Lomba Karikatur “Dinamika Pemilu 2009″ The Habibie Center menggelar lomba karikatur, dengan tema “Dinamika Pemilu 2009″. Lomba ini merupakan salah satu program The Habibie Center dalam upaya mendukung dan memotivasi masyarakat untuk memberikan kritik serta apresiasi terhadap dinamika politik di tanah . Lomba karikatur tersebut diharapkan dapat diikuti oleh karikaturis di seluruh Indonesia. Persyaratan lomba karikatur tersebut adalah : Karikatur dibuat berwarna atau hitam putih; ukuran 21 cm X 30 cm; peserta boleh mengikutkan lebih dari satu karikatur; karikatur yang diterima panitia tidak akan dikembalikan; dan karikatur pemenang menjadi milik pcnyelenggara (The Habibie Center). Isu yang diangkat antara lain : Money politics, kampanye pemilu caleg/capres, caleg artis, golput,perubahan perilaku s®sial, kinerja KPU, lembaga survei pemilu,dll. Peserta harus mencantumkan nama asli di balik karikatur alamat rumah dan no rekening Bank yang jelas. Karikatur dikirim ke The Habibie Center Jl. Kemang Selatan No.98 Jakarta Selatan 12560. Batas waktu penerima 15 Juni 2009 dengan mencantumkan di sudut atas amplop “Lomba Karikatur”. Juri lomba karikatur ini akan ditentukan oleh Direktur Komunikasi The Habibie Center. Pemenang akan mendapatkan hadiah, Juara Pertama : Rp.2.000.000,- ; Juara kedua: Rp. 1.000.000,-; Juara Ketiga Rp. 500.000,- dan dua pemenang harapan masing-masing Rp. 250.000. Selain hadiah berupa uang The Habibie Center juga memberikan piagam penghargaan pada masing-masing pemenang karikatur yang tidak memenangkan hadiah di atas, jika dimuat pada terbitan The Habibie Center akan mendapatkan imbalan Rp.100.000,- / karikatur berikut nomor bukti majalah. Karikatur yang terpilh akan di pamerkan di gedung The Habibie Center akhir Juni 2009. Informasi : Fauzi, Dewi Ratna Gedung THC Jalan Kemang Selatan 98 Jakarta Selatan, Tilp. 7817211 .
OMBUDSMAN NEWS, SEBUAH REINKARNASI
Ombudsman News boleh dikata reinkarnasi dari Majalah Ombudsman yang berhenti terbit, boleh juga ia kelanjutan impian dari majalah Law & Order yang juga hanya sekali terbit. Tapi ia menyimpan impian sahabat baik saya, Nurkomarudin.
Membuat ilustrasi dan karikatur untuk majalah ini, memberi warna baru dalam perjalanan kekartunan saya. Semoga tetap eksis!


10 TAHUN TABLOID TOENTAS
Tanggal 10 Oktober 2008 lalu, tabloid Toentas genap 10 tahun, artinya 10 tahun pula saya mengartun di sana. Sebuah perjalanan yang panjang dan luar biasa untuk sebuah tabloid kecil seperti Toentas. Ada banyak kesan mengartun di tabloid ini, karena saya banyak bertemu dengan teman-teman baik. Saya berkenalan dengan Pak Iskandar Sultoni, yang kemudian menjadi semacam saudara. Dan juga beberapa yang lain.
Selama sepuluh tahun kantornya pun beberapa kali pindah. Bermula dari Lenteng Agung hingga akhirnya di Mampang Indah II Depok.
Sebuah tabloid gado-gado dengan menjual berita dan sex pada mulanya. Namun kemudian bergeser menjadi tabloid berita. Memakai slogan yang ‘gagah berani’ : JANGAN GENTAR BICARA BENAR! Apakah isinya segagah slogannya? Silakan kunjungi www.toentas.com
MAJALAH ANAK BINTARO
“ANAK BINTARO”, adalah sebuah free magazine, majalah ini mencoba melengkapi majalah gratis yang beredar di kawasan Bintaro seperti KICAU BINTARO, METRO dan beberapa majalah komunitas Bintaro lainnya. Membidik pasar anak-anak, dengan rentang umur pra sekolah hingga kelas 3. saya, aru dan pak asrizal mencoba membangun kembali majalah ini yang dulu pernah terbit. sebelumnya majalah ini ada di sisipan Kicau Bintaro Tidak berharap banyak, tetapi kembali kiprah saya dalam dunia anak membuat saya nyaman.
Cover yang saya upload di sini adalah cover Anak Bintaro edisi perdana. Di majalah ini saya menulis rubrik Jendela yang berisikan pengetahuan populer yang mengangkat kisah Walt Disney, menggambar komik anak tentang seekor lebah yang rakus dan beberapa rubrik dan ilustrasi lain.
MENJADI REDPEL MAJALAH ANDAKA LAGI

Tiga tahun sudah saya meninggalkan majalah Andaka, sebuah majalah anak-anak setingkat sekolah dasar. Tiba-tiba pada hari Senin, 12 Mei 2008 yang lalu saya mendapat telepon untuk menjadi redpel kembali.
Antara senang dan tidak, senang karena saya bisa kembali menulis dan menggambar untuk anak-anak. Tidak karena waktu saya kembali tersita. Semoga saya memiliki kekuatan di tengah kesibukan.
Ketika aku berada di dunia yang tak terduga
Makna Sebuah Titipan
(WS Rendra)
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
KETIKA SAYA BERADA DI DUNIA YANG TAK TERDUGA
Tiba-tiba saya berada dunia yang tak terduga. Dunia kartun mengartun. Lebih dari seperempat abad saya di sana, dunia yang tak pernah saya mengerti mengapa saya ada di dalamnya.
Saya seorang guru matematika di SMP Negeri 212 Jakarta. Dua dunia yang kata orang saling berseberangan. Tetapi ternyata dua dunia yang berbeda ini justru memberi saya semacam katup penyelamat dalam kejenuhan. Tak semua orang memilikinya. Saya bangga, saya menikmatinya.
Perjalanan dunia kartun saya demikian panjang, terkadang melelahkan, terkadang penuh debar, terkadang penuh senyuman, terkadang pula tragis. Proses pembelajaran yang tak saya dapatkan di bangku sekolah, memperkaya pengalaman hidup saya, mungkin bisa menjadikan orang lain, terutama kartunis muda yang seringkali putus asa karena tersandung kegagalan dan kemudian terjerembab dan tak bangun lagi, sebagai semacam guru langsung, guru hidup, sehingga tak merasa apa yang telah dilakukannya tak dirasa sebagai sebuah kegagalan total.
Saya bukanlah seorang kartunis yang tumbuh dari latar belakang pendidikan seni rupa atau semacamnya. Saya belajar sendiri, dengan sedikit bakat, dengan semangat nekat.
Saya tak pernah merasa puas, apalagi merasa berada di puncak. Karena memang saya tak mungkin mendapatkan itu dengan modal pengetahuan yang saya miliki. Bukan kualitas karya yang ingin saya tularkan, tetapi semangat untuk bertahan dalam dunia mengartun. Banyak kartunis hebat dengan bakat alam yang luar biasa dan memiliki kesempatan pula untuk tumbuh kembang. Mereka bukanlah saingan saya, itu sebabnya saya senantiasa mencari pasar yang orang tak pernah meliriknya.
Saya ingat kata Darminto M Sudarmo, seorang pengamat kartun terkenal Indonesia, bagaimana saya tiba-tiba muncul di sebuah media kecil, tiba-tiba juga muncul di Kompas. “ Heran saya dengan Anda, blusak-blusuk (keluar masuk) kemana saja.” Apa yang dia katakan bukanlah semacam pujian bagi karya-karya saya, tetapi justru semacam pujian bagi semangat saya dalam dedikasi saya bagi dunia kartun.
Sungguh, saya akan senang jika saya bisa berbagi dengan orang lain. Ilmu sih tak seberapa, tetapi pengalaman panjang, semangat bertahan, dan mensiasati hidup, insyaallah itu saya miliki. Salam kartun!
kartunku
Aku ingin mengumpulkan kartun-kartunku sebagai sebuah catatan perjalanan panjang. Mungkin tidak menarik, mungkin jauh dari layak. Tapi semoga ada manfaatnya, bagi kartunis lain, paling tidak bagi diriku sendiri.


Groboganku
Tentang Tanah kelahiranku
Tanah kelahiran, betapapun pahitnya kehidupan masa silam, tetaplah ia sebuah kenyataan yang harus diterima sebagai bagian dari kehidupan kita. Sebuah kota yang memberikan banyak warna dalam kehidupanku
Toko Viva 1985
GROBOGAN, SEBUAH MOSAIK KEHIDUPANKU

Tanah kelahiran, betapapun pahitnya kehidupan, tanah kelahiran adalah kenangan yang indah bagi saya. Karena dari sanalah darah, daging, dan kehidupan saya berhulu. Ia boleh menjadi masa silam. Ia boleh saya pendam rapat-rapat dalam kekinian saya, namun dalam mimpi dan ketidaksadaran, ia senantiasa muncul dan memanggil saya untuk pulang kembali. Menghirup udaranya, menyusuri kepahitan dan keriangan kecil yang pernah saya alami.

Grobogan, sebuah kota kecil yang berdebu, adalah tanah kelahiran saya. Saya akan senantiasa teringat Kali Lusi yang menyusuri tepiannya. Waktu kecil dulu saya sering mandi di sana. Di musim kemarau airnya tinggal sedikit, sehingga membuat orang untuk menggali sumur-sumur kecil untuk diambil air beningnya. Kali Lusi dengan jembatannya yang waktu itu belum diperbaiki sehingga kita merasa ngeri jika melintasinya.

Saya teringat juga tentang kereta api yang waktu itu masih beroperasi. Saya sering naik di gerbong dengan kaki terjulur keluar. Atau juga tentang perjalanan saya setiap pagi berangkat ke sekolah waktu smp dengan naik sepeda.

SMP saya adalah SMP Negeri 1 Purwodadi yang terletak di Jl. Siswa. Akan saya ingat selalu siaran Radio Bhayangkara yang kakak saya menjadi penyiarnya yang mengalunkan lagu-lagu Koes Plus yang mengiringi saya bersepeda berangkat sekolah. Jalanan berdebu, siang terasa terik, namun malam hari menjadi dingin adalah ciri khas Grobogan waktu itu. Kehidupan boleh dibilang statis, karena kota ini adalah sebuah kota yang sungguh amat sangat tidak strategis.

Purwodadi 1985
Maka boleh dibilang tingkat perekonomiannya sangat pas-pasan. Ayah saya adalah seorang guru. Saya ingat betapa beratnya kehidupan pada waktu itu. Jika seorang pegawai negeri saja kehidupannya berat, bayangkan yang terjadi pada masyarakat biasa? Grobogan dikenal sebagai daerah tandus, kehidupan pertaniannya juga tergantung kepada curah hujan. Sungguh sebuah kota yang tak menjanjikan apa-apa.

Kabupaten
Mengenang SMP Negeri I Purwodadi, maka terlintas banyak nama, ada Pak Sulaeman, kepada sekolah di sana. Ada Pak Edi Rapun, guru PPKN, Pak Yanto, guru aljabar, ada Bu Iriyanti, wali kelas saya, ada Totok, ada Bambang, ada Sinar ( sampai sekarang saya senang dengan nama lengkapnya: Sinar Retnaningwati), ada Edy, ada Asih, entah, entah siapa lagi….
Masa SMA saya berjalan dengan begitu sederhana. SMA saya adalah SMA Negeri 2 Purwodadi yang sekarang berubah menjadi SMA Negeri I Grobogan. Seperti layaknya semua orang, masa remaja adalah masa yang paling indah, karena di sana ada cinta pertama, ada semangat muda yang menggebu, ada kekaguman akan seseorang, sekaligus ada putus cinta. Di sana pula ada persahabatan.
Saya punya seorang teman SMA yang bernama Rochmulyati. Entah di mana dia sekarang. Namun dengannya saya banyak berbincang tentang banyak hal. Dari musik hingga yang lain.


Saya juga punya seorang teman baik yang bernama Sudargo, seorang pecinta berat Oma Irama. Ada juga Betty, anak IPS yang enak untuk diajak berbincang, ada juga teman-teman satu geng, Yono, Mugi, dan beberapa yang saya lupa namanya. Mereka adalah orang-orang yang mengisi kehidupan keremajaan saya di tanah kelahiran. Di mana mereka sekarang? Kini, di masa tua.


Setiap kali saya pulang kampung, saya senantiasa mencoba untuk menyusuri masa silam saya. Kecap cap Udang adalah symbol masa silam, nasi pecel, tahu petis, nasi pindang, dan beberapa makanan lain masih tetap bertahan hingga kini, dan saya selalu menikmatinya dengan perlahan-lahan, seolah-olah saya kembali terseret ke masa silam. Kehidupan sudah banyak berubah, bioskop Kencana sudah lama tutup. Pohon beringin di sudut alun-alun sudah tidak ada lagi, stasiun kereta api sudah tinggal kenangan, yang tersisa cuma rel-rel yang terpendam oleh aspal. Pusat keramaian sudah pindah ke arah simpang lima, radio RSPD sudah kalah dengan radio swasta yang lain, masa silam terkubur oleh peradaban. Tapi masih ada tetap bertahan, siang panas dengan debunya, dan kecintaan saya akan tanah kelahiran. Juga umpatan khas Purwodadi yang tak pernah saya dengar ketika saya di Jakarta keluar dari mulut kenek bis di terminal. Saya tersenyum sendiri…

Setiap saya pulang kampung, saya senantiasa ingin memunguti kehidupan masa silam yang tercerai berai dan ingin menyusunnya menjadi sebuah mosaik yang bisa menjadikan sebuah cermin bagi saya dan anak-anak saya. Karena ia masa lalu saya, karena sebagian besar kehidupan saya ada besertanya. Masa kecil, entah bagaimana saya menyebutnya, apakah saya bahagia atau sebaliknya. Tapi penggalan-penggalan kenangan itu tiba-tiba menjadi indah saat saya menjadi tua. Kepingan-kepingan itu sungguh membuat saya kangen. Ketika saya memposting tulisan ini, tiba-tiba sebuah lagu lama dari Koes Plus menyeruak perlahan
tiba-tiba kumenangis
sedih hatiku sedih
mengapa kubegini
ku tiada pernah mengerti
pergi mengapa pergi

BERTAHAN HIDUP DENGAN KARTUN
Apa kabar kartunis Indonesia? Senang anda mampir di blog saya. Saya mungkin kartunis tua yang masih aktif di Indonesia. Bertahan dengan hidup sebagai kartunis sudah 27 tahun. Banyak hal yang saya dapatkan dari dunia kartun yang tidak saya peroleh jika saya tak terjun ke sana. Secara materi mungkin tak seberapa. Tapi saya senang dan menikmati sebagai katup penyelamat dalam kejenuhan hidup dan bekerja sebagai guru. Senang bisa banyak berbagi dengan teman-teman kartunis lainnya. terutama kartunis muda yang mungkin ingin mendengar cerita tentang dunia kartun, atau justru menjadi guru bagi saya dalam menekuni dunia kartun.
Dunia kartun mengartun sebenarnya dunia yang menjanjikan jika kita mau menekuninya secara sungguh-sungguh. Banyak teman-teman kartunis (bahkan saya sendiri pada mulanya) mengira dunia kartun itu berhenti pada kartun kita hanya dimuat di media, mendapat honor, selesai. Atau paling banter menjadi karikaturis tetap di sebuah media. Dalam perjalanan kekartunan saya, ternyata saya mendapat kesimpulan bahwa anggapan saya tersebut salah besar. Mengandalkan kartun kita dimuat di media tidaklah banyak menjanjikan. Keberadaan media yang memuat kartun lepas bisa dihitung dengan jari, selain itu honorarium yang kita terima sungguh membuat kita sesak dada. Belum lagi persaingan antar kartunis yang bukan main kerasnya, itu semua memaksa kita untuk mensiasati pasar. Bagaimana caranya? Ada banyak wilayah yang bisa kita jangkau dengan kartun. Ikut lomba kartun internasional misalnya. Dari hasil browsing saya di dunia maya, event lomba kartun internasional paling banyak di antara event lomba lain.
Ngomongin lomba kartun internasional, kartunis Indonesia Jitet Koestana merupakan kartunis Indonesia yang paling rajin mengikuti event internasional, dan juga memenangkan berbagai penghargaan. (baca halaman Artikel Kartun). Tetapi untuk mencapai hal tersebut perlu kerja keras karena pesaingnya ratusan kartunis dunia. Ongkos perangkonya pun cukup menguras kantong. Tapi coba pula ikuti yang lewat internet, lumayan ngirit.
Dunia lain yang bisa kita rambah adalah dunia buku anak. Banyak sekali ilustrator buku untuk anak berangkat dari kartunis. Di negara kita ini buku cerita anak produksi lokal sangatlah jarang. Kalaupun ada kualitasnya kurang layak. Kita harus menjawab tantangan tersebut. Sanggupkah kita? Jawabannya tergantung dari kita. Kalau kita mau belajar banyak hal, pasti sanggup. Saya pernah ngobrol tentang Jitet dengan Mas Darminto. Mas Dar bilang mengapa Jitet kartunnya kuat karakternya? Jawabannya adalah karena Jitet belajar filsafat. Obrolan itu mengilhami saya tentang sebuah usaha dalam mencapai sesuatu. Sebuah kesuksesan tak akan kita raìh tanpa kerja keras. Kerja keras tak akan ada artinya jika kita tak ada ilmu yang mendasarinya
Lain kali saya teruskan tulisan ini…
Salam kartun!











