Nasib Sang Buaya

Published 28/12/2009 by martono loekito

Jika pertandingan antara KPK lawan Polri atau antara cicak lawan buaya dilepas secara bebas, pastilah cicak yang akan mati dan kalah. Karena selain menghadapi lawan yang tidak seimbang. Cicak pun harus menghadapi dua lawan sekaligus yang kedua-duanya adalah lawan yang sangat hebat dan kuat. Untungnya, cicak mendapat dukungan atau support masyarakat yang luar biasa. Karena dukungan public yang luar biasa, sehingga para buaya pun segan untuk menunjukan taringnya.

Sekarang yang terjadi baru bertanding lari antara buaya dan cicak. Dan keberuntungan ada pada cicak, karena pertandingan lari ini dilakukan di darat. Kita tidak dapat membayangkan, bagaimana jadinya, jika pertandingan lari atau adu cepat buaya lawan cicak ini dilakukan dalam air. Lebih dari itu, sdi punya buaya pun nampaknya agak malu-malu untuk ikut campur secara terang-terangan. Karena sesuai dengan peraturan para juri, pertandingan tersebut hanya berlaku antara buaya lawan cicak. Pemilik buaya tidak boleh ikut.

Kondisi buaya yang tidak mahir berjalan di darat, nampaknya belakangan mulai keteter. Cicak yang sangat sigap berada di darat, nampaknya sudah mulai meninggalkan binatang buas nan besar tersebut. Dan cicak semakin bersemangat, karena supporter semakin mengelu-elukannya. Sedangkan buaya matanya terus nanar melihat sang pemilik. Intinya sang buaya ingin meminta bantuan kepada sang pemilik agar segera
menghentikan lomba lari ini. Kecuali kalau ingin melihat buaya dikalahkan seekor cicak.

Dan si pemilik rupanya cukup tanggap. Maka kemudian si pemilik memanggil pawang yang dinamakan Tim Pencari Fakta (TPF). Tim inilah yang nantinya diharapkan mampu pertandingan lari sebelum sampai finish. Sang pawang pun sebenarnya akan segera melaksanakan tugasnya demi menyelamatkan buaya atas pesanan si bos. Namun, masalahnya ternyata tidak sesederhana itu. Semua penonton saat ini melihat kea rah medan lomba, Karena itu, sedikit saja TPF membuat kesalahan, pasti akan disoraki penonton.

Lebih celakanya lagi, buaya yang lemah di darat tidak segera menyadari kemudian melempar handuk tanda menyerah kapada cicak. Yang terjadi adalah seolah-olah buaya masih perkasa dan siap meladeni kemampuan cicak. Maka sejatinya, pertandingan lari ini sudah tidak menarik lagi. Sebab meskipun buaya memiliki tubuh besar dan taring yang mengerikan. Namun, faktanya tubuh dan taring yang tajam tersebut tidak dapat digunakan sebagaimana peruntukannya.

Di sisi lain, para penonton yang sejak lama memang jengkel kepada buaya, karena perilakunya yang kerap memakan hewan peliharaan orang kampong, menjadi semakin bersemangat menyoraki kelemahan binatang buas tersebut. Maka sekarang tertawalah si cicak. Meskipun dia adalah hewan lemah dan kecil, tetapi ternyata mampu melewati perlawanan buaya dengan mulus. Pertanyaannya adalah apakah buaya pasti akan kalah dan cicak merupakan pemenangnya?

Jawabnya, belum tentu. Karena pertandingan masih terus berjalan, dan segala sesuatu dapat saja terjadi. Hal ini terlihat dari kengototan buaya yang sampai saat ini belum melempar handuk tanda menyerah. Demikian halnya si pemilik buaya. Sampai sekarang pun masih belum memerintahkan binatang buas itu untuk menyerah. Karena itu, kita semua masih menunggu apa yang akan dilakukan si pemilik buaya. Sebab kalah menangnya sang buaya, lebih banyak ditentukan keputusan politik si empunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: