sudarta yang memegang penghargaan Adinegoro untuk kategori karikatur dari 1983 sampai 1987, The Best Caricature of Japan 1999, dan anugerah Budaya Adikarsa 2004 dari Dewan Kesenian Klaten ini bikin kartun yang menggambarkan sosok pria besar yang di bagian kepalanya berupa kepalan tangan. Sosok itu diberi label Koruptor, Garong, Penjelundup. Lalu di bawahnya diberi keterangan Ditjari Tindju Jg Lebih Besar. Itu berarti, indikasi korupsi sudah menggejala di awal Soeharto berkuasa. Pada kartunnya 23 Juli 1970, dikutiplah ucapan Soeharto dalam bahasa Belanda, Van Huis Uit Rijk. Arti harfiahnya, dari dulu sudah kaya. Konteksnya adalah ‘pembelaan’ Soeharto terhadap pejabat-pejabat yang terindikasi korupsi. Masa itu memang zaman keemasan bagi kebebasan pers di bawah Orde Baru. Sekadar perbandingan, kartun-kartun di koran Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis, malah jauh lebih berani. Pada edisi 19 September 1970, kartunis Indonesia Raya, Tabarani, menggambarkan betapa Golkar mencuri start kampanye. Masih banyak lagi contoh keberanian kartun di Indonesia Raya. Dan, berkat keberaniannya itu pula Indonesia Raya dibredel, sedangkan Kompas sehat walafiat sampai kini. Jadi, seberani-beraninya berita maupun kartun di Kompas, ternyata tak sampai mengguncang amarah penguasa waktu itu. Ini klop dengan kesaksian Moerdiono ketika ditanya soal pernahkah Soeharto mengutarakan ketersinggungannya pada kartun Sudarta. “Tidak pernah itu. Pak Harto itu saya tahu tiap pagi baca Kompas dan koran-koran lain,” kata Moerdiono. Justru bekas pejabat ‘dangdut’ ini yang pernah merasa tersinggung pada kartun Sudarta. Yakni, ketika tahun 1996, kartun Sudarta menyindir imbauannya agar semua pihak mengencangkan ikat pinggang. Maksudnya hidup irit. Tetapi, Sudarta malah menggambarkan tubuh pria yang bagian perutnya putus, sehingga tidak ada lagi ikat pinggang yang perlu dikencangkan. “Saya ya agak nggak enak itu,” akunya. Peluncuran buku yang dikemas mewah terbitan Gramedia ini diikuti pameran karya GM Sudarta di Bentara Budaya Jakarta mulai 4-12 Juli pukul 10.00-18.00 WIB. Rencananya pameran ini akan digelar di beberapa kota, termasuk Surabaya./Yuli Ahmada |
|||
jango pramarta: “kartunis bukan tukang gambar”
FiGUR, MEDiA, SENi, BALi June 14th, 2007
Di antara puluhan media cetak yang kian marak diterbitkan di Indonesia, berapakah yang mengkhususkan diri sebagai majalah humor atau kartun? Barangkali sebagian besar pembaca yang ditanya akan menggelengkan kepala. Sebagian kecil lainnya, yaitu pembaca yang tinggal di Jawa Bali, akan menyebut nama Bog-Bog. “Padahal, di India ada 17 majalah kartun, di Malaysia setidaknya ada 7, dan di Indonesia hanya ada satu, yaitu Bog-Bog Bali Cartoon Magazine,” kata Jango Paramartha, Business Director Bog-Bog.
Kegelisahan akan profesi kartunis Indonesia makin dirasakannya sejak tahun 1993 ketika berkesempatan menimba ilmu di University of Western Australia (ELICOS). “Di luar negeri, kartunis itu bukan hanya tukang gambar, tetapi bagian dari team researh. Kartun merupakan kajian budaya,” tegasnya. Karenanya, setelah dua tahun menamatkan studi dan kembali ke tanah air, Jango bertekat untuk terus mempopulerkan kartun.
Bagaimana kartun bisa memiliki nilai art yang berharga dan menjadi kegiatan bisnis merupakan misi yang terus dikembangkannya. Di kantornya yang asri, saya berbincang dengan bapak dua anak yang kini memangku jabatan sebagai Ketua Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia).
Setelah kembali dari Australia, langkah apa yang mula-mula Anda lakukan untuk mengembangkan dunia kartun?
Melihat bagaimana orang Australia menghargai kartun, saya terinspirasi membuat kartun tentang Bali. Tahun 1996 saya membuka toko t-shirt di Kuta yang menampilkan Bali dalam kemasan kartun. Bisnis ini saya tekuni hampir 5 tahun dan terpaksa saya tutup karena mahalnya biaya sewa toko di Kuta gara-gara krismon. Biaya sewa yang tadinya cuma belasan juta per tahun, tiba-tiba menjadi lebih dari seratus juta. Sangat nggak masuk akal. Saya pun mengembangkan bisnis lain, di bidang disain grafis, yaitu BOG Design. Sebenarnya latar belakang pendidikan saya memang disain grafis, saya alumni program studi seni rupa dan disain Universitas Udayana.
Tapi hobi bikin karikatur ya?
Ya. Sejak tahun 1991 saya menjadi kontributor harian Bali Post dan sejak tahun 2004 menjadi kontributor theJakarta Post. Dari sanalah saya banyak berdiskusi dengan rekan-rekan wartawan dan budayawan, seperti Oka Rusmini dan Umbu Landu Paranggi seniman yang sempat dijuluki Presidennya Malioboro. Dari mereka saya belajar banyak tentang filsafat budaya. Sampai kemudian saya bertemu dengan Linda Connor, guru besar Antropologi dari University of Newcasttle Australia. Dia meminta saya menjadi asisten di universitasnya. Ketika saya bertanya pada mahasiswa di sana, “Have you been to Bali?” hanya sekitar 5 orang yang mengiyakan, tetapi begitu saya sodori gambar kartun, mereka semua bisa tertawa. Pengalaman ini menyadarkan saya, bahwa kartun itu universal, bisa dipahami siapa pun secara lintas budaya.
Menarik sekali, orang asing telah menempatkan kartun sebagai visual culture sementara kita masih menganggapnya sekedar sebagai gambar lucu. Apa lagi nih pengalaman berharga lain yang Anda peroleh?
Suatu ketika saya mendapat order membuat kartun untuk sampul buku “Being Modern in Bali” karya Adrian Vickers, profesor Antropologi dari Wollongong University. Hanya untuk membuat cover buku saja, saya diajak tinggal di Australia selama 3 bulan. Setiap hari kami berdiskusi tentang isi buku itu. Ternyata modal seorang kartunis bukan cuma kemampuan gambar saja, tetapi juga pemahaman tentang kebudayaan yang mendalam sangat diperlukan.
Ngomong-ngomong apa yang kemudian melatarbelakangi Anda menerbitkan majalah kartun Bog-Bog?
Yang pasti ingin mempopulerkan kartun. Majalah merupakan media yang tepat untuk memperkenalkan kartun secara luas. Setelah hampir lima tahun berjalan, ternyata Bog-Bog makin diminati banyak orang. Bahkan ada yang mengusulkan untuk dijadikan majalah internasional. Begitu juga permintaan merchandise Bog-Bog berupa kaos, gantungan kunci, stiker, dan yang lain makin tinggi. Rencananya kami akan membuka toko khusus merchandise Bog-Bog dalam waktu dekat ini di Denpasar.
Artinya orang sudah mulai menyukai kartun…
Tapi kami tak berhenti di sini. Saya dan para kartunis Bog-Bog terus mencari berbagai terobosan baru dalam memasarkan kartun. Kami mulai bekerjasama dengan Hotel dan Wedding Organizer untuk membuat suvenir pernikahan berupa kartun. Biasanya pernikahan yang diselenggarakan di hotel kan tamu undangannya tidak banyak, paling 200-an orang. Setiap tamu undangan yang datang kami foto dengan kamera digital. Setelah itu ditransfer ke komputer, di-print, kemudian kami buat gambar kartunnya dan dipigura. Jadilah suvenir pernikahan yang ekslusif, para tamu merasa surprise pada saat pulang menerima gambar kartun wajahnya.
Gila, bagaimana Anda bisa mengerjakannya?
Haha, memang proyek gila. Kami mengerjakan hanya dalam waktu 3 jam dengan 8 kartunis Bog-Bog. Kerja kilat, sampai tangan kanannya pegel-pegel semua.
Setelah orang makin akrab dengan kartun, kira-kira apa mimpi Anda berikutnya?
Pengin bikin sekolah. Formatnya sih belum kebayang, tetapi semacam tempat belajar membuat kartun untuk siapa saja dari berbagai usia. Di sekolah itu akan diajarkan bagaimana membuat kartun yang menarik dan memiliki nilai seni. Kartun itu kan merupakan fine-art perpaduan antara rasa dan intelegensia. Sekarang ini, setelah reformasi, banyak kartun yang kebablasan. Cara menyembunyikan humornya kurang cerdas. Kartun yang baik adalah yang minim kata-kata. Sekalipun tanpa kata-kata, kartunis mampu membangun cerita. (Agustus, 2005)
Sejarah Komik Indonesia:
Kepala Tanpa Leher
Oleh Donny Anggoro
”Tidak seharusnya buku komik seperti itu!” –
Scott McCloud dalam Understanding Comics: The Invisible Art, HarperCollins Publishers, New York, 1993.
Lontaran Scott McCloud di awal tulisan ini berpijak pada kondisi sosiologis yang keliru di masyarakat sehingga eksistensi komik melulu dianggap sebagai bacaan anak mutu rendahan, sekali baca lalu dibuang. Tapi, lontaran di atas bolehlah dikatakan sebagai indikasi masih kerdilnya pemahaman masyarakat terhadap komik. Tapi bagaimana dengan komikus lokal kita atau kreatornya sendiri?
Dalam tulisan saya Komik Tak Pernah Mati (Sinar Harapan, 16 Oktober 2004) telah diuraikan komikus Indonesia rata-rata ”bersembunyi” dalam profesi lain misalnya animator film iklan, desainer grafis, dan ilustrator buku/majalah seperti halnya sastrawan yang bekerja sebagai wartawan, copywriter perusahaan advertising, atau editor sebuah penerbitan notabene masih kurang mengeksplorasi kemampuan terbaiknya dalam menghasilkan komik. Alhasil, komik yang ada cenderung senada (kebanyakan manga dan anime Jepang). Atau ketika mengeksplorasi gaya lain, misalnya kartun atau komik Eropa-Amerika, tetap saja terjerembab pada kemiskinan bercerita sehingga walau unggul secara visual cenderung gagal secara naratif.
Memang bukan hal mudah memunculkan semangat seorang pencipta. Para komikus umumnya bekerja sendiri lantaran komiknya dikerjakan di luar rutinitasnya sebagai pekerja. Masa-masa R.A Kosasih, Ganes Th., Hasmi, dan Jan Mintaraga yang bisa hidup sepenuhnya dari membuat komik agak sulit untuk terulang kembali. Konsentrasi komikus kita di masa kini umumnya terpecah antara mengerjakan ilustrasi pesanan dengan membuat komik sebagai pencapaian kreativitas pribadinya. Padahal, tatkala mengerjakan komik, kita mengharapkan seperti halnya kerja seorang penyair yang mampu memisahkan latar belakang dengan karyanya seperti John Keats dalam Sastra dan Psikologi, pada Teori Kesusasteraan yang ditulis Renee Wellek dan Austin Warren (Gramedia, 1990),”…(Diri penyair) adalah segala sesuatu dan sekaligus tidak ada…Seorang penyair adalah sesuatu yang paling tidak puitis di seluruh semesta, karena ia tidak punya identitas-ia terus menerus menciptakan dan mengisi jagad lain.”
Pada hakikatnya karya yang baik entah itu lepas atau tak lepas dari keseharian penciptanya tetap mempunyai ruang yang menurut John Keats ”terus menerus diciptakan dan mengisi jagad lain”. Kesulitan membagi konsentrasi ini seperti dikeluhkan seorang komikus muda kepada saya membuat saya yakin kebanyakan karya komik lokal belum mampu ”mengisi jagad lain” itu.
Sejarah yang Putus
Masalah kurang terbukanya komikus lokal (baca: underground) masa kini dengan disiplin ilmu lain seperti sastra hingga tak menghasilkan cerita yang memikat disebabkan adanya missing link sejarah komik dengan generasi sekarang. Andy Wijaya, pencetus situs KomikIndonesia.com yang belum lama ini sedang berupaya menerbitkan kembali komik klasik Indonesia Gundala dan Si Buta dalam sebuah wawancara melalui e-mail mengatakan, ”Ini bukan semata kesalahan mereka. Komik-komik klasik Indonesia sendiri kebanyakan sudah OOP (out of print) alias tidak diterbitkan lagi.”
Missing link alias putusnya sejarah menjadikan perkembangan komik lokal kita bak kepala tanpa leher. Ia gagal menjadi mata rantai produksi massa namun bergeliat ditandai dengan tumbuhnya pelbagai komunitas komik underground di berbagai tempat. Ia berhasil menjadi indikator kreatif tapi terlepas dari sejarah yang dulu pernah melahirkannya. Perkembangan komik Indonesia seperti ”sakit” dan ”jalan di tempat”.
Kehidupan dan perkembangan komik Indonesia sebenarnya amat ditentukan oleh kondisi kehidupan masyarakatnya. Karna Mustaqim dalam Mari Membaca Komik (situs IndieComic.com, 7 Juli 2004) mengatakan perkembangan komik lokal gagal memikat masyarakatnya sendiri untuk kembali mencintai komik. Senada dengan missing link tersebut, Hikmat Darmawan pengamat komik dalam sebuah diskusi bertajuk Membandingkan (Kebangkitan) Komik Jerman-Indonesia 22 Oktober 2204 di Goethe Institut Jakarta mengatakan, sumber referensi komikus umumnya kurang karena mereka sendiri toh hanya membaca komik. Nah!
Missing link lain yang boleh disebut adalah kurangnya media berbasis komik ataupun mengangkat komik-kartun lokal. Padahal pada tahun 2001 dan 2002 pernah terbit tabloid Komikku dan Komik SAP, majalah KumKom (Kumpulan Komik, terbitan Gramedia 1994), majalah HuMor (1990) yang bermetamorfosis dua kali pada tahun 1980-an setelah berganti nama dari majalah Stop, majalah Eppo (juga tahun 1980-an) dan yang tertua majalah Pop-Comics. Lembergar atawa Lembaran Bergambar suplemen dalam harian Pos Kota sejak pertengahan1970-an sampai awal 1990-an juga tak dapat dilupakan sumbangsihnya dalam sejarah komik lokal dengan menghadirkan Keliek Siswoyo (Doyok), Budi (Otoy) serta tokoh lain yang tak kalah populer seperti Kubil, komik karya Martono, Dhika Kamesywara, dan lain-lain. Ironisnya suplemen ini tiba-tiba jadi ”korban” semenjak krisis ekonomi 1998. Walau kini masih ada tapi tak seramai dulu karena hanya menyisakan dua tokoh saja, yaitu Doyok dan Otoy.
Sampai kini komik strip cenderung kurang berkembang, bahkan dalam industri pers sendiri yang sebenarnya bisa mendukung kehidupan komik strip lokal secara finansial. Kalaupun ada hanya dimiliki grup besar saja seperti Kompas meskipun sesungguhnya jika penerbit sedikit memberi kesempatan, dapat membantu perkembangan komik lokal.
Anehnya, perkembangan kartun dan karikatur yang sebenarnya bersaudara dengan komik cenderung lebih baik ketimbang komik. Perkumpulan kartunis di Indonesia bahkan menjadi sindikat tersendiri seperti Kelompok Kartunis Kaliwungu yang disebut ‘Kokkang’. Sindikat yang bergerak sejak awal 1980-an ketika media cetak memberi perhatian cukup besar pada kartun ini memiliki akses cukup kuat sehingga karya-karyanya mendominasi banyak media massa. (Kartun Berhenti di Kaliwungu, PANTAU, Mei 2001). Para anggota Kokkang pun ada juga yang menjadi komikus. Sebutlah Muchid Rahmat yang kini menjadi komikus freelance di Elex Media Komputindo. Kokkang sendiri pun diam-diam menjelajah mancanegara. Beberapa karyanya ada yang dimuat di Yomiuri Shimbun selain aktif mengikuti festival kartun seperti Nasreddin Hodja Contest (Turki), The Magna Cartoon Exhibition Hokaido Japan, dan lain-lain. Selain Kokkang, ada Pakarti (Perkumpulan Kartunis Indonesia) yang salah satunya dibidani kartunis senior Pramono.
Buku telaah tentang komik atau kartun pun minim. Sampai kini yang baru terbit hanya beberapa judul, misalnya Komik Indonesia (Marcel Bonneff, 1998), Karikatur dan Politik (Augustin Sibarani, 2001), Menakar Panji Koming (Muhammad Nashir Setiawan, 2002), dan Kartun (I Dewa Putu Wijana, 2004). Selebihnya hanya tinjauan singkat yang ”nyempil” sebagai pengantar buku komik dan kartun saja seperti Wimar Witoelar (Lagak Jakarta), Seno Gumira Ajidarma (Sebuah Tebusan Dosa, Teguh Santosa), Goenawan Mohamad (Palestina, Joe Sacco edisi Indonesia terbitan Mizan 2003), dan lain-lain. Ini menunjukkan betapa miskinnya perhatian kita pada komik dalam wacana sehingga tak memunculkan kritikus dan pengamat yang serius.
Komunitas komik walau ada dan tetap berkarya belum sampai mengukir prestasi seperti Kokkang. Komunitas komik masih dipandang sebelah mata sehingga produk mereka belum mampu berdiri sendiri. Untung semangat itu belum surut. Banyak komikus memanfaatkan peluang pasar media yang tersedia sebagai suplemen atau promosi produk dari media lainnya.
