GM SUDARTA

GM Sudharta
Karikaturis Tepo Seliro

<span class=”
PENAMPILANNYA amat khas: berpakaian serba hitam dan kacamata minus warna gelap. Gaya bicaranya tenang, serius, dan agak pelit senyum. Ketika GATRA menemuinya Kamis dua pekan silam di Galeri 678, Jalan Kemang Raya 32, Jakarta Selatan, ia sedang asyik melihat persiapan pameran lukisannya, yang dibuka Sabtu 11 Agustus lalu.

Sebuah suvenir bagi pengunjung pameran dia tunjukkan. ”Bagus nggak?” tanyanya sambil menyodorkan kertas berlipat diberi judul ”The Great Man from the Dark Side of 20th Century”. Isinya gambar karikatur 13 tokoh abad gelap abad ke-20 dari seluruh dunia, di antaranya: J. Stalin, Adolf Hitler, Ferdinand Marcos, dan Soeharto.

Setelah tiga tahun lebih menyepi di tanah kelahirannya, Klaten, Jawa Tengah, kartunis Gerardus Mayela (G.M.) Sudarta kembali memamerkan karya lukisan di Jakarta, yang diberi tajuk ”Metafora Romantika”. Sekitar 38 lukisan plus karya karikatur yang dipamerkan adalah karyanya selama di Klaten. Kebanyakan bertema perempuan dan anak.

”Saya tak pernah melupakan Ibu, istri saya, dan perempuan lain yang berjuang keras untuk anak-anaknya,” katanya pelan. Selama ini, Sudarta –panggilan akrab G.M. Sudarta– lebih dikenal sebagai kartunis. ”Ayah kandung” tokoh karikatur populer di harian Kompas, ”Om Pasikom”, ini menekuni seni lukis kembali setelah merasa menggambar kartun tak perlu jurus-jurus dan gereget lagi. ”Semua sudah terekam di memori,” kata pendiri ASEAN Cartoon Association ini.

Proses penekunan pada seni lukis itu bersamaan dengan sakit tanpa sebab yang dideritanya selama tiga bulan pada 1998. Dokter sudah angkat tangan soal penyakit yang diderita Sudarta. Sampai dokter berpikiran macam-macam. ”Wah, jangan-jangan kamu kena sawan,” kata Sudarta menirukan dokter yang merawatnya.

Atas anjuran teman, Sudarta diminta melukis, dengan alasan sebagai penyeimbang. Sejak menekuni kembali melukis, Sudarta pun sembuh. Ia menyadari, melukis harus terus dilakukannya, karena sudah dua dasawarsa hidupnya digadaikan untuk kartun politik. Menciptakan kalimat menyentil, melihat kenyataan pahit, sangat menguras pikirannya.

Apalagi karyanya selalu berhubungan dengan realitas menyakitkan. ”Saya harus berpikir keras, agar karikatur saya punya gereget, dan bisa menghibur,” katanya. Dengan melukis, Sudarta bisa mewujudkan, menggambarkan, hal-hal yang indah, tanpa memikirkan kenyataan yang menyakitkan. ”Di sinilah penyeimbang itu ada.”

Penyeimbang lain dilakukan dengan menulis cerpen, bermain gitar, membuat komik, atau membuat ilustrasi buku cerita anak-anak. ”Semua harus diselingi, biar hidup tak membosankan,” kata peraih penghargaan The Best Caricature of Japan, pada 1999, ini.

Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 20 Februari 1946, itu sejak kecil tak bercita-cita menjadi pelukis. ”Saya pingin jadi masinis kereta,” kata bungsu dari lima bersaudara ini. Maklumlah, Sudarta kecil paling suka duduk di pinggir rel kereta, sambil melihat kereta api lewat. Setelah menghilang dari pandangan, ia selalu berpikir, apa lagi yang ada di balik cakrawala.

Toh, bakat corat-coret sudah tumbuh sejak ia masih balita. ”Saya suka mencoret-coret tembok rumah dengan arang,” tuturnya mengenang. Ayah-ibunya tak marah, justru anak pasangan Hardjowidjojo-Siti Sumirah ini dibelikan papan tulis dengan kapur warna.

Paling disukai melukis poster film yang dilihatnya di gedung bioskop. Kebetulan, sang ayah penjaga pintu bioskop. ”Saya bisa bebas keluar-masuk bioskop,” Sudarta mengenang. Seusai menonton film, Sudarta –yang kala itu masih berusia enam tahun– melihat gambar-gambar poster. ”Judul dan gambarnya saya hafalin.” Di rumah, ia gambar ulang, dan keesokan harinya papan tulis bergambar dipajang di depan pintu rumahnya, di daerah Sumotrunan, Klaten.

Setiap orang yang lewat di depan rumahnya akan melihat lukisan itu. ”Saya merasa bangga, dan itu pameran pertama lukisan saya,” kata Sudarta. Sejak saat itu ia mulai tekun menggambar, dan memutuskan menimba ilmu di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, meski tak tamat. Sebab, pada tahun kedua, bersama rekan seangkatannya, Pramono dan Sapto Hadi, ia terpilih sebagai perancang diorama Museum Nasional, Jakarta, pada 1966.

Kegiatan itu berlanjut hingga 1967. Sudarta ikut juga mendesain Monumen Pahlawan Revolusi Lubang Buaya. Karena tuntutan perut, atas informasi Jasso Winarto –pengamat ekonomi yang kala itu masih menjadi wartawan– Sudarta mengambil kesempatan sebagai karikaturis harian Kompas, pada 1967. ”Test pertama, saya disuruh gambar penumpang pesawat terbang yang panik, karena pesawatnya mau jatuh.”

Ia pun diterima, dan lahirlah maskot ”Om Pasikom” –pria berjas tambalan, dengan baret. Sementara nama ”Om Pasikom” diperolehnya dari nama ”Kompas”. ”Kompas kalau disebut berulang-ulang jatuhnya jadi Pasikom,” kata pria yang setiap tahun mencetak kartu nama unik, bergambarkan karikatur karyanya, itu.

Sosok ”Om Pasikom” digambarkan sebagai pria kelahiran tahun 1935-an. ”Maksud saya dia orangnya netral, bukan angkatan ’45, ’66, Orde Baru, atau apa pun.” Saking ngetop-nya, tokoh ”Om Pasikom” pernah dituangkan di layar lebar (diperankan Didi Petet). Sayangnya, pada 1985, popularitas ”Om Pasikom” pernah dimanfaatkan sebuah perusahaan selai kacang.

Sudarta tak pernah tahu bahwa karyanya dijiplak total. Ujung-ujungnya, diperkarakan ke meja hijau. ”Saya menang,” kata kartunis yang rajin mengirim karyanya di Kyodo Shimbun, harian terkenal di Jepang, itu. Tak ingin terulang lagi, Sudarta akhirnya mematenkan ”Om Pasikom”.

Hingga kini, sudah lebih dari 30 tahun Sudarta menggeluti karikatur. Ia dikenal sebagai karikaturis yang hati-hati, halus, ”takut-takut”, dan jauh dari sarkastik. ”Prinsip saya, karikatur ibarat anjing penjaga,” ujarnya. Punya misi perbaikan, ada unsur humornya, dengan tujuan yang dikritik tergugah untuk berdialog. ”Karikatur tepo seliro” begitu Sudarta menamakannya.

Apalagi fungsi karikatur di Indonesia cukup jelas, dan lebih terbuka. ”Tak seperti di Singapura atau di Malaysia,” ujarnya. Bisa membuat senyum semua pihak, yang dikritik berhak marah, kartunis bisa terlepas dari beban. Selama ini, ia memang tak pernah ditegur pejabat yang tersinggung atas karyanya. Karikaturnya sudah sejiwa dengan kebijakan redaksi. Resepnya, ”Sedikit tahu dan ikut rapat redaksi, tahu perkembangan berita. Kita tinggal mengolah.”

Karya paling berkesan, saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Karya itu benar-benar mencerminkan nasib keluarganya yang terancam, takut, dan sedih. Perasaan itu digambarkan sebagai berikut: ”Om Pasikom” beserta anggota keluarganya menutup muka sambil tersedu-sedu dalam gelap. Di kegelapan itu tertulis kata-kata: ”Kami menangis bukan karena gas air mata, tapi karena benar-benar sedih.”

Kala itu, Sudarta sekeluarga tinggal di Perumahan Pondok Kelapa Indah, Kalimalang, Jakarta Timur. Lokasinya berdekatan dengan pusat-pusat pertokoan yang dibakar dan dijarah massa. ”Anak-anak saya nangis. Saya sendiri sudah siap perang, bawa pedang,” katanya. Para penjarah yang sudah menuju rumah Sudarta pergi saat diacungi pedang. ”Mereka mundur, tapi jiwa saya, istri, dan anak-anak benar-benar terguncang, trauma,” tuturnya pelan.

Karena itulah, ia memutuskan kembali ke Klaten. Di kampung halamannya, Sudarta menemukan kembali romantisme masa kecilnya. Rumahnya di Gemblegan, Kalikotes, dikelilingi hamparan sawah. Di depan tanah seluas 1.000 meter persegi itu terbentang rel kereta yang berbatasan dengan sawah di depan rumahnya.

”Saya merasakan kembali kenangan masa kecil, saat mendengar suara kereta lewat di depan rumah saya,” katanya. Di sana, Sudarta membuat sanggar seni ”Grha Budaya Sekar”, sementara Susi –panggilan istri Sudarta– membuat sanggar tari. ”Rumah saya jadi regeng setiap hari,” ujarnya. Terutama saat hari libur, ia merasakan kebersamaan dengan tetangga yang tinggal di sekitarnya.

”Mereka sering main, ikut sanggar, dan silaturahmi,” kata pria yang memeluk Islam saat berusia 44 tahun itu. Rasa kebersamaan inilah yang tak ditemukan di Jakarta. ”Di Klaten, saya mengenal penduduk hampir satu desa,” tutur peraih Hadiah Adinegoro untuk kategori karikatur dari 1983 sampai 1987 ini.

Di desa kelahirannya, ayah si kembar Aryo Damar dan Nimas Sekar –yang kini berusia 10 tahun– itu ingin menghabiskan masa tuanya. Untuk menghadirkan ”Om Pasikom” di Kompas, pria jangkung pengoleksi lebih dari satu kodi baju warna hitam itu cukup mengirimnya lewat e-mail dua hari sekali.

Ketika ditanya alasannya berpakaian hitam rancangan Sanny Budiarto itu, Sudarta sejenak terdiam. ”Alasan seriusnya, kalau kotor nggak kelihatan,” kata pria yang mengaku lebih dahulu berpakaian serba hitam sebelum paranormal Permadi melakukannya. ”Alasan nggak seriusnya, hitam itu warna optimistis.”

13 comments on “GM SUDARTA

  • Assalamualaikum Pak Sudarta. Semoga sihat, agar dapat terus berkarya. Saya Rossem, temanmu dari Malaysia, juga kartunis, sudah dua kali ketemu di Kuala Lumpur. Harap masih ingat.

  • assalamualaikum om sudarta, saya wiwit seorang mahasiswa komunikasi yang sedang meneliti karya om mengenai oom pasikom,,apa saya bisa ngobrol atau berbincang lebih jauh dengan om?? tapi caranya bagaimana ya?

  • Ass..mas gm semoga Allah selalu merahmati..sejak kepergian mas..kami seolah kehilangan figur..spt anak ayam kehilangan bapaknya..namun kami yakin hati dan cinta mas masih tetap utuh untk seniman2 klaten yg masih butuh dukungan n semangat dari mas gm..kata dan spirit mas gm masih kami tertancap di hati kami..ttg ‘mimpi’ ttg harapan..dll..meski begitu kami terus berjuang agar kami bisa tumbuh..harapan kami apa saja yg bs mas lakukan utk memupuknya mas gm sudi melakukannya..bg mas kecil luarbiasa manfaanya..

  • Ass Pak Sudrta, saya salut dan bangga dengan karya Bapak. Saya salah seorang penggemar karya bpk: kartun dan om pasikom. Smoga bpk sehat dan slalu berkarya. Amiin

  • ass wr wbkth
    Kangmas Sudarta, apa panjenengan sudah menurunkan “ilmunya” kepada generasi dibawahmu
    Jangan tinggalkan Duniamu sebalum ada penggantimu sdrku
    Seni “karikatur” adalah seni yg langka…….lestarikan…..tetap semangat

  • wariskan kehebatanmu pada generasi dibawahmu wahai saudaraku
    seni “karikatur” adalah seni yg langka
    ciptakan gm sudarta gm sudarta yg lain sebelum panjenengan meninggalkan ” duniamu”…….dunia karikatur

  • lhawong yo kuli tinta..kerjaannya yo, menulis & melukiskan rasa suatu kisah dunia.. kisah dunia = kisahNYA.. karo GustiAllah diutus ngono kuwi.. Kerelaan nglakoni adalah karuniaNYA yg Dahsyat.. nderek bersyukur..salam.

  • Ass.Wr.Wb, Pak Sudarta, sy sangat bangga dan merasa tergugah dengan kecerdasan Bp mengungkap hal yg penting, genting!, atas sajian-sajian yg sy ikutan puluhan tahun, sy mengucapkan terima kasih semoga tetap berkarya selalu, cepat sembuh dan ada yg mewarisi, Amien, wass. Nb, bisa tahu eailnya?

  • Karikatur bapak (lebih tepatnya eyang) G.M Sudarta bukan cuma kritis tetapi sangat dalam, sehingga setiap kita yang melihat karikatur buatannya, kita bisa menangkap ekspresi orang yang digambarnya……
    Apakah ada yang punya kontak e-mail ataupun nomer beliau?

  • Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d blogger menyukai ini: