KARIKATUR

Published 20/05/2010 by martono loekito

Polri Lawan Teroris Jago, Lawan Markus Loyo (?)
Saat ini Densus 88 mungkin dapat dikatakan merupakan satu-satunya elemen Polri yang mendapat tempat di hati masyarakat. Mereka benar-benar sangat berprestasi sesuai dengan bidangnya, khususnya dalam memberantas teroris. Dapat dikatakan bahwa Densus 88 adalah satu-satunya divisi Polri yang paling bisa mengangkat citra Polri di mata masyarakat.

Lebih dari itu mungkin prestasi Densus 88 dalam memberantas teroris bisa dikatakan bukan saja diakui secara nasional tapi juga diakui secara internasional. Hal ini bisa dilihat dari dari salah satu prestasi mereka ketika berhasil melumpuhkan Dulmatin, seorang teroris paling dicari di Asia Tenggara, bahkan kabarnya juga dicari oleh Amerika di mana Negara tsb menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang bisa menangkap Dulmatin hidup atau mati.

Seperti telah diberitakan bahwa setelah sukses melumpuhkan gembong teroris seperti Dulmatin, Noordin M.Top, Dr.Azhari, dll, belum lama ini diberitakan bahwa Densus 88 sukses menggerebek jaringan teroris di 3 lokasi yaitu di Jakarta (Cawang), Cikampek, dan Solo, pada hari Rabu, 12/5/2010). Dalam penggerebekkan tsb dikabarkan 5 orang teroris ditembak mati.

Hal yang sangat patut dipertanyakan masyarakat adalah, mengapa prestasi Densus 88 dalam memberantas teroris, tidak diikuti dengan prestasi elemen Polri lainnya dalam memberantas para penjahat dalam bidang lain, terutama dalam memberantas para markus (makelar kasus) ?

Mengapa Polri terkesan jago melawan teroris tapi loyo dalam memberantas para markus ? Hal yang sangat disayangkan adalah para petinggi Polri tsb justru ada yang menjadi bagian dari markus itu sendiri, seperti yang telah diungkapkan oleh mantan Kabareskrim, Komjen Susno Duadji.

Ada lagi sesuatu yang sangat mengecewakan banyak pihak di masyarakat, yaitu Polri terkesan kurang memiliki kemauan baik (goodwill) dalam membongkar berbagai kasus markus yang sudah diungkapkan oleh Susno. Lebih mengecewakan lagi ketika Susno yang saat ini sudah dianggap sebagai whistle blower (peniup peluit) dalam mengungkapkan kasus para markus justru lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka dan kini ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Jika Polri ingin berprestasi dalam memberantas para markus sebagaimana sukses Densus 88 dalam memberantas teroris, maka salah satu langkah awal yang perlu dilakukan adalah memiliki kemauan baik untuk membongkar kasus markus secara tranfaran dan memberi ruang seluas-luasnya kepada siapa saja, termasuk Susno dalam membongkar kasus tsb.

Polri seharusnya memperhatikan kritik dari berbagai pihak tentang adanya kejanggalan terhadap perlakuan terhadap Susno yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan kini sudah ditahan. Untuk itu tulisan ini kembali menyajikan adanya kejanggalan terhadap perlakuan terhadap Susno seperti yang diungkapkan oleh berbagai pihak di bawah ini.

Ketua DPR Marzukie Alie mengeritik pedas tentang penangkapan Susno tsb dengan menyatakan bahwa dia prihatin benar, laporan Pak Susno seharusnya ditindak lanjuti dulu. INI SEOLAH-OLAH INFORMASINYA DICEGAH SUPAYA JANGAN MENYEBAR KE MANA-MANA.

Lebih jauh Marzuki mengatakan, kalau begini orang akan takut melapor. Jenderal bintang tiga saja ditangkap, apalagi rakyat biasa, pasti takutlah. KALAU HATI NURANI SAYA BICARA, HUKUM DI SINI KACAU. KALAU MELAPOR MALAH DITANGKAP. (detik.com:10/5/2010)

Sementara itu Tim kuasa hukum Susno menilai, alasan penangkapan Susno terlalu dicari-cari. Susno menolak meneken surat penangkapan yang disodorkan penyidik.

Salah satu pengacara Susno M.Assegaf, mengatakan bahwa pihaknya merasa DIJEBAK oleh Mabes Polri. Tidak ada rencana penahanan sebelumnya terhadap mantan Kabareskrim tersebut.

Assegaf menuturkan, kliennya ditahan dengan alasan yang sangat normatif dan tidak mungkin dilakukan oleh seorang jenderal bintang tiga. “Alasannya normatif, katanya takut mempersulit pemeriksaan, menghilangkan barang bukti dan melarikan diri. Ini sangat subjektif dan tidak bisa diterapkan kepada seorang jenderal.”

M.Assegaf melihat adanya keanehan yang nyata dalam kasus kleinnya ini karena, SUSNO SUDAH DITETAPKAN JADI TERSANGKA dalam kasus dugaan suap. Namun PIHAK YANG DIDUGA MEMBERI SUAP kepada jenderal bintang tiga ini BELUM DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA. Lalu apa yang mendasari Susno terlebih dahulu dijadikan tersangka? (Jktpress.com.10/5-2010).

Ada lagi hal yang perlu diperhatikan oleh Polri sebagai bahan koreksi diri, jika memang memiliki kemauan baik dan serius untuk memberantas para markus. Hal yang perlu diperhatikan tsb adalah KRITIK DARI KOMNAS HAM, dimana institusi telah menyatakan bahwa PENAHANAN TERHADAP SUSNO TELAH MELANGGAR HAM.

Dapatkah prestasi Densus 88, dalam memberantas teroris diikuti oleh prestasi elemen Polri lainnya dalam memberantas para markus ? Jawabannya saya serahkan kepada para pembaca tulisan ini.
Salam sukses terus
(kompasiana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: