Groboganku


Tentang Tanah kelahiranku

Tanah kelahiran, betapapun pahitnya kehidupan masa silam, tetaplah ia sebuah kenyataan yang harus diterima sebagai bagian dari kehidupan kita. Sebuah kota yang memberikan banyak warna dalam kehidupanku

toko viva

Toko Viva 1985

GROBOGAN, SEBUAH MOSAIK KEHIDUPANKU

Tanah kelahiran, betapapun pahitnya kehidupan, tanah kelahiran adalah kenangan yang indah bagi saya. Karena dari sanalah darah, daging, dan kehidupan saya berhulu. Ia boleh menjadi masa silam. Ia boleh saya pendam rapat-rapat dalam kekinian saya, namun dalam mimpi dan ketidaksadaran, ia senantiasa muncul dan memanggil saya untuk pulang kembali. Menghirup udaranya, menyusuri kepahitan dan keriangan kecil yang pernah saya alami.

Grobogan, sebuah kota kecil yang berdebu, adalah tanah kelahiran saya. Saya akan senantiasa teringat Kali Lusi yang menyusuri tepiannya. Waktu kecil dulu saya sering mandi di sana. Di musim kemarau airnya tinggal sedikit, sehingga membuat orang untuk menggali sumur-sumur kecil untuk diambil air beningnya. Kali Lusi dengan jembatannya yang waktu itu belum diperbaiki sehingga kita merasa ngeri jika melintasinya.

Saya teringat juga tentang kereta api yang waktu itu masih beroperasi. Saya sering naik di gerbong dengan kaki terjulur keluar. Atau juga tentang perjalanan saya setiap pagi berangkat ke sekolah waktu smp dengan naik sepeda.

SMP saya adalah SMP Negeri 1 Purwodadi yang terletak di Jl. Siswa. Akan saya ingat selalu siaran Radio Bhayangkara yang kakak saya menjadi penyiarnya yang mengalunkan lagu-lagu Koes Plus yang mengiringi saya bersepeda berangkat sekolah. Jalanan berdebu, siang terasa terik, namun malam hari menjadi dingin adalah ciri khas Grobogan waktu itu. Kehidupan boleh dibilang statis, karena kota ini adalah sebuah kota yang sungguh amat sangat tidak strategis.

Purwodadi 1985
Maka boleh dibilang tingkat perekonomiannya sangat pas-pasan. Ayah saya adalah seorang guru. Saya ingat betapa beratnya kehidupan pada waktu itu. Jika seorang pegawai negeri saja kehidupannya berat, bayangkan yang terjadi pada masyarakat biasa? Grobogan dikenal sebagai daerah tandus, kehidupan pertaniannya juga tergantung kepada curah hujan. Sungguh sebuah kota yang tak menjanjikan apa-apa.

kabupaten

Kabupaten

Mengenang SMP Negeri I Purwodadi, maka terlintas banyak nama, ada Pak Sulaeman, kepada sekolah di sana. Ada Pak Edi Rapun, guru PPKN, Pak Yanto, guru aljabar, ada Bu Iriyanti, wali kelas saya, ada Totok, ada Bambang, ada Sinar ( sampai sekarang saya senang dengan nama lengkapnya: Sinar Retnaningwati), ada Edy, ada Asih, entah, entah siapa lagi….

Masa SMA saya berjalan dengan begitu sederhana. SMA saya adalah SMA Negeri 2 Purwodadi yang sekarang berubah menjadi SMA Negeri I Grobogan. Seperti layaknya semua orang, masa remaja adalah masa yang paling indah, karena di sana ada cinta pertama, ada semangat muda yang menggebu, ada kekaguman akan seseorang, sekaligus ada putus cinta. Di sana pula ada persahabatan.

Saya punya seorang teman SMA yang bernama Rochmulyati. Entah di mana dia sekarang. Namun dengannya saya banyak berbincang tentang banyak hal. Dari musik hingga yang lain.

Saya juga punya seorang teman baik yang bernama Sudargo, seorang pecinta berat Oma Irama. Ada juga Betty, anak IPS yang enak untuk diajak berbincang, ada juga teman-teman satu geng, Yono, Mugi, dan beberapa yang saya lupa namanya. Mereka adalah orang-orang yang mengisi kehidupan keremajaan saya di tanah kelahiran. Di mana mereka sekarang? Kini, di masa tua.

Setiap kali saya pulang kampung, saya senantiasa mencoba untuk menyusuri masa silam saya. Kecap cap Udang adalah symbol masa silam, nasi pecel, tahu petis, nasi pindang, dan beberapa makanan lain masih tetap bertahan hingga kini, dan saya selalu menikmatinya dengan perlahan-lahan, seolah-olah saya kembali terseret ke masa silam. Kehidupan sudah banyak berubah, bioskop Kencana sudah lama tutup. Pohon beringin di sudut alun-alun sudah tidak ada lagi, stasiun kereta api sudah tinggal kenangan, yang tersisa cuma rel-rel yang terpendam oleh aspal. Pusat keramaian sudah pindah ke arah simpang lima, radio RSPD sudah kalah dengan radio swasta yang lain, masa silam terkubur oleh peradaban. Tapi masih ada tetap bertahan, siang panas dengan debunya, dan kecintaan saya akan tanah kelahiran. Juga umpatan khas Purwodadi yang tak pernah saya dengar ketika saya di Jakarta keluar dari mulut kenek bis di terminal. Saya tersenyum sendiri…

Setiap saya pulang kampung, saya senantiasa ingin memunguti kehidupan masa silam yang tercerai berai dan ingin menyusunnya menjadi sebuah mosaik yang bisa menjadikan sebuah cermin bagi saya dan anak-anak saya. Karena ia masa lalu saya, karena sebagian besar kehidupan saya ada besertanya. Masa kecil, entah bagaimana saya menyebutnya, apakah saya bahagia atau sebaliknya. Tapi penggalan-penggalan kenangan itu tiba-tiba menjadi indah saat saya menjadi tua. Kepingan-kepingan itu sungguh membuat saya kangen. Ketika saya memposting tulisan ini, tiba-tiba sebuah lagu lama dari Koes Plus menyeruak perlahan

tiba-tiba kumenangis

sedih hatiku sedih

mengapa kubegini

ku tiada pernah mengerti

pergi mengapa pergi

mungkinkah kau kembali

Komentar (16)

BERTAHAN HIDUP DENGAN KARTUN

Apa kabar kartunis Indonesia? Senang anda mampir di blog saya. Saya mungkin kartunis tua yang masih aktif di Indonesia. Bertahan dengan hidup sebagai kartunis sudah 27 tahun. Banyak hal yang saya dapatkan dari dunia kartun yang tidak saya peroleh jika saya tak terjun ke sana. Secara materi mungkin tak seberapa. Tapi saya senang dan menikmati sebagai katup penyelamat dalam kejenuhan hidup dan bekerja sebagai guru. Senang bisa banyak berbagi dengan teman-teman kartunis lainnya. terutama kartunis muda yang mungkin ingin mendengar cerita tentang dunia kartun, atau justru menjadi guru bagi saya dalam menekuni dunia kartun.
Dunia kartun mengartun sebenarnya dunia yang menjanjikan jika kita mau menekuninya secara sungguh-sungguh. Banyak teman-teman kartunis (bahkan saya sendiri pada mulanya) mengira dunia kartun itu berhenti pada kartun kita hanya dimuat di media, mendapat honor, selesai. Atau paling banter menjadi karikaturis tetap di sebuah media. Dalam perjalanan kekartunan saya, ternyata saya mendapat kesimpulan bahwa anggapan saya tersebut salah besar. Mengandalkan kartun kita dimuat di media tidaklah banyak menjanjikan. Keberadaan media yang memuat kartun lepas bisa dihitung dengan jari, selain itu honorarium yang kita terima sungguh membuat kita sesak dada. Belum lagi persaingan antar kartunis yang bukan main kerasnya, itu semua memaksa kita untuk mensiasati pasar. Bagaimana caranya? Ada banyak wilayah yang bisa kita jangkau dengan kartun. Ikut lomba kartun internasional misalnya. Dari hasil browsing saya di dunia maya, event lomba kartun internasional paling banyak di antara event lomba lain.
Ngomongin lomba kartun internasional, kartunis Indonesia Jitet Koestana merupakan kartunis Indonesia yang paling rajin mengikuti event internasional, dan juga memenangkan berbagai penghargaan. (baca halaman Artikel Kartun). Tetapi untuk mencapai hal tersebut perlu kerja keras karena pesaingnya ratusan kartunis dunia. Ongkos perangkonya pun cukup menguras kantong. Tapi coba pula ikuti yang lewat internet, lumayan ngirit.
Dunia lain yang bisa kita rambah adalah dunia buku anak. Banyak sekali ilustrator buku untuk anak berangkat dari kartunis. Di negara kita ini buku cerita anak produksi lokal sangatlah jarang. Kalaupun ada kualitasnya kurang layak. Kita harus menjawab tantangan tersebut. Sanggupkah kita? Jawabannya tergantung dari kita. Kalau kita mau belajar banyak hal, pasti sanggup. Saya pernah ngobrol tentang Jitet dengan Mas Darminto. Mas Dar bilang mengapa Jitet kartunnya kuat karakternya? Jawabannya adalah karena Jitet belajar filsafat. Obrolan itu mengilhami saya tentang sebuah usaha dalam mencapai sesuatu. Sebuah kesuksesan tak akan kita raìh tanpa kerja keras. Kerja keras tak akan ada artinya jika kita tak ada ilmu yang mendasarinya
Lain kali saya teruskan tulisan ini…

Salam kartun!

Komentar (10)

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Komentar (1)

« Tulisan Lebih Baru