MENGAGUMI JITET

Kartun Asia Berburu Pekerjaan

Problem ketenagakerjaan di Asia diangkat menjadi tema lukisan kartun. Itulah pameran kartun Asia ketujuh bertema “Cari Kerja di Asia” di gedung The Japan Foundation, Summitmas Lantai 2, Jakarta, yang masih akan berlangsung hingga 28 Januari 2005. Delapan kartunis kuat dari delapan negara, antara lain Ravikanth Nandula (India), Genesis (Malaysia), Jun Aquino (Filipina), Thi-wa-wat Pattaragulwanit (Thailand), termasuk Fukuyama Yoji (Jepang) dan Jitet Koestana (Indonesia), memamerkan 80 karya. Pameran seni yang cukup komunikatif, kontekstual, dan relevan dengan kondisi kekinian negara-negara Asia, termasuk Indonesia, itu cukup menarik pengunjung. Beberapa pelajar dan mahasiswa mengunjungi pameran itu pada Rabu (12/1) dan tampak mengamati kartun-kartun yang dipamerkan.

Sejumlah kartunis tersebut mencoba merefleksikan masalah ketenagakerjaan dan problem seputar pencarian pekerjaan dalam konteks masing-masing negara dengan ragam pendekatan. Ada yang mendekati dengan selera humor, ada yang bersemangat satiris dan protes, selain ada yang membawa pesan antidiskriminasi gender serta yang bersemangat memuat pesan filosofis. Semuanya digarap dengan skill kartunis yang oke dan berwarna.

Begitu masuk ruang pameran seluas lapangan badminton, pengunjung disuguhi kartun-kartun karya Fukuyama Yoji dengan prolog biodata dan potret diri sang kartunis. Karya Yoji yang dipajang di urutan pertama berteks “She was a pretty woman… before her sex change”. Kartun itu menggambarkan problem ganti kelamin di Jepang dalam dunia kerja. Pelegalan ganti kelamin melalui operasi bagi orang yang mengalami gangguan identitas gender memungkinkan terjadinya situasi komikal dan lucu di tengah masyarakat. Kartun ini menggambarkan seorang karyawati berbusana seragam wanita berwarna pink dan topi berpita yang duduk di belakang meja resepsionis, tapi wajahnya berkumis. Di belakangnya, tiga karyawan mengintip penampilan sang resepsionis dengan mata terbelalak keheranan.

Karya Yoji lain yang menarik kartun berteks “I’m working a different job now”. Kartun ini menggambarkan seorang laki-laki yang berbadan kekar seperti aktor laga Stallone yang berpose di depan kelas melukis. Berdiri di atas sebuah panggung kecil, laki-laki yang seluruh tubuhnya bertato itu berpose tanpa busana. Di depannya, sejumlah pelukis merekamnya di atas kanvas. Namun, ada seorang yang seperti berlari terbirit-birit menyaksikan tubuh telanjang yang bertato itu.

Siapa Fukuyama Yoji yang merekam problem ketenagakerjaan di Jepang dengan pendekatan humor itu? Wajahnya, seperti tampak dalam katalog, mengesankan orang serius, dengan mata yang besar dan tatapan yang tajam. Alisnya tebal dengan rambut disisir ke belakang. Yoji lahir pada 1950 dan membuat debut pertama kali di majalah komik mingguan, Action. Dia pernah meraih penghargaan The Yomiuri Shimbun International Theatre Grand Prix, Award of Excellence (1997), Media Arts Festival (2001), Agency for Cultural Affairs, dan Grand Prize of Manga Division.

Karya lain yang bernada muram dan sinis dipamerkan Xu Jin. Kartunis asal Cina kelahiran 1942 ini bekerja di Workers Daily, koran berbahasa Cina. Dia bertugas di koran itu sebagai editor khusus untuk bagian kartun. Sebagai editor senior, dia terpilih sebagai spesialis kartun oleh Guowuyuan, sebuah dewan seni milik pemerintah. Berkat karyanya yang sangat artistik dan berdesain unik, karyanya sangat populer di kalangan pembaca koran Cina. Sekarang dia menjadi wakil presiden lembaga The Chinese News Cartoon Research Institute dan anggota Komite Seni Asosiasi Seniman Cina.

Salah satu karyanya berteks “Knowing One’s Worth”. Kartun itu menggambarkan seorang laki-laki pencari kerja yang membayangkan upahnya merosot dari hari ke hari. Disusun seperti bingkai-bingkai dalam komik, komik pertama si lelaki membayangkan gajinya gede. Bayangan itu menyusut hingga hanya berupa dua potong roti dan ia pun terbungkuk lesu. Dalam teks yang disertakan, sang kartunis menyampaikan pesan bahwa harapan memperoleh gaji yang berlebihan bisa membuat orang terperosok dalam ilusi.

Karya yang menampilkan ironi dunia kerja akibat kemajuan teknologi dan terdepaknya generasi tua banyak dipamerkan kartunis asal Korea Lee Hong-woo. Sebuah kartun berteks “Farewell to the analog generation” menggambarkan seorang laki-laki berkacamata yang berjalan menunduk dengan air mata menetes. Di belakangnya, ada sebuah komputer dan laptop. Kartun lain berjudul Employment menggambarkan tiga sarjana yang menendang bola ke gawang yang tertutup oleh polesan bata dan hanya menyisakan celah sempit. Kartun ini menggambarkan sempitnya lapangan pekerjaan. Kartun berjudul Change of Players juga menggambarkan pahitnya dunia kerja. Di sebuah lapangan bola, seorang penjaga garis menyemprit pemain bernomor punggung 50, untuk digantikan pemain bernomor punggung 30. Maksudnya jelas bahwa pekerja usia 50 tahun ke atas cenderung akan disingkirkan dari perusahaan dan digantikan pekerja usia lebih muda.

Karya yang paling komunikatif dan relevan dengan kondisi keindonesiaan kini tentu kartun-kartun Jitet Koestana, kartunis asal Indonesia. Dengan pendekatan humor, Jitet merekam problem aktual ketenagakerjaan di Indonesia. Sebuah kartun berjudul Domestic Helper menggambarkan seorang bos yang sedang menerima lamaran seorang wanita pembantu rumah tangga. Di kepala si bos, terbayang semua pekerjaan pembantu itu dari mencuci, memasak, menyapu, dan memijat si bos. Ketika si bos membayangkan memerkosa babu, si pembantu pingsan.

Dalam kartun berjudul Nepotisme, Jitet menggambarkan betapa unsur hubungan keluarga berperan dalam rekrutmen. Sebuah keluarga dari kakek-nenek hingga cucu digambarkan sedang melahap sebuah kue bertulisan “Job” di atas meja. Ketika seseorang datang melamar pekerjaan, seorang satpam mengusirnya dengan mengatakan, “Sorry, vacancy no more.” Karya lain Jitet yang dipamerkan: Vacancy Observer, Self Respect, Double Position, Bribery, dan Secretary Candidacy.

Siapa Jitet? Lahir pada 1967, Jitet kini bekerja sebagai kartunis di tabloid Senior. Sebelumnya dia pernah bekerja untuk majalah Kartika dan Humor. Dia pernah berpameran di Jepang, Korea, Italia, Jerman, dan Belgia, serta memperoleh beberapa penghargaan. Karya-karya yang telah diterbitkan antara lain Gus Ndul, Al Ghazali, dan Revolusi.

Tema ketenagakerjaan sejumlah kartun yang dipamerkan The Japan Foundation itu adalah tema yang sedang menghangat di negara-negara Asia yang masih berjuang untuk bangkit dari krisis ekonomi pasca-1997. Pameran kartun ketujuh–lembaga ini menggelar pameran setiap tahun sejak 1995–bertujuan untuk memberikan sumbangan terhadap pemahaman yang lebih jauh tentang kondisi yang dihadapi masyarakat di berbagai negara Asia. Tercapaikah harapan itu? Anda para bos yang sehari-hari mengendarai mobil pribadi, sebaiknya menontonnya.

Hunger and poverty

8 comments on “MENGAGUMI JITET

  • sebuah kartun memang berpotensi menggeltik sekaligus mengkritik. Sayang, tak semua orang bisa menikmatinya lantaran tak kuat beli media yang memajang kartun tersebut…yang punya duit malah malas baca…yah…kartun lagi-lagi jadi onani…semoga tidak….

    salam kenal

    komik b4

  • @ komikb4: mm, gimana dengan manga (komik jepang) ato kartun benny&mice di Kompas? media manga mungkin tidak semurah koran, tapi yg ngoleksi ko banyak ya? bukan cuma anak2 lagi.
    kalo benny n mice, memberi kita sdkit gmbaran ato opini ttg suatu situasi sosial.. menggelitik dan juga memberi kita informasi ttg situasi itu.. mudah2an…(tapi emang iya). hehe

  • semua karya menurut saya tidak dapat dikatakan bagus ataupun jelek, dan menurut saya karya2 diatas sangatlah luar biasa. salam kenal dari saya

  • punya bakat memang membanggakan tapi kalau tak ada cara untuk menyalurkan dan mempublikasikan sama saja dong,ya emang sih karya tak harus orang lain tau,oh ya aku adalah penggemar jitet nih tapi ada yang tau situsnya ga ya

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: