GURU ITU BERNAMA DARMINTO M SUDARMO

Mengenal Darminto M Sudarmo pada mulanya adalah ketidakniscayaan bagi saya. Dalam bayangan saya, Mas Dar, demikian saya memanggilnya, adalah sebuah sosok yang menakutkan. Apalagi ketika komentarnya tentang kartun saya yang diduga contekan itu saya baca dalam buku kumpulan kartun Kompas yang diterbitkan oleh Kokkang. Tetapi ketika kemudian saya mengenalnya secara pribadi, kesan tersebut menjadi luntur. Saya bahkan kemudian menganggapnya sebagai seorang guru yang luar biasa dalam perjalanan kekartunan saya. Maka kemudian saya banyak menimba pengalaman dari Mas Dar. Tak ada kontribusi yang lebih besar dalam perjalanan kekartunan saya melebihi apa yang telah Mas Dar berikan kepada saya. Mulai dari kesempatan untuk ikut kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kartun, hingga mengilustrasi buku, dan banyak hal lainnya.

Maka kemudian saya sering bertemu pribadi dengan Mas Dar, berbincang panjang, berteman baik secara pribadi. Bahkan istri Mas Dar dan istri saya saling mengenal baik. Maka kumpulan tulisan Mas Dar ini saya coba koleksi sebagai ujud kekaguman saya (walau dalam taraf merintis dan jauh dari lengkap), agar semua tahu betapa totalitas Mas Dar dalam dunia humor. Terima kasih tak terhingga buat Mas Dar!

Beternak Lawak, Mengapa Tidak?

Tranformasi di bidang seni entertainment bergerak semakin maju dan berkembang. Seni lawak, pada mulanya dikenal sebagai profesi yang dilirik hanya dengan sebelah mata. Kini, setelah negeri ini diramaikan tak kurang dari 11 TV, peran seni lawak yang notabene adalah produsen hiburan dan tawa dirasakan semakin penting.
Tak berlebihan bila profesi ini ternyata juga mampu mendatangkan efek finansial yang cukup besar bagi pelakunya. Itu terjadi karena pelawak tak hanya diapresiasi sebagai peluncur lelucon dan hiburan semata; tetapi sudah merambat naik menjadi public figure atau selebriti.
Sebagai peluncur lelucon atau penghibur masyarakat, pelawak tak hanya menunai hasil dari permainannya di suatu program acara di televisi, ia juga sering mendapatkan job tampil di berbagai tempat di seluruh Indonesia dengan tarif yang tidak murah. Sebagai selebriti, pelawak juga acapkali mendapatkan peran sebagai Pembawa Acara atau MC; sementara itu, tawaran main di sinetron nonlawak atau iklan, juga tak kalah derasnya.
Mungkin tak berlebihan bila seorang pelawak seperti: Nunung (Tri Retno Prayudati) misalnya, yang selama ini tetap eksis di Srimulat, juga berharta berlimpah. Rumah, mobil, dan berbagai perhiasan dipunyai perempuan asal Solo, Jawa Tengah ini. Ia mengaku berpenghasilan tak kurang dari Rp 50 juta per bulannya. Kalau lagi seret, sekitar Rp 25—Rp 30 juta per bulan. Kalau lagi ramai, penghasilannya bisa mencapai Rp 100 juta per bulan.
Nama-nama seperti Basuki, Tarzan, Polo, Doyok, tak terkecuali Topan dan Leysus yang belakangan tampak lagi naik daun, mungkin tak layak lagi disebut sebagai jutawan; karena sebutan yang lebih tepat bagi mereka kini adalah miliuner. Itu bukan berarti kelompok Bagito, Project P, Patrio nasibnya beda. Baik Bagito, Project P maupun Patrio adalah kelompok-kelompok yang sejak lama telah menunai sukses dari ”bisnis” lawaknya.

Pembalikan Citra
Wacana menarik yang bisa diangkat dari fenomena tersebut adalah pembalikan citra dari suatu profesi, yang semula dilecehkan menjadi sesuatu yang sangat diidolakan. Ini terjadi lantaran latar belakang historisnya, secara budaya pelawak itu dikenal identik dengan punakawan, batur, jongos, pembantu yang bertugas menghibur bendara atau tuan/jugarannya.
Bisa saja ini merupakan salah satu indikasi telah naiknya label profesi lawak bagi calon-calon generasi penerusnya. Fakta ini menarik, karena di satu sisi, kehadiran pelawak atau penghibur dari kalangan educated people, lebih memberi harapan kemungkinan terjadinya upaya eksplorasi dan inovasi dalam seni lawak di kemudian hari.
Meskipun pengertian educated tidak selalu mengacu pada pendidikan dalam arti formal. Kita semua tahu, bagaimana latar belakang Charlie Chaplin, sang maestro lawak dunia yang legendaris itu? Di masa kanaknya, ia bergaul dengan anak-anak jalanan; pendidikan formalnya, tak jelas; ayahnya di penjara dan ibunya dikarantina di rumah penampungan karena dianggap gila.
Kembali ke penghasilan lawak, bila kita iseng-iseng mengutak-atik angka penghasilan berbagai profesi yang ada di negeri ini dan ketika dikomparasikan pada profesi lawak di atas, tak tertutup kemungkinan terbit rasa iri karenanya. Sebutlah misalnya, berapa gaji riil seorang Presiden dan Wakil Presiden RI? Para Menteri? Berapa gaji para penyelenggara negara lainnya? Berapa gaji dan tunjangan para birokrat dari Eselon 1 hingga eselon di bawahnya?
Apalagi bila dibandingkan dengan gaji para buruh yang tak sampai Rp 600 ribu perbulan? Itu pun setelah melewati ”pertarungan” visi soal UMP (Upah Minimum Provinsi) antara pengusaha dan gubernur yang cukup seru. Betapa para pelawak tampak begitu enak dalam menjaring rezeki dan penghasilan?

Lawak Bisa Dipelajari
Benarkah begitu sakralnya profesi lawak itu sehingga untuk mencapainya orang harus menunggu datangnya wangsit atau turunnya bakat dari langit? Jawaban untuk pertanyaan ini sebenarnya sederhana; pernahkah Doyok (Sudarmaji) yang sebelumnya adalah sopir taksi bercita-cita menjadi pelawak?
Mengapa Tukul Arwana banyak menghabiskan masa mudanya menjadi sopir angkot (sejenis mikrolet) dan sopir pribadi sebelum menjadi pelawak? Mengapa Doyok dan Tukul tidak langsung saja merintis karier sebagai pelawak? Ringkasnya jawaban dari pertanyaan di atas adalah: kepepet atau terdesak situasi! Itulah yang membuat mereka menjadi pelawak.
Contoh di atas tidak dimaksudkan bahwa untuk menjadi pelawak itu soal yang sangat mudah dan cukup dengan modal kepepet.
Hemat saya, melawak itu adalah soal menghasilkan lelucon atau gerrr; dan kalau hanya untuk kebutuhan itu, maka cukup dengan bekal ngomong jorok (porno), menghina, atau mengolok-olok cacat atau kelemahan orang lain dan bertingkah laku seperti orang bloon (slapstick), maka target lelucon atau gerrr itu pasti akan tercapai.
Namun lawakan model seperti itu, hanya cocok dalam momen-momen tertentu/terbatas. Ada yang mengatakan itu lelucon berselera rendah. Lelucon yang disantap bagi publik yang luas dan beragam selera membutuhkan persiapan yang tidak mudah. Selain kemampuan mengangkat simbol-simbol universal (tidak lokal, dipahami hanya sedikit orang) juga perlu menguasai penggunaan bahasa nasional (Indonesia) secara wajar.
Seperti halnya naik sepeda atau menyetir mobil, melawak juga membutuhkan latihan yang tak kenal bosan. Orang menulis, melukis, berpidato di depan umum, menyanyi, menari, main gitar, semuanya bisa dipelajari.
Begitu pula melawak. Pengetahuan teknis dibutuhkan agar si calon pelawak tidak menghabiskan banyak waktu dengan mengulang kesalahan yang dilakukan pendahulunya.
Sementara bakat dan kreativitas dapat diasah lewat mempelajari permainan pelawak-pelawak sukses; kalau perlu dengan menganalisis jurus-jurus andalan yang dipakainya. Tentang jurus-jurus andalan itu bisa dibedah lewat naskah (alur/skenario) dan improvisasinya.
Jenis lawak model Mr. Bean dan Charlie Chaplin tergolong lebih banyak mengandalkan skenario ketimbang improvisasi. Ini berbeda dengan sebagian besar lawak kita yang lebih banyak mengandalkan improvisasi.
Namun kita tak boleh lupa, karya film humor terbagus yang dimiliki negeri ini, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, berhasil karena skenario bagus dan aktor/aktrisnya (bukan pelawak) bermain tanpa (sedikit) improvisasi; tentu saja peran sutradara dalam hal ini, tak bisa dinafikan begitu saja. Itu sebuah bukti, bahwa untuk menghasilkan lelucon, bukan pelawak pun sanggup mengantarkannya, selama perangkat-perangkat lain mendukungnya.
Bila produk lawak/humor kita mampu menghasilkan lawak bertema dan beraksen universal (visual dan mini kata); seperti yang dilakukan Rowan Atkinson dengan Mr Bean-nya, dan Charlie Chaplin dengan lawak bisunya, maka peluang publik penikmatnya akan relatif lebih luas.
Pilihan lawak visual & mini kata, selain memiliki kans pasar lebih luas juga kecepatan distribusi dan konsumsi yang dapat bertarung dengan waktu. Halo Srimulat, Bagito, Project P, Patrio dan lainnya; berani go international?
Darminto M Sudarmo

Karantina Generasi
Oleh Darminto M. Sudarmo

Pada pagi tanggal 22 Juli kemarin saya mendapat telepon dari Presiden Republik Mimpi. Bunyi telepon itu kurang lebih meminta waktu saya menghadap beliau pada pagi itu juga; padahal Anda tahu saya sedang enak-enaknya menyantap koran pagi dan menyeruput kopi hangat yang membuat sekujur tubuh terasa segar. Telepon Presiden kemarin adalah yang kelima kalinya. Sekian lama itu pula saya selalu beralasan sedang sangat sibuk sehingga belum dapat menghadap beliau.
Tampaknya Presiden tidak putus asa; hari kemarin adalah puncak kegigihannya. Terus terang saya benar-benar tidak tega; sebagai warga negara yang baik saya merasa berkewajiban menghadap Presiden; siapa tahu beliau memang sedang butuh teman curhat atau paling tidak teman diskusi.
Nah begitu saya sampai di ruang dalam Istana Kepresidenan, saya telah disambut hidangan di atas meja. Sarapan pagi ala Istana. Bukan hanya hidangan lezat yang menyambut, Presiden sendiri juga menyambut dengan tergopoh-gopoh; mungkin khawatir saya balik lagi ke rumah, kalau setibanya di dalam istana lalu merasa menjadi Mr. Nobody. Maklum, ruangan yang megah dan berarsitektur kuno dengan kepungan penjagaan yang cukup ketat, bisa-bisa membuat tamu jadi kikuk dan kurang nyaman.
“Sebenarnya, ada hal apa yang membuat Bapak Presiden begitu semangat mengundang saya; padahal semua orang tahu, saya ini tidak punya apa-apa; tidak punya ilmu simpanan apa-apa; lalu apa manfaatnya mengundang saya di tempat yang sangat terhormat ini?” Tanya saya berterus-terang.
“Itulah persoalannya. Semua rakyat Republik Mimpi sudah tahu, bahwa negeri ini sedang berada di bibir jurang. Lengah sedikit, kita semua kecemplung di dalamnya.” Tukas Presiden sambil memperbaiki tempat duduknya.
“Lha hubungannya dengan saya?”
“Ada. Bahkan penting sekali. Sudah begitu banyak analisa dari para pemikir dan cendekiawan yang muncul deras di kolom-kolom surat kabar dan majalah. Bahkan dalam dialog interaktif di TV, tetapi semua hanya menyentuh perkara yang abstrak dan agak sulit dirunut konklusinya. Terus terang perkara korupsi, yang bahkan sudah menjalar-jalar dari Sadang sampai Merak Oke, perkara profesionalisme pelayanan publik yang kedodoran, dosa birokrasi, kriminalitas, pelanggaran HAM, dan lain-lain yang membuat bangsa kita sangat rendah citranya di mata negeri-negeri lain, mana bisa diselamatkan kalau dari 10 orang ahli, 9 di antaranya hanya menjadi pengamat. Menjadi analis….”
“Maunya Anda Tuan Presiden, eh, Bapak Presiden?”
“Mari berbuat. Seperti iklannya anak muda yang jadi ketua umum partai politik itu lho. Jadi, saya melihat Anda punya kans untuk berbuat dalam konteks yang berbeda dan tidak sama dengan semua analisa yang bertebaran itu.”
“Konkretnya?”
“Tolong saya diberi masukan. Masukan yang beda dan baru. Mungkin agak gila, ngaco atau semacamnya. Itu tidak masalah. Yang penting, gagasan itu dapat menciptakan perspektif yang baru. Yang lebih penting lagi, Anda perlu memberikan argumen yang masuk akal di pikiran saya. Mengapa begini, mengapa begitu…”
Saya mengambil sepotong pisang goreng, mengunyahnya sesaat. Lalu menyeruput kopi panas yang rasanya, jujur hati, lebih huenak dan sedap daripada kopi saya di rumah.
“Fakta bahwa banyak birokrasi yang bekerja tidak sesuai dengan fungsinya adalah soal kuno. Itu artinya, pejabat disumpah, bahkan dengan kitab suci, tak ada artinya apa-apa. Hukum dan undang-undang terus ditelurkan, tidak juga ada pengaruhnya pada perilaku kita semua. Pertanyaannya, mengapa kita suka ngomong yang tinggi-tinggi, tapi kelakuannya begitu rendah? Jawabannya ada di budaya kita sendiri: budaya tidak punya rasa malu. Janji pertemuan jam 12 datang jam 13 atau 14, tidak masalah. Tidak ada sanksi moral, tidak ada sanksi sosial. Orang pun menganggap kesepakatan dan komitment hanya penghias bibir. Janji mau jadi pimpinan yang oke punya, eh, yang terjadi justru sebaliknya. Janji tidak akan korupsi eh, malah nguras uang negara sebanyak-banyaknya. Bagaimana tidak? Lha wong nyuri duit milyaran dan jutaan hukumannya sama, maka lebih baik nyuri yang banyak sekalian.
“Intinya, antara omongan dan kelakuan kita boleh tidak sama. Boleh tidak malu. Boleh menganggap angin lalu dan tak lama lagi toh masyarakat segera melupakannya. Kalau anak-anak, calon generasi kita menonton kenyataan seperti itu, bagaimana mereka tidak bingung membedakan mana yang salah, mana yang benar. Saran Romo Mudji sepertinya mudah sekali, bereskan dulu birokrasi dan ganti dengan anak-anak muda yang idealis supaya keadaan segera berubah. Didik anak-anak sejak dini agar dapat membedakan mana yang benar mana yang salah. Tidak salah. Tapi mereka akan kembali menyaksikan orang tua mereka yang tak bisa jadi teladan. Tak dapat dipercaya omongannya. Sehingga, bukan mustahil bila mantan mahasiswa pun setelah jadi pejabat toh lama-lama, setelah tahu nikmatnya duit, kegoda juga.”
“Lalu, apa kita harus skeptis dan membiarkan bangsa ini terperosok ke dalam jurang keterpurukan?”
“Ya, tidak dong, Pak. Saran saya, pilih salah satu pulau dari negeri kita yang dinilai aman dan terlindung. Isi pulau itu dengan anak-anak dari usia balita hingga lulus perguruan tinggi. Tutup semua akses, terutama dari media Republik Mimpi. Maksudnya, agar anak-anak itu tidak pernah menyaksikan berita atau tayangan orang-orang tua mereka yang di rumah alim dan berwibawa, ternyata ketangkep basah oleh komisi anti korupsi lalu digelandang seperti penjahat jalanan.
“Harus dilakukan sebuah revolusi, anak-anak tidak boleh berhubungan dengan orang tua atau saudaranya. Semua. Mereka berangkat dari nol kilometer menyongsong lahirnya era Republik Mimpi yang sama sekali terpisah dari generasi sebelumnya. Generasi yang tak sanggup menyelematkan bangsanya. Bekali mereka dengan moral, tata nilai dan pengetahuan sesuai yang diamanatkan dan dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini sehingga mereka dapat tampil sebagai manusia Republik Mimpi yang seutuhnya; bangsa yang seutuhnya. Kalau perlu dapat mengantar bangsa ini menjadi bangsa yang tingkat martabat dan kebudayaannya paling oke di seluruh dunia.”
“Edan! Itu namanya pemusnahan peradaban….”
“Lho katanya, mau yang gila?” Tanya saya agak nyesel, sudah capek berbusa-busa malah tak ada apresiasi sama sekali.
“Iya, begitu sih begitu, tapi ya jangan begitu…” kata Presiden.
“Oke, kalau itu kurang berkenan, situasinya dibalik saja: anak-anak biar tinggal dan belajar di Republik Mimpi sampai mereka besar dan dapat memimpin negeri ini, sedangkan semua rakyat yang bukan anak-anak, dikarantina di sebuah pulau atau tempat khusus yang seluruh aksesnya ditutup. Gimana?”
“Hah! Tahun 2009 sepi, dong…..”***
Membedah Anatomi Kerja Kartunis
Oleh Darminto M Sudarmo
SEMINGGU sebelum acara diskusi kartunis (Lektur Terbuka: Kartunis dan Tugasnya oleh GM Sudarta dan Lat) di Taman Ismail Marzuki, 12 Juli 2003, saya didaulat kartunis Pramono (Ketua Umum Pakarti-Persatuan Kartunis Indonesia) agar bersedia memandu acara diskusi tersebut, disponsori oleh Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta. Bagaimana mungkin saya dapat menolak “perintah” beliau, salah satu tokoh kartunis senior negeri ini, apalagi bila itu ada kaitannya dengan sebuah momentum yang menarik; yakni bertemunya dua figur maestro kartunis Indonesia dan Malaysia, GM Sudarta dan Lat, yang seingat saya baru pertama kali dipertemukan dalam sebuah forum di Indonesia.
Gairah budaya pun semakin tumbuh, apalagi bila mengingat Indonesia sedang dilanda berbagai arus kepentingan yang membuat pening kepala, geli hati sekaligus jengkel karena UU Pilpres, Susduk, Hak DPR untuk menyandera, dan lain-lain yang begitu naif, ternyata bisa terjadi dan memang benar-benar terjadi.
Saya pun bersiap-siap mengumpulkan joke-joke “maut” agar dalam pelaksanaan diskusi dapat diarahkan ke suasana yang lebih “pedas” tapi segar dan eliminatif. Harapan saya, kendati hanya berlangsung selama dua jam saja, pertemuan dua jagoan itu bisa menjadi katarsis bagi semua yang hadir. Sejenak melupakan proses sejarah yang gerah, yang terjadi di negeri ini. Tambahan lagi, diskusi yang bertajuk: Kartunis dan Tugasnya bukankah tergolong tema ringan dan pasti akan penuh dengan canda dan derai tawa. Bayangan lucu yang terproyeksi dalam kepala saya, pasti para kartunis akan menjawab sambil berseloroh, “Tugas kartunis apa lagi? Tentu saja mencari nafkah buat keluarganya”. Hadirin yang kaget akan merespons jawaban itu dengan gelak tawa dan tepuk tangan; betapa mewahnya bila suasana seperti itu bisa terjadi.
Logika seperti ini pula yang pernah dipakai Arswendo Atmowiloto, ketika menangkis pertanyaan secara ndugal, mengapa gerakan separatisme di Indonesia marak, bukan saja di Aceh, Maluku tapi juga di Papua? Jawaban Arswendo, PDI-P-lah yang harus bertanggung jawab, jelas-jelas Indonesia sudah lama merdeka, mengapa partai itu selalu meneriakkan yel-yel, “Merdekaaaa… Merdekaaaa!!!”
Arswendo memang Arswendo. Untuk mengamankan pernyataannya yang rada ndugal itu, dia berlindung di balik predikatnya sebagai seorang guyonis. Guyonis? Istilah gendeng apa pula ini? Tapi, secara gramatika, tidak salah. Guyon itu kata benda dan akhiran is, tak mau kalah dengan humoris, kartunis, lengkap kan edan-edanannya?
Maka, seperti yang sudah dijadwalkan, diskusi tentang kartun dan kartunis itu pun terjadilah…!
GM Sudarta, seperti yang sudah diduga, tampil piawai sebagai story teller yang memikat, runtut, terutama ketika menyampaikan “makalah”-nya berupa tumpukan gambar karikatur mahasiswa-mahasiswa Bandung pada tahun-tahun sekitar 1965-an, sesekali muncul leluconnya yang inspiratif, dan tetap dikemas dalam bingkai elegan. Lat yang tampaknya pendiam dan angker, setelah berbual-bual (berbicara) secara lugas, apa adanya, barulah muncul sepenggal demi sepenggal leluconnya. Hampir semua yang dia sampaikan berdasar pengalaman nyata. Namun, disusun secara bersilang tumpang sehingga setiap terjadi persinggungan logika, selalu muncul sesuatu yang mengagetkan dan menimbulkan tawa.
Persoalannya kemudian, diskusi tumbuh tidak sekadar mengobral tawa dan katarsis. Joke-joke maut yang sudah saya siapkan pun akhirnya tak relevan dimunculkan karena suasana telah berkembang sebagaimana yang dikehendaki takdir. Inti dari “makalah” GM Sudarta yang menggambarkan keberanian para kartunis (mahasiswa) saat itu yang demikian telak dan langsung membidik sasaran atau obyek, yakni Bung Karno, sebagai simbol rezim Orde Lama dan mendukung secara euforia kelahiran Orde Baru, pada akhirnya membuat para kartunis itu harus terkecoh, karena rezim yang baru pun, secara pelan tapi pasti mulai memasung kebebasan yang semula dijanjikan semanis madu itu. Pesta demokrasi pun usai sejak awal tahun 1980-an hingga Rezim Soeharto tumbang, tahun 1998.
Fakta itu mengingatkan saya pada buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Salah satu pernyataan Soe Hok Gie, yang juga hasil mengutip dari intelektual asing, (maaf, saya tak ingat namanya), seorang cendekiawan dilahirkan untuk memusuhi rezim yang korup; setelah rezim yang korup tumbang, maka akan muncul rezim baru. Rezim baru tak lama kemudian juga korup, sang cendekiawan pun memusuhi rezim yang baru. Demikian seterusnya. Maka takdir seorang cendekiawan akan selalu sendirian dan selalu sendirian dalam rezim yang bagaimana pun.
Sementara itu Lat banyak bercerita tentang dirinya yang tak berkantor di mana-mana, tetapi bekerja di rumah sebagai kartunis untuk harian New Straits Times, Malaysia. Seminggu tiga kali. Sebulan rata-rata 12 karikatur. Gambar-gambar itu juga dikirim via e-mail, sehingga Lat tak perlu hadir di kantor koran tersebut. Setelah berpuluh-puluh tahun malang-melintang di Kuala Lumpur, Lat merasa perlu balik ke kampung, Ipoh, untuk berbagai alasan. Di antaranya adalah memberi ruang bagi kemunculan kartunis-kartunis muda dan yang jelas suasana di kampung lebih nyaman: udara jauh lebih sehat dan sosialisasi dengan warga lebih hangat; mungkin spirit kemanusiaan dan ketulusan lebih terasa daripada di kota.
Sesuatu yang menggembirakan, di luar dari proyeksi nakal saya, diskusi dua jam itu tak sengaja dapat menghadirkan simpul-simpul penting mengenai sosok manusia yang bernama kartunis. Khususnya yang berkaitan dengan sistematika berpikir, proses kreatif dalam berkarya, metodologi kerja dan motivasi pilihan profesi. Dari simpul-simpul tersebut bila disederhanakan, dalam diri seorang kartunis (tak peduli apakah ia seorang gag cartoonist, social cartoonist maupun political cartoonist) terdapat tiga elemen kompetensi yang satu dengan lainnya saling terkait.
Elemen pertama, kompetensi di bidang teknis/artistik; seorang kartunis dengan sendirinya memiliki kemampuan teknis menggambar yang memadai. Dengan kata lain bila ia menggambar seekor kuda, maka siapa pun yang melihat gambar itu akan mengatakan itu gambar kuda. Bukan kerbau, sapi atau jerapah. Bila seorang kartunis bermaksud menggambar kuda, tetapi yang tampak oleh orang banyak bukan gambar kuda, maka si kartunis dianggap gagal berkomunikasi. Itu sama dengan dia belum memiliki kompetensi di bidang teknis/artistik. Dan komunikasi kepada publik akan semakin kacau bila ternyata dari gambar yang menyimpang itu ketambahan lagi dengan kata-kata, bayangkan, betapa carut-marutnya kemungkinan komunikasi yang bisa terjadi kemudian.
Elemen kedua, kompetensi di bidang pengamatan (jurnalis, kolumnis, penulis, cerdik cendekia, ilmuwan dan sebagainya); seorang kartunis dengan sendirinya adalah seorang yang memiliki kemampuan dalam mengamati berbagai masalah secara cermat dan akurat. Khususnya menyangkut detail dan substansi. Setelah diendapkan beberapa saat, kemudian ia membuat analisis-analisis. Membuat pertanyaan dan asumsi. Bahan berupa analisis ini untuk sementara dibiarkan menggantung menunggu proses yang ketiga.
Elemen ketiga, kompetensi di bidang lelucon (humoris/kreatif); seorang kartunis dengan sendirinya adalah seseorang yang memiliki sense of humor yang baik dan mampu menghasilkan lelucon yang baik pula; ia mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang beda daripada masyarakat umum. Beda dalam konteks ini tidak sekadar lain, namun beda yang memiliki sejumlah alasan yang dapat dibenarkan. Seperti karikatur karya GM Sudarta (Lihat Kompas, 12 Juli 2003), seorang narapidana berpakaian loreng duduk di singgasana nomor satu negeri ini dengan senyum lugu dan wajah tak berdosa. Proyeksi karikatur yang nyeleneh dan mengagetkan itu, tidak sekadar beda tapi berlandaskan alasan-alasan yang reasonable. Bila kurang jelas, buka UU Pilpres.
DI sisi lain, banyak rekan wartawan yang dengan penasaran mempertanyakan tentang sosok yang bernama kartunis itu. Bila dilihat sekilas performance mereka tenang, kadang justru cenderung pendiam, bahkan ada yang sangat pemalu, tidak suka sosialisasi dengan orang-orang yang belum dikenalnya secara mendalam. Tetapi, ketika tiba giliran mereka menggambar kartun, di situlah muncul ide-idenya yang edan dan ugal-ugalan. Ada virus apa sebenarnya di otak kartunis itu? Pertanyaan bernada seloroh ini mudah-mudahan agak terjawab oleh asumsi tiga elemen di atas.
Bila dipikir-pikir, demikian seorang teman kartunis ngudarasa, mungkin masih lebih enak menjadi pelukis. Tugasnya adalah melukis. Boleh tidak peduli pada masalah-masalah terkini yang lagi hangat atau sudah basi. Boleh melukis yang obyeknya tidak harus lucu; sebaliknya, bebas mengungkapkan hal yang membuat orang bersedih hati. Begitu juga dengan jurnalis, kolumnis, penulis, cerdik cendekia, ilmuwan dan sebagainya. Boleh bekerja dalam jalur job-nya tanpa perlu harus pintar menggambar atau melucu. Tak terkecuali pelawak atau humoris, tidak perlu harus pintar menggambar. Bukankah itu berarti bahwa secara esensial, kerja sebagai kartunis adalah kerja yang tidak ringan. Ia harus menggabungkan sedikitnya tiga kompetensi sekaligus, sebagaimana dijelaskan di atas.
Mengingat keadaan ini, saya sering bertanya-tanya dalam hati, inikah yang menjadi penyebab mengapa jumlah kartunis negeri ini dari waktu ke waktu terus menyurut? Apalagi bila dibandingkan dengan jumlah pelukis, yang angkanya dari waktu ke waktu justru makin bertambah. Catatan sementara yang ada pada saya, para kartunis yang tidak pernah lagi mengartun di antaranya adalah: Harmoko, Harry Pede, Oet, Tris Sakeh, SNS, Meru Sudarta, Julius Pour, T Nurjito, Gun R, Mr Zaggy, Jaya Suprana, Ramli Badrudin, Basnendar, Anwar Rosyid, Odios (saya sendiri), dan masih banyak rekan lain di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, dan Bali, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Sementara itu, kartunis-kartunis Indonesia yang masih setia berkarya, mungkin cukup banyak, namun relatif sedikit bila dibandingkan jumlah pelukis/perupa yang tumbuh di negeri ini. Trio jagoan Indonesia yang sudah tidak asing lagi dan belum tergoyahkan eksistensinya adalah: GM Sudarta, Dwi Koendoro dan Pramono. Ada satu kartunis kawakan, yang lebih senior dari mereka bertiga, kendati tidak spesifik memiliki media (terutama di zaman Orde Baru) namun tetap berkarya, yaitu Sibarani. Almarhum Arwah Setiawan menempatkan Sibarani sebagai salah satu sosok karikaturis paling fenomenal pada zamannya.
Dari angkatan yang lebih muda lagi, memang terdapat nama-nama seperti: Non-O, Gesi Goran, Gatote, Rahmat Riyadi, T Riyadi, tetapi nama-nama seperti Priyanto S dan T Soetanto dari Bandung yang karyanya banyak merajalela di media Jakarta, siapa bisa menafikan kehadiran mereka? Di kawasan lain, kartunis Jitet Koestana yang sering menang lomba di luar negeri, Jango yang punya komunitas penerbitan kartun (humor) di Bali, Tony Tantra yang terus berkarya dalam kemisteriusannya, M Najib, yang lugu dan lucu seperti “Inul”, Ifoed yang rajin mengembangkan kartun ke advertensi, adalah fenomena-fenomena baru yang tak dapat dianggap enteng kiprahnya. Dalam perkembangannya, kartun ternyata tidak hanya menjadi warga dari seni grafis. Ia kini telah berkembang ke seni hias kaus, interior, instalasi, animasi dan bukan tak mungkin bermutasi ke seni murni.
PADA akhirnya, baik GM Sudarta maupun Lat yang siang itu 12 Juli 2003 menjadi “ayah” bagi Oom Pasikom dan Si Mamat (Kampung Boy) harus rela buka kartu dan berendah hati bahwa hal-hal yang berkaitan dengan sistematika berpikir, proses kreatif dalam berkarya, metodologi kerja dan motivasi pilihan profesi, tetap perlu mengaitkannya dengan tatanan sosial dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Wajarlah bila dalam berkarya mereka harus mengkalkulasi itu semua supaya karya dan pesannya dapat efektif sampai ke sasaran yang dituju. Artinya, bahwa kartun yang berhasil itu indikasinya adalah dapat membuat senang si pembuat, yang membaca/menonton dan pihak yang dijadikan obyek dalam karikatur/kartun. Dengan kata lain, untuk sampai pada situasi itu, mereka perlu menempatkan strategi self censorship sedini mungkin. Setidaknya sikap itu yang diperlihatkan GM Sudarta dan Lat tanpa tedheng aling-aling. Tanpa perlu merasa kurang heroik. Toh, bila seorang kartunis berhasil menyampaikan early warning, pesan atau peringatan awal atas suatu masalah atau persoalan, sebenarnya, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan, GM Sudarta mengutip salah seorang “suhu” institusi pendidikan tinggi kartun di Jepang yang berkata, bila sebuah kartun sudah mampu berbisik kepada pembacanya, itu sesungguhnya, sudah tergolong berhasil.
Begitulah. Pertanyaannya lagi, wajarkah bila kita menuntut peran kartunis terlalu besar dan berlebihan, misalnya berharap mereka menjadi ujung tombak demokrasi, agen perubahan atau revolusi, lalu apa peran anggota DPR yang terhormat dan bergaji besar itu?
Darminto M Sudarmo Pengamat Humor, Tinggal di Jakarta
Museum Kartun itu seharusnya di Kaliwungu

Mantan Cleaning Service-nya Bog-Bog, si Koming yang pada waktu itu masih ABG mengkerutkan dahi. Perhatiannya tertebar pada beberapa amplop yang berkop KOKKANG. Kemudian ia ngomong, “”Eh, di ja gen jelemane ne di Kaliungu. Adi sing taen tepuk nah ?” Diartikan ke bahasa Endonesa kurang lebih begini, “Eh, Di mana saja orangnya ini di Kaliungu. Kok gak pernah ketemu, ya?” Ya tentu saja tidak pernah bersua karena Kaliungu yang dimaksud oleh si Koming bukan Kaliwungu-nya KOKKANG. Kaliungu yang dimaksud si Koming adalah banjar (dusun Bali, red)) Kaliungu yang kebetulan sangat dekat dengan kantor Redaksi Bog-Bog.
Di Bog-Bog lah aku merasa begitu kagum dengan komplotan kartunis Kaliuwungu (singkatan pertama KOKKANG). Sebelumnya aku emang sudah mendengar kemahsyuran nama KOKKANG lewat berbagai media massa. Tapi secara dekat aku melihatnya sendiri ketika masih di Redaksi Majalah Bog-Bog. Bagi saya KOKKANG adalah sungai ide yang mengalir terus menerus sampai jauh (maaf mbah Gesang aku pinjem lirik lagu “Bengawan Solo” nya). Begitu banyaknya karya kartun KOKKANG yang masuk redaksi sekali edisi. Sampai-sampai teman-teman bingung menyeleksinya.
Dan aku semakin jatuh kagum ketika aku mendapatkan artikel di Majalah Pantau almarhum yang ditulis oleh Budi Setiyono. Artikel itu berjudul, “Kartun Berhenti di Kaliwungu”. Feature ini sangat bercerita. Membacanya seperti mengalami rinti-rintik hujan di teras markas KOKKANG yang sudah lapuk (yang kemungkinan besar sekarang sudah di renovasi oleh si Itos).
Tersebutlah dua nama. Itos alias Budi Santoso dan Odios alias Darminto Masiyo Sudarmo. Kedua orang inilah yang disinyalir mendirikan KOKKANG (Kelompok Kartunis Kaliwungu) yang berdiri pada tangggal 10 April 1982. Tapi kadang aku ketemu dengan singkatan lain dari KOKKANG, Koperasi Kartunis Kaliwungu. Dasar kartunis sukanya memplesetkan. Markas besarnya (baca: sanggarnya) di rumah Itos, Jalan Boja 106.
Gak afdol kayaknya berdiri tanpa proklamasi. Tersebutlah sebuah pameran kartun di pendopo Kawedanan Kaliwungu, yang dibuka oleh sang pengusaha jamu Jaya Suprana dan Soewondo dan Perhimpunan Pencinta Humor, Semarang. Selanjutnya, pameran ini begitu memancing para muda Kaliwungu bergiat di dunia kartun mungkin lebih mirip menyebarnya bisnis MLM, hee..hee.
Dan munculah nama-nama seperti M. Nasir (Bola), Prie G.S, Nur Rohim dan Joko Susilo (Suara Merdeka), Pujo Waluyo (Peluang), Muktafin (Rakyat Merdeka), Hertanto (Warta kota), Ipong Gufron (Freelance Duta Masyarakat), M. Komarudin (Kontributor Peluang), Wawan Bastian (Aura), Wahyu Widodo (Surabaya Post), dan sebagainya. Dan karya para kartunis Kokkang pun tersebar dimana-mana. Bahkan sampai ke media-media daerah lain seperti Denpost dan Balipost yang notabene begitu “jauh” dari Kaliwungu.
Bukan hanya itu. Prestasi mereka pun sangat luar biasa. Kontes kartun Internasional pun sepertinya sangat sering mampir ke Kaliwungu. Sebut saja misalnya The Yomiuri Shimbun International Cartoon Contest (Japan), Sport Chosun International Cartoon Contest Seoul, International Nasreddin Hodja Cartoon Contest (Turki) dan lain sebagainya.
Seorang Kosei Ono, profesor Universitas Tokyo (anggota dewan penasehat Museum of Cartoon Art) saja begitu kagum dengan KOKKANG.”Kok bisa sebuah kampung dengan masyarakat yang sederhana memproduksi kartun yang disebar kemana-mana dengan manajemen produksi yang unik,” kata profesor tersebut ketika menyempatkan diri berkunjung ke Omiwa*-nya Indonesia itu.
Dengan tidak mengecilkan arti sejarah, prestasi dan perjuangan kawan-kawan kartunis di Bali, aku merasa bahwa tak ad sejarah kartun yang penyebarannya, semangatnya maupun prestasinya semasif KOKKANG. Nilai Museum adalah nilai sejarah. Tanpa sejarah itu namanya galeri.
Dan si Budi Setiyono akhirnya menutup tulisan. “Dari kampung kecil ini, KOKKANG jadi duta kesenian Indonesia di mancanegara. Nama mereka harum bak melati, tanpa harus didukung pemerintah, organisasi dana asing, dan tanpa mengeluarkan kocek.”
Walau secara formal Museum kartun Indonesia katanya ada di Bali, tapi bagiku KOKKANG adalah museum kartun Indonesia yang sebenarnya.

*Omiwa itu perkampungan kartunis Jepang.
Meledek Gaya Hidup Snob
DARMINTO M SUDARMO
Jakarta luar dalem? Pilihan ini sungguh menggelitik. Melihat Jakarta dari luar, apa susahnya? Bahasa candanya, nenek-nenek juga bisa. Namun, melihat Jakarta di bagian dalem? Ini sungguh pekerjaan menantang dan tidak sembarang orang mampu melakukannya.
Apalagi cara melihat yang dilakukan oleh dua kartunis Benny dan Misrad tidak sekadar menatap dengan mata melotot dan mulut “manyun”, tetapi seperti layaknya kerja para jurnalis, fotografer, dan sekaligus karikaturis.
Sebagai jurnalis, mereka mencatat berbagai gejala atau fenomena yang menonjol di isi perut Jakarta; sebagai fotografer, mereka mengabadikan secara visual obyek-obyek otentik yang terkait dengan fenomena (dipakai untuk rujukan gambar kartun); dan sebagai karikaturis, mereka harus mampu ceriwis mengusili fenomena dengan sentakan humor-humornya yang segar dan khas lewat dua tokoh kartun yang bernama Benny dan Mice.
Kerja bareng dua kartunis yang kompak dan tali-temali ini sungguh luar biasa. Setiap minggu, sejak empat tahun lalu, mereka rutin mengisi rubrik kartun bertajuk Benny & Mice di Kompas Minggu. Pilihan-pilihan tema, sudut pandang dan struktur cerita, sejauh pengamatan saya, selalu baru dan beda.
Seandainya ada pengulangan tema atau sudut pandang, itu karena alasan hangat dan kuatnya radar aktualitas atas tema-tema dan sudut pandang yang terjadi pada masa penyajian kartun. Meskipun begitu, tanggung jawab mereka untuk selalu tampil kreatif, mereka buktikan dengan tidak melakukan repetisi ide atas tema dan struktur cerita yang mereka sajikan.
Voltase gerrr
Akan tetapi, satu hal yang tak dapat dielakkan adalah fakta bahwa voltase gerrr yang muncul dari setiap tawaran/gagasan mereka, tak selalu ajek; kadang kuat, kadang lemah, jadi fluktuatif, dan sangat bergantung pada kondisi atau situasi tertentu.
Ini konsekuensi logis pilihan isinya terkait dengan masalah tren, mode, fenomena yang sedang in namun rentan perubahan. Kalau kemudian kartun-kartun yang semula disiapkan untuk sesuatu yang berbau jurnalistik, hangat, dan aktual tetap dapat “berbunyi” kendati telah melewati ruang dan waktu berbeda, itu semata karena si kartunisnya lihai dalam memilih pendekatan. Kesan fenomena yang sebenarnya temporer dan terbatas itu justru terasa seolah-olah universal. Seolah-olah melibatkan emosi publik luas.
Kekhawatiran yang acapkali terjadi ketika sebuah rubrik kartun rutin di sebuah media yang kemudian dibukukan adalah hadirnya rasa datar karena bentuk lay out, teknik penyajian, dan lain-lain, performance yang cenderung diulang-ulang, ternyata di kumpulan kartun Benny & Mice hal itu tidak terjadi.
Setidaknya, dua kartunis yang pernah menggarap seri Lagak Jakarta hingga enam judul ini sudah sangat prepared. Bahwa kartun mereka yang dimuat di Kompas, bukan tidak mungkin pada suatu saat berlanjut diterbitkan dalam bentuk buku; maka, entah sengaja atau tidak, terdapat cukup banyak varian lay out dan penyajian (khususnya proporsi gambar tokoh yang kadang tampak jauh, menengah, dan dekat—dalam istilah sinematografi: long shot, medium shot, dan close up); sehingga ketika potongan-potongan sajian ini dikumpulkan dalam bentuk buku, terjadi suasana yang tidak flat, datar, dan menjemukan. Bahkan dengan adanya pilihan tema dan pendekatan yang bervariasi dari sang kartunis, kita serasa dibawa ke rekreasi optis—dibawa bertamasya dari situasi yang sarat kekonyolan satu ke situasi yang lain.
Rela “capek”
Kerja dua kartunis yang saya anggap luar biasa adalah kesabaran dan kemauan mereka untuk rela “capek”; mau menyajikan detail setting secara serius. Banyak kartunis kita yang suka menghindar dari sulitnya menyajikan factual set dan detail obyek di mana si tokoh berada.
Bukan tak mungkin, keberhasilan komunikasi kartun Benny & Mice di antaranya karena proses kreatifnya ditunjang oleh tradisi riset (literatur maupun on the spot terjun ke lapangan). Mereka tak asal-asalan menyajikan mesin ATM, mesin hitung kasir di toko swalayan, interior mobil yang memakai LCD TV, hingga lalu lintas yang ruwet dan terkunci.
Pilihan redaksi yang membagi bab dalam buku kumpulan kartun berdasarkan kesamaan tema, di satu hal, memang memudahkan pembaca untuk memilih dan memulai; namun risiko lainnya juga ada; yakni kemungkinan tergiringnya pembaca ke situasi yang menjebak; yakni situasi yang datar tadi.
Salah satu contoh bab tentang: Trend dan Mode. Dalam bab ini, kalau kita cermati, kita jadi menemukan “modus operandi” si kartunis dalam menyajikan gagasannya. Padahal, “modus operandi” atau rahasia resep dalam menciptakan “masakan” yang oke itu tak layak kalau sampai kecolongan pihak lain.
Kita lihat misalnya bab tentang Trend dan Mode dari halaman 2 hingga 30, nyaris si kartunis memakai jurus atawa “modus operandi” dengan menyajikan Si Benny dan Si Mice jalan-jalan, mereka lalu melihat orang-orang lagi mejeng sesuai dengan tren dan mode terbaru, pada akhirnya, karena—entah kritis atau sirik—Benny dan Mice bersikap tak mau kalah. Mereka berusaha keras untuk menjadi makhluk modis kendati untuk itu harus melakukan kekonyolan-kekonyolan.
Salah satu yang cukup menyentak adalah saat musim flash disk dikalungkan di leher, Benny dan Mice “menghantam” kegenitan itu dengan mengalungkan hardisk ke leher sendiri. Motif serupa juga tampak saat mereka mengangkat topik gigi berkawat, stiker mobil kena tembak, celana ketat bawah, tarif seluler murah, video phone, dan lain-lain.
Secara substansi ide-idenya menarik, tetapi karena berdekatan, tampak seakan sebuah repetisi.
Ada tawa ada renungan
Membaca lengkap kumpulan kartun dua kartunis ini, kita dibawa masuk ke dalam renungan-renungan. Ketawa, iya sudah pasti. Namun, tidak cukup berhenti di tawa; kartun-kartun Benny & Mice, menyeret kita untuk ikut berpikir. Tentang berpikir ini sudah tentu sesuai dengan relevansi kita masing-masing. Gagasan-gagasan yang di-“tembak”-kan dua kartunis ini berfungsi sebagai stimulus yang akan merangsang perasaan intelektual pembacanya masuk ke dalam renungan-renungan; renungan yang sungguh berbeda dan mengasyikkan. Karena sesekali ia dapat membuat kita malu melihat diri kita sendiri.
Sikap yang ditampilkan dua tokoh kartun yang bernama Benny dan Mice itu sepertinya mewakili sikap kelompok masyarakat tertentu yang ada di Jakarta, sepertinya. Namun bisa juga tidak mewakili siapa-siapa. Namanya saja dunia ide. Karya cipta, rekaan.
Akan tetapi, bila kenyataan yang terjadi dalam proses kreatif lain, sungguh fakta ini cukup mencemaskan dan mendebarkan. Mencemaskan, kalau benar mereka ada; bagaimana mungkin, mereka adalah korban doktrin berhala kehormatan dan eksistensi yang bernama mode atau tren. Korban kasak-kusuk iklan. Bujuk rayu “kapitalisme” yang seolah dapat mengantarkan masyarakat Jakarta, atau bahkan masyarakat Indonesia, masuk ke dalam pintu gerbang eksistensi lewat aksi yang bernama membeli. Ya, membeli apa saja yang ditawarkan tanpa harus berpikir benda yang kita beli itu bermanfaat atau tidak.
Sikap tak mau kalah dua tokoh kartun ini dan jalan solusi yang dipilih untuk memberi pelajaran pada orang-orang snob seperti menggambarkan peta “pertarungan” pola pikir masyarakat kita yang sebenarnya rasional tetapi tak berdaya, melawan gempuran iklan yang tak kunjung lelah dan kapok. Pada akhirnya, iklan yang terus-menerus hadir dan dirancang sedemikian efektif adalah juga sebuah doktrin yang dapat memengaruhi, bukan saja pandangan hidup tetapi juga pilihan hidup seseorang.
Dalam kekalahan atau kemenangannya, dalam ketidakberdayaan atau keluguannya, mereka tetap berani menghadapi gempuran-gempuran yang terus-menerus meneror mereka. Benny dan Mice bukan menyerah atau menggampangkan persoalan, mereka justru tampil dengan inspirasi-inspirasinya yang tak terduga; bahkan, perkasa. Ini semboyan mereka yang tak gampang menyerah: silver bird atau bajaj… town house atau kontrakan …tuna sandwich atau taoge goreng… senang… susah… life goes on….!
(Darminto M Sudarmo, Penulis dan Mantan Pemimpin Redaksi Majalah HumOr).

inmemoriam

Basuki Tidak Melawak Lagi

  • Oleh Darminto M Sudarmo

SETIAP mendengar berita ada pelawak Indonesia meninggal dunia, saya selalu diliputi berbagai pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang paling sering menyelinap ke dalam benak adalah mengapa harus pelawak? Mengapa bukan politikus ingkar, polisi korup, atau pengusaha nakal? Pelawak kita yang baik jumlahnya sangat sedikit. Sedikit sekali bila dibanding dengan oknum-oknum yang disebutkan di atas tadi.

Populasi pelawak sangat lambat. Kadang dalam waktu satu atau dua dekade baru lahir satu atau dua pelawak bermutu. Sementara dalam sepuluh tahun saja, kita mampu melahirkan ratusan sarjana, puluhan sarjana utama dan belasan doktor. Dari kenyataan populasi pelawak yang jarang tadi, ada kebajikan yang dapat dipetik, yakni sesuatu yang baik dan bermutu memang tak pernah menjadi kodian dan massal.

Basuki yang dikenal sepak terjangnya dalam kesenian lawak sangat khas dan memiliki riwayat hidup ”mendebarkan”, ternyata harus minggir pula dari peredaran. Kepergian sebelumnya pelawak Asmuni, Taufik Savalas, Pak Bendot, Ateng dan lain-lainnya, semakin mempertipis jumlah daftar pelawak yang tersisa di negeri ini.

Mengapa dibilang riwayat hidup Basuki ”mendebarkan”? Karena Basuki benar-benar pelawak yang memulai semuanya dari lapis paling bawah. Dari keadaan paling miskin dan lapar. Dan kondisi yang menantang dedikasi dan kesungguhannya dalam berkesenian itu, dialaminya cukup panjang dan sangat melelahkan.

Jadi kalau Basuki dalam sepuluh atau belasan tahun belakangan ini terlihat moncer dan ekonominya berlebih, itu semata karena jerih payah dan kerja kerasnya di masa lalu yang seakan tak punya ”wudel”.

Bila pelawak-pelawak baru begitu merintis lalu bermimpi tentang penghasilan besar yang bakal diraihnya, anggapan seperti itu sebenarnya sangat naif. Kalau sekadar bercita-cita menjadi pelawak besar dan akan berpenghasilan besar serta mampu mempersembahkan karya yang juga besar bagi masyarakat, mengapa tidak? Tetapi gegabah mengukur potensi diri sungguh sangat tidak bijak dan berbahaya.

Ketajaman dan Kecerdasan

Motif-motif pintas berupa: popularitas, penghasilan, penghidupan yang serba wah, rasanya seperti candu yang terus menerus menggoda atau mengiming-imingi calon-calon pelawak di negeri ini. Sudah sepantasnya bila candu itu disikapi dengan tenang dan tidak grusa-grusu; jujur saja candu itu dapat membuat pelawak-pelawak muda terbanting-banting antara impian, harapan, dan kenyataan.

Orang-orang ahli selalu berkata, tidak ada yang simsalabim dalam dunia kreativitas. Karena ketajaman dan kecerdasannya hanya akan terlihat bila telah melewati proses percobaan dan pelatihan yang tak kunjung lelah.

Keberhasilan Basuki memang tak dapat diirikan oleh siapa pun. Kalau toh ia pernah menduduki singgasananya, itu bukan diberikan oleh siapa pun, tetapi diperoleh oleh dirinya sendiri. Dibangun dan didirikan oleh Basuki sendiri.

Bayangkan, berbagai benturan selama berkarier sebagai pelawak, pernah dialami oleh Basuki. Semoga para pelawak pemula mengetahui bahwa Basuki pernah sangat kelaparan karena memang tak ada yang dapat dimakan.

Pernah tidak punya duit sama sekali, sehingga tidak dapat membeli apa pun. Tetapi apakah kondisi itu lalu membuatnya jadi surut langkah dan kabur dari dunia lawak Indonesia?

Berkarier kesenian, khususnya di bidang lawak, supaya indah perjalanannya, perlu memulai dari minat, kecintaan pada bidang pilihan, dan etos kerja yang tahan banting. Itu artinya, sanggup hidup dalam kondisi yang bagaimana pun.

Kepergian Basuki memang sangat mengagetkan. Tetapi lebih mengagetkan lagi kalau perjuangan dan jerih payahnya yang lama tidak membuahkan pelajaran apa-apa bagi pelawak muda atau generasi pelawak sesudahnya.

Saya pernah punya kecurigaan kepada Basuki, sepertinya ia tidak mudah memberi kesempatan pada pelawak-pelawak baru; termasuk Tukul Arwana atau beberapa pelawak yang mengikuti Audisi Pelawak TPI pertama maupun sesudahnya.

Sepertinya ia punya dendam yang sangat mengakar kepada para pendatang baru, karena ia sendiri melewati semuanya dengan jerih payah yang luar biasa sulit dan menyakitkan. Maka, seolah-olah terkesan ia tak rela anak-anak baru memperoleh semuanya dengan mudah, dengan tanpa susah payah, bahkan tanpa keringat sama sekali.

Dugaan saya ternyata keliru besar. Basuki menerapkan ”metode” pendidikan yang sangat khas. Intinya, ia ingin mengingatkan pada para pelawak muda agar sekokoh mungkin membangun pondasi bagi sikap kesenian dan keperibadiannya.

”Tamparan-tamparan” yang sering sengaja atau tak sengaja ia alamatkan kepada para pelawak muda, semata-mata dilandasi agar setiap pelawak mengenal proses. Mengenal tahapan dari bayi, menjadi anak-anak, remaja, hingga dewasa.

Seperti yang dapat dilihat, keberhasilan Tukul (lewat pengakuan masyarakat di salah satu award yang diadakan oleh televisi swasta), membuktikan bahwa proses atau tahapan yang harus dia lewati telah selesai dia jalani.

Berupa: ujian dalam karya. Dalam positioning. Dan yang menguji adalah masyarakat langsung. Sebuah survei atau angket atau jajak pendapat yang nilai validitasnya cukup memadai.

Tukul dapat menjadi sedemikian matang, bukan karena upayanya sendiri, tetapi juga adanya campur tangan para senior baik yang mendukung maupun menyerangnya. Dua hal itu dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan.

Siapa saja para senior yang telah turut serta ”mengisi” ilmu ke dalam diri Tukul? Sudah jelas, salah satunya adalah pelawak Basuki. Tukul dapat mengakui atau menolak fakta ini, tetapi transformasi ilmu dan kiat-kiat berkeseniannya tak dapat dipisahkan dari jasa mereka.

Dan cara mereka mengajar yuniornya juga menggunakan metode yang beraneka. Salah satu yang dipakai oleh Basuki adalah metode meledek atau meremehkan pihak lain supaya yang bersangkutan ”tersinggung”, sehingga bangkit emosi dan energinya.

Pelawak yang akan terpilih oleh waktu dan akan menjadi besar, ternyata tidak akan pernah dapat digilas oleh gangguan sesaat seperti itu. Dia justru makin dapat melihat kemungkinan eksplorasi dan peluang yang tak pernah habis bertengger di depan matanya.

Basuki atau Agus Basuki yang terlahir di Solo, 5 Maret 1956, akhirnya meninggal pada 12 Desember 2007. Tepat dalam usianya yang ke-51. Belum lama Basuki menikmati hasil jerih payahnya. Tetapi itu mungkin tak penting baginya; nyatanya ia sudah mempersiapkan berbagai penopang hidup untuk keluarganya.

Tetapi, bahwa semangat berkesenian dan berjuang demi kesenian yang menjadi pilihannya, adalah warisannya yang paling berharga bagi dunia perlawakan negeri ini. So, selamat jalan, Bas….(60)

- Penulis adalah pengamat dunia lawak Indonesia

Pelawak Juga Manusia

Darminto M Sudarmo

Ya! Pelawak ternyata juga manusia; yang dapat lahir, hidup kemudian mati. Pelawak tidak harus selalu lucu dan melucu: tidak harus abadi dalam menghibur, orisinal dalam gagasan, dan berpenampilan selalu sehat; ia juga boleh menjadi seperti manusia lainnya: santai, cuek, uring-uringan, kamso, atau bahkan santun dan sangat ramah pada siapa saja. Sebagai manusia, ia membutuhkan ruang lega semacam itu. Ruang yang membuatnya tidak kikuk dan sulit bergerak.