Pengaruh Komunitas
Dalam Mari Membaca Komik, Karna Mustaqim menyebutkan komik yang pernah hadir di Indonesia memiliki komunitas penggemar tersendiri. Komu-nitas ini kemudian membentuk pengaruh kepada komikusnya. Misalnya ketika memasuki dekade 70-an hingga 80-an dengan kehadiran komik-komik impor dan terjemahan Barat (Eropa dan Amerika) komik lokal melahirkan tokoh superhero adaptasi Barat (Gundala, Maza, dan Godam) walau di masa itu ada komik wayang R.A Kosasih. Kosasih sendiri bahkan pernah terpengaruh superhero dengan menciptakan superhero wanita Sri Asih. Disusul dekade 90-an hingga saat ini serbuan dari komik terjemahan asal Jepang membentuk pengaruh pula pada komikus. Periodisasi Karna Mustaqin tersebut bukan dimaksudkan sebagai gambaran mutlak. Batasan tahun hanya untuk memperlihatkan adanya perubahan gradual pecinta komik di Indonesia seiring hadirnya komik-komik impor.
Keterpengaruhan komik impor baiklah dapat disebut sebagai indikasi postif dengan munculnya kegairahan komikus mengeksplorasi karyanya sekaligus negatif lantaran komik yang terbit saat itu rata-rata memiliki ciri serupa: superhero (70-an dan 80-an) dan manga (90-an sampai sekarang). Mungkin jika tak terjadi missing link komikus masa kini dapat melakukan ”pemberontakan” seperti Hasmi dan Wid N.S yang membuat komik fiksi ilmiah-superhero ketika di masa itu sedang tren komik silat karya Ganes Th.
Duet Benny Rachmadi dan Mice (dimulai tahun 1998 dengan seri Lagak Jakarta-nya) serta Ahmad ”Sukribo” Ismail yang berhasil ”mengisi jagad lain” dan melakukan ”pemberontakan” sebagai komikus strip muda selain bekerja sebagai illustrator. Agak lama setelah era Benny dan Mice, baru muncul komikus Beng Rahardian (Selamat Pagi Urbaz!) dan trio Ipot, Oyas, Iput (1001 Jagoan) yang karyanya berhasil melicinkan pengaruh referensi komik Amerika dan Jepang sehingga mampu melepaskan dominasi pengaruh anime dan manga sebagai mainstream pasar buku komik Indonesia. Secara acak, nama lain yang berhasil muncul menunjukkan jati diri tanpa pengaruh mainstream bisa disebut Wahyoe (Gibug), Donny (Alakazam) dan Alfi ”Sekte Komik”.
Kehidupan dan perkembangan komik di Indonesia sebenarnya amat ditentukan oleh kondisi kehidupan masyarakatnya. Optimisme bangkitnya komik Indonesia menjelang akhir 2004 ini hendaknya disikapi dengan lebih baik oleh semua pihak sehingga suatu saat komik Indonesia dapat diperhitungkan sebagai produk bermutu sekaligus mempunyai ahli, sejarawan, dan kritikus seperti halnya sastra, seni rupa, atau film.
Angan-angan kelahiran komik Indonesia sebagai renaisans mungkin masih jauh walau tak tertutup kemungkinan kelak terbetik semangat kesadaran baru seperti yang pernah dilontarkan pengamat seni rupa Inggris pencetus istilah pop-art, Lawrence Alloway.*
Penulis adalah editor sebuah penerbit, dan pencinta k
Koran Tempo, Kamis, 5 February 2004
JAKARTA–Seorang pegawai negeri dari Kendal, Jawa Tengah, sejak kemarin sibuk di Habibie Center. Ia bukan ilmuwan, bukan aktivis lembaga itu, dan bukan pula calon anggota dewan legislatif meski Habibie Center sedang sibuk menjual kecap, mensosialisasi pemilu gaya baru Indonesia.
Pegawai negeri itu, Itos Boedy Santoso, sedang sibuk mengurusi pameran kartun. Bukan karena jabatannya sebagai kepala seksi pendidikan kesenian sehingga ia sibuk di pameran ini. Tapi, Itos adalah salah satu pendiri kelompok yang berpameran. Kelompok Kartunis Kaliwungu alias Kokkang.
Tidak dibutuhkan banyak alasan mengapa orang-orang Kaliwungu ini — sebuah kota kecamatan kecil, 20 kilometer dari Semarang — yang berpameran. Anggota Kokkang seperti “menguasai” dunia kartun Indonesia. Malah, di masyarakat kartun dunia pun mulai mengenal.
Kota kecil itu memang memproduksi begitu banyak kartunis, tidak proporsional jika diukur dari jumlah penduduk. Itos pun mungkin tidak pernah bermimpi bahkan kelompoknya menjadi begitu terkenal.
Padahal awalnya sederhana. Itos, yang kuliah di IKIP Negeri Semarang, bertemu dengan teman sekampung sekaligus se-almamater, Darminto M. Sudarmo. Darminto ini seniman “lengkap”. Ia menulis cerpen. Ia menulis esai sastra. Dan, yang terpenting, ia juga kartunis. Gambar lelucon.
Ketrampilan ini ia tularkan ke Itos. Kerja keras Itos rupanya membuahkan hasil. Salah satu karyanya dimuat di majalah psikologi Anda. Majalah yang sudah belasan tahun tidak terbit itu membuat Itos makin percaya diri.
Ia dan Darminto terus berkarya. Mereka, bersama Nurochim, pun mendirikan kelompok yang disebut Kelompok Kartunis Kaliwungu alias “Kokkang” pada 1981. Hingga, suatu ketika, mereka dan Jaya Suprana memiliki ide. “Mengapa tidak pameran di kota kecil,” kata Itos mengenang masa saat itu. Ini terobosan karena pameran kartun biasanya hanya dilakukan di kota besar seperti Semarang.
Selain membuat komposisi musik, menulis esai, atau membuat kartun, Jaya Suprana memang memiliki pekerjaan sampingan sebagai juragan Jamu Djago. Sebagai juragan salah satu pabrik jamu terbesar, dengan gampang ia menjadi sponsor utama pameran di Kaliwungu.
Maka, pada 1982, Itos dan Darminto mengadakan pameran di kampung halamannya. Kota kecamatan kecil Kaliwungu yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari Semarang. Sesuai adat Orde Baru saat itu, mereka menggunakan slogan yang cukup “wah” sebagai tema yaitu “Dalam Rangka memasyarakatkan Kartun dan Mengkartunkan Masyarakat.”
Pameran ini sangat sukses. Tiba-tiba saja sekitar 40 hingga 50 remaja ikut bergabung dengan Kokkang. Pemuda kota kecil yang sebelumnya hanya terkenal karena santrinya itu, rupanya melihat menjadi kartunis cukup trendi. Apalagi, kata Itos mengingat reaksi masyarakat kotanya, “Cuma menggambar begitu kan mudah.”
Memang mudah kelihatannya. Mereka pun mengadakan pertemuan mingguan dan diberi latihan-latihan. Mulai saat itu, kartun yang semula tampak sepele gambarnya menjadi lebih serius. Itos mengajari para remaja itu soal teknis grafis. “Bagaimana cara menggambar, bagaimana perspektif yang benar,” katanya.
Di sini Hukum Darwin berlaku. Seleksi alam berlangsung. “Ada faktor talenta di sini,” kata Itos. Meski kepada para yuniornya ia selalu menekankan pentingnya kerja keras. Tanpa talenta pun, jika rajin berlatih, akan berhasil. “Talenta hanya 30 persen.”
Doktrin ini rupanya berhasil. Keajaiban muncul. Dari kota yang hanya seukuran Cibinong itu, muncul para kartunis yang kemudian merajalela di Indonesia. Hampir tidak ada media massa di Indonesia, yang menyediakan rubrik kartun, yang tidak pernah memuat tulisan “Kokkang” di samping nama pembuatnya.
Itos, dan rekan-rekannya dari Kokkang, juga memiliki prestasi lumayan. Tidak hanya di Indonesia, mereka rajin menjarah sejumlah pameran dan kompetisi kartun dunia. Tak heran Itos pernah meraih anugerah Citation and Honorable Award dari Jepang dan Honory Plaque dari Turki.
Rekannya, Muhammad Muslih, meraih Honorable Mention dari Korea Selatan dan Generale Bank Prize dari Belgia. Begitu pula dengan Asbahar Subhi, Tevi Hanafi, Joko Susilo, dan Zainal Abidin yang pernah meraih anugerah serupa dari Jepang, Korea, dan Turki. Ini memang target Kokkang. Setelah menguasai Indonesia, kata Itos, “Harus go international.”
Saat ini Kokkang memiliki 55 anggota kartunis aktif. Sebanyak 15 orang di antaranya telah hijrah ke Jakarta dan Surabaya, bekerja sebagai kartunis atau desainer media cetak.
Keluarga Itos misalnya. Mereka memiliki delapan anak. Semua anak laki-lakinya, empat orang, terjun menjadi kartunis. Selain Itos, dua orang menjadi kartunis sekaligus desainer halaman media cetak di Jakarta.
Seorang menjadi pedagang, meski tetap sesekali menggambar kartun. Dan Itos sendiri, menjadi pegawai negeri di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, kabupaten yang membawahi Kaliwungu. Jabatannya, kepala seksi pendidikan kesenian. Ini jabatan lanjutan setelah ia memulai karir sebagai guru SMP setelah lulus kuliah pada 1981.
Tidak heran, sejak kemarin Itos libur dahulu dari pekerjaan utama sebagai pegawai negeri. Ia pergi ke Jakarta, menikmati pameran kartun di Habibie Center.
Dari banyak tangan, tidak hanya Itos, Pameran yang berlangsung 4-15 Feburari 2004 ini menampilkan puluhan karikatur tentang pemilu. Tema yang ditampilkan cukup beragam. Mulai ijazah palsu para caleg, jualan kecap nomor satu juru kampanye, repotnya memilih banyak partai, konvoi peserta pemilu, sampai uang haram untuk membiayai kampanye pemilihan.
“Pameran ini bisa menjadi pendidikan politik dan sosialisasi pemilu,” kata Muladi, bekas menteri kehakiman yang memimpin The Habibie Center, memberi komentar yang berbau politik.
Bagi Itos, barangkali, pameran kartun ini membuktikan bahwa ketrampilan kartun itu seperti virus flu burung. Bisa menulari seisi kota.
JITET
- Kartunis ini adalah orang Indonesia peraih penghargaan internasional terbanyak. Masuk rekor MURI, bung!
Jika akhir-akhir ini Anda memperhatikan halaman KOMPAS, akan terasa ada sesuatu yang baru yaitu kartun dan ilustrasi yang lebih segar yang dibuat oleh Jitet Koestana. Setahu saya, Jitet memang baru di KOMPAS. Sebelum pindah ke KOMPAS, Mas Jitet adalah ilustrator di Tabloid SENIOR, anak usaha Kelompok KOMPAS Gramedia juga seperti halnya KOMPAS.
Saya suka sekali dengan gaya Mas Jitet ini dalam menggambar. Karakter ciptaannya sungguh bagus. Lihatlah SENORI, tokoh rekaannya yang terbit di Tabloid SENIOR. Si SENORI ini tampil seperti layaknya manusia biasa, natural. Komposisi ukuran bagian tubuh SENORI ini juga sama dengan manusia sesungguhnya. Ini berbeda dengan karakter rekaan kartunis lain yang kadang melebih-lebihkan ukuran tubuh manusia, ada yang kepalanya sangat besar, perutnya super buncit atau mulutnya super panjang. Mas Jitet memang beda. Ini yang membuat ilustrasi Mas Jitet enak dipandang. Belum lagi kalau ilutrasi itu dibuat berwarna. Sapuan warnanya juga mantap.
Memang, Jitet bukan orang baru di dunia kartun Indonesia. Puluhan kali dia menerima penghargaan internasional. Menurut Suara Merdeka, nama lelaki kelahiran 4 Januari 1967 tersebut pada 1998 tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai peraih penghargaan internasional terbanyak, yakni 36 buah. Saat ini angka itu telah bertambah menjadi 46 (atau sudah bertambah lagi, mungkin?). Beberapa penghargaan yang prestisius antara lain Grand Prize Seoul International Cartoon Festival’’ (1997), ‘’Cordoba International Cartoon Festival (2000), dan yang terbaru Grand Prize ‘’Syria International Cartoon Contest‘’ (April 2005).
Ada yang sama antara Mas Jitet dengan kartunis-kartunis lain seperti A Loekis Haryadi (Seputar Semarang), Leak Koestiya (Jawa Pos), Hanung Kuncoro (TabloidBola), Prie GS (Suara Merdeka), Ramli (Bintang Milenia), dan Erianto Sulistyawan? Mereka semua adalah “lulusan” SECAC atau Semarang Cartoonist Club.

t.h.p berkata
saya salut baget atas perstasi mas jitet..semoga perstasi mas jitet terus bertambah,amien..
fadh rohmannov berkata
Saya dari kecil suka dengan kartun. untuk memebaca sebuah koran terlebih dahulu saya buka halman utama dan kartun baru ke berita yang lain. Kali ini baru tahu sejarah dunia kartun di Indonesia. Aku terlahir di kota Kendal, tentunya dekat dengan Kaliwungu yang notabene Hollywood nya kartun Indonesia. Sewaktu SMA aku punya seorang teman Nazaruddin namanya, duduk satu bangku, kalo pas bete dia sering corat coret gambar kartun. pernah suatu hari aku dan Nazar diserahi untuk menulis sekaligus menghiasi Mading kelas, yang namanya bahasa plesetan lagi ngetren, aku dan Nazar banyak menggunakan kartun dan plesetan. ternyata guru bahasa SMA tidak berkenan sehingga dilarang untuk diterbitkan. Itulah kenangan dengan Nazar, tapi entah dimana Nazar sekarang seandainya dia masih ingat aku ini no aku 081 234 16456.
Iwan Hernanda Razak berkata
Malam..Pak Martono..
Bagaimana kabarnya Pak..?
SMP 212 sudah ditingkat apa belum ?
muridnya masih pada suka berantem nggak ..Pak? he..he..
mantan murid 212
Kartunmartono berkata
Wah, ada juga murid saya yang mampir. Alhamdulillah semuanya lebih baik dari kemarin. Kok bisa kesasar mampir ke blog saya? Main dong ke sekolah
s.bintoro berkata
Salut untuk mas Jitet dengan segudang prestasi international !!!!
musslim berkata
ass. wr. wb. pak saya minta tolong dikirimkan gambar kartun tentang kegiatan perekonomian (peternakan,perkebunan,nelayan,pasar tradisional,pelabuhan,pertanian serta industri) maaf kalo mintanya kebanyakan.. saya sangat membutuhkannya. jika anda tidak keberatan tolong kirim ke email saya. trimakasih atas bantuannya…
Maurine berkata
Pak, saya mahasiswa komunikasi UPN VETERAN JATIM yang sedang menyusun skripsi. Saya mohon bantuan bapak, kebetulan saya mengambil topik mengenai pemaknaan gambar karikatur oom pasikom edisi 19 April 2008. yang ingin saya tanyakan maksud gambar gedung DPR dengan kaitan anak yang menoleh
ke gedung DPR, dan seorang Bapak yang menggandeng anaknya dengan mengatakan “namanya juga TAMAN KANAK-KANAK jadi masih ada yang perlu disuapi” bisa dijelaskan ya Pak ?, untuk referensi saya dalam penelitian skripsi yang saya buat. Terima Kasih jawaban bapak sangat saya perlukan !
kartunmartono berkata
Jawaban saya kirim ke email maurine. Salam hangat
hadi "poer" purnama berkata
Yang terhormat
Mas Martono
Saya baru masuk ke blog Mas, meski sudah “kenal” cukup lama lewat karya di media massa. Dan, hebatnya Mas Martono masih produktif sampai sekarang.
Saya baru saja menyimak tulisan di blog ini. Saya rasa, makin banyak yang nulis di blog tentang kartun, kayaknya makin asik.
Meski tidak seaktif dulu, saya masih ngartun di sela-sela waktu istirahat. Lebih untuk melancarkan jemari. kalo perhatian, kayaknya ga pernah putus. Apalagi di era internet sekarang. Iran cartoon dan Cartoon Blues ga pernah absen saya kunjungi.
Saya juga punya blog (www.kartunbandung.blogspot.com) sekali-kali buka dan komentari juga. matur nuwun
Salam,
hadi POER purnama
bandung
kartunmartono berkata
salam,
saya mengenal kartun mas poer sudah lama karena idenya yang cemerlang. senang bisa berkenalan dengan anda, terima kasih atas kunjungannya. pasti saya akan senang mengunjungi blog teman-teman kartunis yang lain.
tetap, saya tetap mengartun, walaupun eranya nggak seperti dulu lagi. artinya kolom kartun lepas yang disediakan oleh media sudah nggak seramai dulu lagi. untungnya ada beberapa media yang memberi kesempatan untuk mengartun secara tetap. jadi ya alhamdulillah tangan ini masih bisa dilemaskan. salam saya untuk semua teman-teman di bandung. jangan sampai putus tali silaturahim kita.
martono loekito, jakarta
mena berkata
salam kenal pak Martono. dulu Almahumah ibu saya suka sekali dengan kartun2 anda. moga tambah sukses. Amin
L_179 berkata
thankZt, udah bantu bikn artikeL
madara uchiha berkata
saya lebih memilih kartun Panji Koming-nya Pak DeKa, selain yang disampaikan juga kritis dan sarat akan keadaan negeri ini, juga apa yang digambarkan Pak DeKa adalah yang sebenarnya.
Bagi yg gak suka kartun Panji Koming-nya Pak DeKa, orang itu perlu di periksa otaknya,…..
I LOVE KARTUN PANJI KOMING.
Maha berkata
wah keren ilove cartoon…..!!!
triono berkata
sayang budaya membaca di Nusantara kurang didengungkan