Akan tetapi, apa yang terjadi di masyarakat? Bagaimana pandangan mereka tentang pelawak? Sebenarnya, sederhana saja cara masyarakat melihat pelawak, yaitu sebagai sosok penghibur. Artinya, di dalam diri tiap pelawak terkandung atmosfer kegembiraan dan bahkan kebahagiaan. Oleh karena itu—bahasa guyonnya— begitu ada pelawak (dikenal dan terkenal) nyasar di suatu tempat atau lokasi yang banyak orangnya, maka mendadak masyarakat yang tahu kehadiran pelawak itu segera beramai-ramai menyongsong dan menyerbu ke arah pelawak tersebut. Motif mereka bermacam-macam, tetapi secara faktual dapat disaksikan, masyarakat merasa senang dan bangga berada di dekat pelawak, apalagi dapat berdialog dan berfoto bersama.

Perkara ini tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya ia mengambarkan suatu kondisi sosial, budaya, dan psikologis masyarakat kita yang sangat khas. Khas bila dikaitkan dengan berbagai persoalan bangsa kita saat ini yang demikian kompleks dan runcing. Sehingga kebutuhan masyarakat untuk sejenak katarsis, melupakan berbagai tempaan dan derita hidup, mengalihkan rasa cemas terhadap masa depan diri dan bangsa, dan lain-lain kengerian demi kengerian yang kapan saja dapat datang menimpa diri atau tetangga atau teman dekat, mendapatkan bantuan dalam penyalurannya. Bahasa bombasnya, keberadaan pelawak di masyarakat nyaris seperti oase di padang pasir.

Kecemasan dan kengerian itu tidak selalu muncul karena terjadi dan menimpa sanak saudara sendiri, tetapi bisa saja karena terjadi pada orang lain. Pengertian orang lain di sini hanya persoalan biologis; tetapi secara nilai, substansi, ia mewakili harapan masyarakat banyak. Ke mana lagi masyarakat dapat menyembuhkan luka-luka sosial, budaya, dan psikologis mereka jika orang- orang demikian berkurang terus, satu demi satu?

Dan… kepergian pelawak Taufik Savalas yang mendadak (meninggal dalam kecelakaan mobil di Purworejo, Jawa Tengah, 11 Juli 2007 malam) adalah salah satu fakta yang secara sosial membuat banyak orang, sebut saja masyarakat, merasa sangat terpukul dan kehilangan.

Apa urusannya masyarakat yang tak kenal Taufik, tak berdomisili di dekat rumah Taufik, tak pernah dialog, tak pernah ketemu, tak pernah merasakan langsung kebaikan-kebaikan dan kedermawanan Taufik, tiba-tiba menangis begitu mendengar atau menonton berita kematiaannya yang mengenaskan itu?

Pelawak ditakdirkan lahir ke dunia untuk menghibur orang. Untuk membuat orang yang sedih dapat tersenyum atau tertawa. Untuk membuat orang yang melihat dunia ini begitu gelap, menjadi tidak gelap lagi atau bahkan terang benderang. Pelawak berbeda dengan profesi yang lain. Ada profesi yang kerjanya membuat janji-janji manis ketika pemilu, setelah rakyat memilih dan ia memiliki jabatan, ia lebih suka duduk-duduk manis saja dan pura-pura lupa pada janjinya. Profesi lain lagi kerjanya justru menakuti-nakuti masyarakat akan bahaya makanan ini, minuman itu; maka supaya masyarakat bebas dari ketakutan itu perlu mengonsumsi minuman ini atau makanan itu. Ada juga profesi yang kerjanya mempersulit perkara yang mudah. Memperlambat perkara yang seharusnya cepat. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dengan kata lain, profesi pelawak sungguh sangat berbeda. Bukan hanya beda, tetapi juga tak gampang untuk dapat masuk ke sana. Pendek kata, seribu satu orang yang dapat menjadi pelawak. Ia terlahir dan besar tidak karena KKN atau proteksi, tetapi karena pengakuan masyarakat. Pengakuan tulus dari masyarakat itu yang disebut karisma. Jadi pelawak gagal atau berhasil dalam kariernya sangat tergantung pada dirinya sendiri; bagaimana ia membangun dan mengelola karismanya.

Akan tetapi, tak juga bijak kalau kita hanya bergede rasa di sana. Kepergian Taufik dapat dikatakan semacam momentum yang sangat berharga bagi insan perlawakan negeri ini; respons masyarakat yang sangat luar biasa itu tentu bukan semata karena ia seorang pelawak atau sosok yang pandai menghibur; tetapi lebih-lebih karena Taufik juga berperan sebagai manusia.

Kesederhanaan dan kerendahatiannya juga banyak memberikan inspirasi bagi masyarakat luas. Tak heran bila cita-cita mulianya yang belum terlaksana adalah menjadi Presiden Anak Yatim Piatu. Mungkin ia pernah cukup berhasil menjadi Presiden Republik BBM, dan presenter di berbagai acara di TV, tetapi apa boleh buat, Taufik memang sangat pandai membagi waktu; kapan bertindak sebagai agen kapitalisme, kapan sebagai agen budaya, dan kapan sebagai agen kontemplasi.

Sebuah kombinasi yang tampaknya saling berebut pengaruh dan kepentingan, tetapi kenyataannya, memang itulah; dan sepertinya Taufik bahagia berada di tiga titian itu.

Darminto M Sudarmo

Melayat Budaya untuk Humor Indonesia

Oleh: Darminto M Sudarmo

KEPERGIAN pelawak Ateng (6 Mei 2003) lalu makin menegaskan betapa makin mencemaskannya masa depan humor di Indonesia. Negeri yang menjunjung tinggi demokrasi ini diam-diam ternyata tak memiliki satu pun majalah, tabloid, apalagi koran humor. Setidaknya sejak tahun 1998. Sebuah situs (berbahasa Indonesia) yang menggunakan nama humor ternyata sudah lama tidak diurus pemiliknya dan tak diadakan updating sama sekali.

Sementara itu, di Malaysia, yang setahu saya negerinya tidak terlalu heboh gembar-gembor soal demokrasi, ternyata memiliki lebih dari 10 majalah humor (sekadar menyebut: Gila-Gila, Senyum, Humor, Batu Api, Si Ujang, dan lain-lain) yang semuanya survive dan segar bugar karena memiliki publik yang ber-habit membeli karya kreatif/intelektual dan rakus membaca. Di sana juga ada seorang kartunis (Lat) yang berani hidup total sebagai kartunis profesional dan buku karya kartunnya beredar bukan saja di Malaysia dan Singapura, tetapi bahkan hingga di luar ASEAN.

Humor harus tetap hidup

Pelawak, humoris, kartunis, joke teller, boleh saja mati. Tetapi humor, lelucon, guyonan, canda, slengekan, bebodoran, fun, atau apapun namanya, harus tetap hidup. Kematian, dalam hal ini pelawak, humoris, atau joke teller mungkin hanya persoalan teknis; namun lelucon dan sejenisnya adalah persoalan asasi yang mewarnai kebudayaan suatu bangsa.

Di awal eforia reformasi, kita menampakkan wajah yang jauh dari kesan humoris: garang, chaotic, kalut, bahkan sadistis (dengan tenang dan dingin mudah saja menghajar manusia sampai mati dan membakarnya); padahal sebelumnya kita dengan bangga mengaku sebagai bangsa yang ramah tamah dan toleran.

Kini, setelah tidak ada media (cetak) humor, situasi justru diramaikan oleh banjirnya media (cetak) baru, yang beberapa di antaranya terkesan memberi santapan “budaya” yang jauh sekali dari semangat humor yang ramah dan toleran, yaitu tanpa sungkan- sungkan menampilkan foto mayat dengan leher tergorok celurit, wanita (maaf) bugil gantung diri disertai berderet judul demonstratif dan provokatif yang memberi kesan seolah-olah perbuatan kriminal itu soal biasa, bahkan gampang dan menyenangkan.

Setelah reformasi, bukankah seharusnya kita bersyukur karena secara sosial politis berarti kita lebih bebas dan merdeka dalam arti yang sesungguh-sungguhnya. Tetapi mengapa yang muncul ke permukaan justru terjadinya perkelahian antarkampung, antaretnis, antarpetugas, antarwakil rakyat, antarkelompok profesi?

Saya berbicara demikian sama sekali tidak bergede rasa (GR) bahwa dengan adanya media cetak humor, segala persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan dengan sendirinya dapat dieliminasi. Segala kegalauan, kemarahan, dan ketidakpuasan kita mendapatkan penyaluran; segala kebuntuan mendapatkan katup pelepas yang memadai. Sama sekali tidak. Apa yang tampak di karya humor, lelucon, maupun wajah perlawakan kita adalah representasi dari situasi yang terjadi di pemerintahan, birokrasi, maupun kemasyarakatan kita. Mungkin ini menggemaskan, tetapi begitulah wajah dan fakta yang kita miliki.

Saya teringat ucapan Jaya Suprana yang pilu, tetapi tetap mengandung humor (pahit). “Hidup saya ini sebenarnya kan sedang menunggu mati. Dan kalau saya mati, saya minta jangan ada yang bersedih. Bahkan Anda semua boleh main band, dangdutan tujuh hari tujuh malam di rumah saya.”

Ucapan Jaya ini seperti menyiratkan “luka psikologis” yang menyelinap sangat dalam bila konteksnya dikaitkan dengan sebagian wajah “tradisi amuk” bangsa kita yang mudah menggelora, sekaligus juga menyiratkan ketegaran dan kecuekan seorang humoris yang tak mau larut dalam romantika duka cita dengan segenap ritualnya yang kadang banyak dibumbui artifisialisme. Ini semata asumsi saya. Saya tak tahu, mungkin Jaya Suprana punya pendapat lain. Pasti pendapatnya lebih hot dan ngebor. Eh, nyelebor.

Ketika saya menjadi redaktur pelaksana di majalah HumOr, 1993 (maaf ini ingatan di luar kepala, saya lupa persis kapan tahunnya), dalam salah satu edisinya pernah memuat komik strip, isinya mengkritik soal pembangunan Villa Kapuk Mas yang dampaknya membuat jalan ke Bandara Soekarno-Hatta kebanjiran. Naskah komik itu ditulis Yudhistira Ardi Noegraha Massardi dengan bahasa simbolik dan cukup pedas.

Di luar dugaan, dalam acara pameran kartun di Ancol, ada satu sesi yang membuat kami, Menteri Kehakiman Ismail Saleh, Ir Ciputra, Pramono (kartunis), dan saya makan malam bersama dalam satu meja. Saya menduga Ciputra pasti akan mempersoalkan kritik tentang banjir itu dengan bahasa yang mungkin saja dapat merusak selera makan kami semua. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Kekhawatiran saya itu tidak terjadi.

Dengan bahasa “humor”-nya yang khas, Pak Ci (Ciputra) berkata, “Mas, mbok saya jangan diajak perang, dong. Mau diapa-apain, melawan Sampeyan dan temen-temen Sampeyan (maksudnya: wartawan) pasti deh saya kalah.” Saya hanya menanggapi dengan ketawa dan mengarahkan pembicaraan ke topik yang lain.

Tapi minat Pak Ci terhadap lelucon ternyata lagi penuh semangat. Bahkan, ia memberi masukan lelucon-lelucon lucu yang dikumpulkan dari para caddy-nya saat ia main golf. Walaupun setelah saya kejar, apa yang dimaksud lelucon yang lucu itu ternyata adalah lelucon seks. Hampir mirip dengan lelucon-lelucon seks yang sekarang banyak beredar via SMS.

“Untuk membuat lelucon, saya punya teori,” ujar Pak Ci pada kesempatan pertemuan yang lain. “Caranya gampang sekali. Buatlah orang yang pintar selalu sial dan orang yang bodoh selalu beruntung, pasti di sana banyak konflik dan gesekan.”

Sungguh teori yang menarik. Dan teori itu memang tidak salah. Untuk jenis lelucon slapstick, teori itu sangat efektif. Bahkan salah satu cerita rakyat Cina kuno yang saya anggap sangat lucu juga memakai sandaran teori itu. Judul cerita itu adalah Kemujuran Tiga Kali Lipat.

Kisahnya terjadi pada masa dinasti Ming. Di daerah Linqing, Provinsi Shandong, yaitu tentang seorang tuan tanah kaya yang punya putra bernama Zhang Haogu. Anak muda ini buta huruf, malas, dan doyan foya-foya.

Suatu hari Zhang berjalan-jalan di kota sambil membawa sangkar burung. Ini membuat seorang tukang ramal sakti tergoda untuk iseng-iseng mengusilinya. Tukang ramal itu berkata bahwa suatu saat Zhang akan lulus ujian negara dengan nilai tertinggi dan jadi pejabat negara yang masyhur. Siapa saja yang mendengar ucapan tukang ramal itu pasti akan tertawa tergelak-gelak; bagaimana mungkin anak muda yang buta huruf dan bodoh dapat lulus ujian negara dengan nilai tertinggi dan kemudian menjadi pejabat negara yang masyhur?

Namanya juga kisah lelucon, di kemudian hari, setelah melewati berbagai “keajaiban” yang tampaknya masuk akal, Zhang benar- benar lulus ujian negara dengan predikat terbaik dan jadi pejabat negara yang sangat masyhur.

Beda dengan dua contoh lelucon di bawah ini, besar kemungkinan bukan dari jenis yang slapstick karena mampu memberi penghiburan dan permenungan.

Tseng Chen dan Sang Ibu

Dahulu kala, ada seorang pemuda bernama Tseng Chen. Ia pergi merantau ke negara bagian Fei. Ia tidak tahu bahwa di negara bagian itu ada seorang pemuda lain yang bernama sama dengan dirinya. Dan pemuda itu sedang menjadi buronan polisi karena tuduhan pembunuhan.

Beberapa hari setelah Tseng Chen pergi merantau, seseorang datang menemui ibu Tseng Chen di kampung. Orang itu mengabarkan bahwa Tseng Chen telah membunuh seseorang. Dan Tseng Chen saat ini sedang dicari polisi.

Mula-mula ibu Tseng Chen kaget, namun ia tak percaya anaknya melakukan itu.

Sebulan kemudian, datang orang lain lagi menemui ibu Tseng Chen dan mengabarkan berita yang sama. Ibu Tseng Chen tetap tak menggubris berita itu. Ia tetap tak percaya anaknya melakukan perbuatan semacam itu.

Beberapa minggu kemudian datang orang lain lagi. Kali ini yang ketiga, menemui ibu Tseng Chen.

“Saya baru saja datang dari Fei,” ujar orang itu, “anak Ibu dalam kesulitan besar. Ia telah membunuh seseorang.”

Kali ini ibu Tseng Chen tampak sangat khawatir. Ia lalu membungkus pakaian dan menyiapkan bekal. Esok paginya, ia pergi ke Fei untuk mencari Tseng Chen.

Ternyata, anaknya tetap seorang pemuda yang baik dan tak pernah melakukan kesalahan seperti yang diceritakan orang. Kekhawatiran sang ibu langsung hilang begitu ia berjumpa dengan Tseng Chen yang langsung menceritakan persoalan yang sebenarnya sedang terjadi.

“Ya, Tuhan!” Ibu Tseng Chen berteriak, “Jika saya sampai bisa percaya bahwa anak saya melakukan perbuatan seburuk itu, bagaimana jadinya sikap orang lain kepada yang lainnya? Saya harus lebih berhati-hati dan tidak sembarang mempercayai sesuatu yang saya dengar di masa-masa mendatang.”

Ikan di atas tanah kering

Keluarga Chuang Tzu sangat miskin. Suatu hari Chuang Tzu pergi menemui orang kaya untuk meminjam uang padanya. Orang kaya itu berkata, “Baik, aku akan meminjami kamu beras, tapi, tunggu dulu sampai kakakku membayar utangnya. Nanti kupinjamkan padamu sekitar 300 keping perak.”

Chuang Tzu terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata, “Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman menarik kepada Tuan. Kemarin, sepulang saya dari bepergian, saya melihat seekor ikan tergeletak di pinggir jalan. ’Tolong! Tolong!’ ikan itu berteriak. ’Saya tak bisa bernapas. Tolong kembalikan aku ke laut’.”

“’Sebenarnya, saya sedang dalam perjalanan ke rumah saudara yang tinggal di laut sebelah barat’,” ujar saya. “’Saya akan mengirim air untukmu dari sana’.”

“’Ah, itu akan sangat terlambat,’ sahut ikan itu. ’Jika Anda tidak segera mengembalikan saya ke laut, saya pasti mati’.”

“Kisah ini, Tuan,” ujar Chuang Tzu kepada orang kaya itu, “mengingatkan saya pada jawaban Tuan. Jika Tuan memang berniat menolong, kenapa tidak Anda lakukan sekarang juga? Meskipun sebenarnya juga sudah terlambat.”

Orang kaya itu menyerahkan beras sebanyak yang telah disebutkan Chuang Tzu dengan tanpa berkata apa-apa.

Akhirnya dengan tak lupa memberi salut dan salam hormat atas dedikasi Bung Ateng selama berkarier sebagai pelawak, lewat forum ini saya ingin mengajak teman-teman pelawak, humoris atau penggemar humor, agar tak bosan-bosan menyebarkan wabah toleransi dan keramahtamahan, karena dua hal yang tampaknya sepele itu naga-naganya juga berkecenderungan punah sehingga membuat kita makin mudah marah dan gemar destruktif. Saya tidak mengatakan ini ada kaitannya dengan sebagian perilaku wakil rakyat kita atau unsur organisasi tertentu, lho. Sungguh!

Darminto M Sudarmo Pengamat humor, tinggal di Jakarta

9 comments on “GURU ITU BERNAMA DARMINTO M SUDARMO

  • salam buat pak dar , pak madun yosi herfanda dll . kenapa produk kartun tidak seramai dulu dimedia nasional spt di tempo, kompas, sinar harapan atau mungkin di republika. saya tidak tahu persis apakah semua kartunis di dunia punya blog kartun terutama dari komunitas kartun di ibu kota kartun yaitu kaliwungu kendal. mohon informasinya. matur nuwun.

  • Dear Mas Martono, moga sehat-sehat. Masih inget ketika kita ketemu di kantornya Mas Darminto/Jayakarta, tahun 1985-an (?) saat menagih honor ? Senang sekali bisa ketemu Anda di blog ini.

    Saya juga lagi kontak-kontak lagi sama beliau.
    Sukses selalu. Salam adri Wonogiri.

  • Bisa ajarin buat ilustrasi kartun nggak? Kalau bisa, ajarin dan kalau perlu pakai program, programnya yang free download ya, kalau mesti di download.

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: